Rabu, 09 Januari 2019

Anak Raja dan Batu Amparang Gading

Anak Raja dan Batu Amparang Gading adalah cerita dari Bengkulu, ingin tahu bagaimana cerita ini, yuk kita baca dongeng cerita rakyat dibawah ini.

Bengkulu
http://en.wikipedia.org/wiki/Fort_Marlborough

Cerita Rakyat Bengkulu

Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja di Bengkulu ia bernama Raja Muda dan permaisurinya bernama Putri Gani. Dalam pemerintahannya beliau sangat di taati oleh seluruh rakyat karena memiliki sifat yang baik dan terpuji. Raja muda memiliki seorang anak putra yang sangat tampan dan seorang putri yang cantik jelita. Kedua anak raja itu masih kecil . Kehidupan rumah tangga mereka sangat bahagia. Halaman istnana pun sangat luas dan dipenuhi dengan berbagai tanaman bunga yang tertata rapi . Halaman depan terdapat sebuah batu besar yang datar permukaanya, berwarna kuning gading sehingga batu itu dinamakan “Batu Amparan Gading”.

Suatu sore hari sang Raja Muda beserta permaisurinya dan anak-anaknya sedang bersantai sambil bercengkarama di atas Batu Amparan Gading itu. Tetapi dalam kehidupanya rumahtangga  yang bahagia antara Raja Muda dan Putri Gani tidak berlangsung lama. Raja mendapat cobaan yang sangat berat.Istri tercinta, Putri Gani meninggal dunia karena sakit. Rasa sedih dan pilu hati Raja Muda semakin mendalam melihat kedua anaknya yang masih kecil. Tiada lagi belaian kasih sayang dari seorang ibu tercinta.

Hari ke hari ahirnya Raja Muda beristri lagi. Ia menikah dengan seorang putri Raja Hulu Sungai. Raja bermaksud agar anaknya memiliki seorang ibu, walaupun hanya Ibu tiri. Pada awal pernikahan istri Raja Muda yang baru sangat baik kepada kedua anak tirinya. Kedua anak Raja Muda mulanya juga merasa senang memiliki ibu yang baru walaupun hanya ibu tiri. Kedua anak berharap semoga dengan ibu yang baru bisa menggantikan kasih sayang terhadap ibunya. Akantetapi , suasana ceria yang dirasakan kedua anak kecil itu tidak berlangsung lama. Segala perilaku mereka lama-lama tidak di senangi oleh Ibu tiri. Ibu tiri mereka sering marah-marah . Apa yang di lakukan anak istrinya selalu saja salah.

Apabila sang Raja Muda tidak ada di istana, maka kesempatan itu di jadikan sang istri untuk menyiksa anak tirinya. Ia sering membentak-bentak walaupun mereka tidak bersalah. Mereka juga pernah hanya diberi makan satu kali dalam sehari. Kasih sayang yang mereka harapkan tidak dapat mereka rasakan lagi. Bergurau di atas Batu Ampara Gading pun tidak pernah di lakukanlagi . Apalagi sang Raja Muda sering keluar istana.

Pada suatu hari, ibu tiri dan sang ayah mereka sedang keluar istana. Kakak dan adik belum di beri sarapan oleh sang ibu tiri, lalu mereka pergi ke halaman dan bermain di atas batu Amparang Gading. Sejenenak bermain , perut mereka terasa lapar ,mereka ingin makan .Tetapi tidak ada makanan yang di simpan ibu tirinya di dalam lemari makanan. Sangkakak pun bingung . Akhirnya,   kakak pun keluar mencari mainan dan juga makanan buat sang adik.Sambil membawa seruas bumbung Sang kakak pergi ketempat orang yang sedang menumbuk padi.

“Ibu bolehkah saya meminta melukut sedikit buat makan ayam saya?”Tanya sang kakak.

“Boleh nak silahkan ambil!” Kata sang Ibu.

Anak itu mengambil melukat dan di masukan kedalam bumbung yang di bawa tadi. Setelah itu ia juga melihat bunga dadap yang berguguran di tanah . Ia pun mengambil bunga itu untuk mainan adiknya dan Ia pun kembali ketempat adiknya bermain. Kakak beradik pun melanjutkan bermainnya lagi. Sementaraitu sang adik sedang bermain ,ibu tiri mereka pulang dan mendekat. Terlihat bekas permainan mereka yang berserakan di atas Batu Amparang Gading. Ia meliaha tremah remah bekas makanan di antara bekas makanan tersebut .Sang Ibu tiri pun beranggapan bahwa kedua anak itu telah mencuri makanan. Langsung saja ibu tiri itu marah sekali lalu mencaci maki kedua anak habis-habisan dan di pukulnya.

Badan mereka pun  terasa sakit dan letih. Meliha tibu tirinya sedang marah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ayahnya tidak tau bila kedua anak mendapat siksaan dari sang ibu. Ahirnya, kedua anak itu tertidur di Batu Amparang Gading. Bebebrapa saat kemudian sang kakak pun terbangun dari tidurnya,sedih hatinya merasakan nasib yang malang itu. Ia berharap agar penderitaanya dapat segera berakhir. Dengan mata berlinang ia meratap sedih. Mengharapkan ada seseorang yang mau menolongnya. Penyiksaan yang terus menerus tanpa mengenal rasa kasihan membuat anak itu ingin pergi jauh dari istana.

“Inilah jalan satu-satunya untuk menghindar dari penyiksaan ibu tiriku, yaitu dengan pergi sejauh-jauhnya,”kata kakak kepada adik.

“Kakak..,kita harus pergi kemana?”Tanya adiknya.

“Aku tak tahu juga adikku” Ujar kakaknya. Dengan air mata berlinang-linang ia meratap sedih sambil mengucap kata-kata.

“Entak-entak bumbung seraus, meninggilah Batu Amparang Gading, Mak dan Bapak burukmakan,kamihendakpulangkepintulangit,puarnasi di sangkanasi ,bunga dadap di sangka udang ,sisik berkarung di sangkaikan,kami di tuduh maling makan”

Tiba-tiba Batu Amparang Gading yang didudukinya tinggi. Dengan penuh keheranan ,Batu Amparang bertambah tinggi dan tinggi. Sementara itu, raja muda kembali dari perjalanan. Melihat Batu Amparang Gading di halaman istana meninggi, Raja Muda menjadi heran dan terkejut. Dilihatnya Batu Amparang Gading semakin meninggi. Raja Muda sangat kebingungan. Apalagi kedua anaknya duduk di atas Batu Amparang Gading tersebut. Raja Muda segera menemui sang istri dan menanyakan apa yang terjadi pada kedua anaknya sehingga batu bisa meninggi. Istriya menggelengkan kepalannya pertanda tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Raja muda sangat cemas jika anaknya jatuh dari tempat itu. Ia pun memanggil orang pintar untuk membantu agar kedua anaknya bisa selamat dari tempat tersebut. Namun hal itu tidak bisa membuahkan hasil. Ahirnya mereka pasrah dan sambil menyaksikan Batu Amparang Gading yang semakin meninggi. Semakin lama, usia Raja Muda semakin bertambah tua. Tubuhnya seringsakit-sakitan sehingga badannya kurus sekali. Istrinya pun bertambah tua juga, apalagi mereka tidak di karuniai sebuah anak. Kehidupan Raja Muda dan Istrinya terasa hampa. Melihat kejadian tersebut maka Raja Muda sangat sedih dan terpukul batinnya dan menderita sakit keras. Tak beberapa lama Raja itu pun meninggal dunia. Sementara ibu tiri kedua anak itu pun menyesal telah berlaku kejam dengan anak tirinya. Ia merasa tersiksa oleh hati nuraninya sendiri. Ibu tiri itu pun menderita sakit parah dan akhirnya meninggal dunia menyusul sang suami.

Selasa, 08 Januari 2019

Dongeng Bahasa Sunda Si Kabayan

Dongeng Bahasa Sunda Kabayan merupakan dongeng dari daerah Jawa Barat, cerita ini sangat terkenal di Tanah Air. Yuk kita baca dongeng selengkapnya dibawah ini.

Si Kabayan
http://andikapd.deviantart.com/art/kabayan-141576116

Dongeng Bahasa Sunda Kabayan

Isuk-isuk Si Abah, mitoha Si Kabayan Geus gogorowokan nyalukan si kabayan anu masih keneh Ngajoprak di tengah Imah lantaran sabab peuting tas nonton wayang golek di tatangga sabeulah.

Abah : Kabayan.......... Kabayan,, Geura hudang Maneh teh ngan Molor wae.

Kabayan : Aduh eta si Borokokok teh sigana mabok Golek tah peuting tadi.

Kusabab Gandeng antukna Si Kabayan Hudang, Tuluy nyamperkeun si Abah bari gigisik.

Kabayan : Aya naon Bah Gogorowokan wae, masih tunuh keneh yeuh.

Abah      : Tuh Si Ambu hayang pais lauk cenah, matakan ngahudangkeun maneh oge urang ngala lauk ka wahangan, anteur abah. tuh sakalian bawa usep di pipir.
Si Abah Ngaleos bari mawa useup tiheula muru ka wahangan,

Atuh kapaksa Si kabayan nuturkeun si abah, teu poho manehna nyokot useup di pipir bari mawa bekel kabeneran aya wajit 2 siki sesa peuting,
Datang ka wahangan katinggali Si Abah keur ngadeluk bari mencrong kana useup, tayohna bisi aya nu nyangut teu ka angkat.

Kabayan : Kumaha bah, geus meunang lauk teh?

Abah       : Acan kabayan, titadi can aya nu nyangut

Kabayan  : Sigana Tunuheun keneh bah laukna isuk keneh kieu mah

Teu kungsi lila, katingali Si Abah memedol useupna bari klikicid ka hilir kilicid ka girang.

Kabayan  : kunaon bah, ngan ejegeler wae?

Abah        : Jadol teh...... Sugan teh di sangut lauk padahal tikait.. cih kabayan Tunuran kaitu

Kabayan   : Ah Sangeuk bah, tiris..

Abah       : Buru siateh..

Si Abah bari nyurungkeun si kabayan, atuh daek teu daek si kabayan ngagujubar kana wahangan, lep teuleum bari rarampa ngomekeun useup si abah anu tikait.
Teu kungsi lila si kabayan geus mucunghul bari guyam gayem manehna ngomong,

Kabayan  : beres bah di omekun

Abah       : Alus kabayan eta kakarek minantu abah anu bageur..

Ari maneh ngadaang naon eta kabayan?, Si Abah cara nu heran.

Kabayan : Yeeeeehhh Si Abah teu nyahoeun, tadi uing keur ngomekeun useup abah, pan tadi teh teuleum.. tah di jero cai aya nu hajat, matakan uing ngadaang wajit.

Abah      : Bener eta teh kabayan?

Kabayan : Bener atuh bah... tah buktina

Sikabayan ngodok pesak bari nembongkeun wajit anu tinggal hiji deui.

Abah       : Wah kudu di riksakeun atuh, sugan we kuehna aya keneh.

Si Abah luncat kana wahangan lep teuleum, Teu kungsi lila Si Abah mucunghul deui, katingali tarangna ngajenol, biwirna jeding.

Kabayan  : Ari eta kunaon bah

Abah       : Puguh tadi di jero cai teh, abah di cegat begal nu antukna tarang abah ngajendol jeung biwir jebleh oge,  Hayu ah kabayan urang balik.

Si Abah ngaleos balik, teu nungguan si kabayan ngajawab.

Kabayan  : yeeh si abah, pan can meunang bah laukna oge?

Si kabayan antukna nuturkeun Si Abah balik ka lembur, bari hatena Seuri sorangan, ningali kalakuan si abah, pajar teh di jero cai di cegat begal, padahal mah si kabayan apal Si Abah pasti tidagor kana batu waktu tadi ngajebur teuleum.

Senin, 07 Januari 2019

Dongeng Sultan Domas dan Tongkat Sakti

Sultan Domas dan Tongkat Sakti merupakan dongeng rakyat dari daerah Lampung, ingin tahu seperti apa kisah nya?. Yuk kita baca dongeng rakyat dibawah ini.

Sultan Domas dan Tongkat Sakti
http://medievaldepot.com

Sultan Domas dan Tongkat Sakti

Dahulu kala di daerah Lampung terdapat sebuah desa yang bernama Sukadana.Kampung tersebut terletak di pinggir sungai yang mengalir ke laut .Pada waktu itu rumah penduduk masih jarang sekali .Mata pencarian kesetiap harinya penduduk itu berladang dan berkebun.Di kampung itu hiduplah seorang remaja ia bernama Domas. Kedua orang tua Domas sudah meninggal  hanya bisa meninggalkan warisan  sebidang tanah dan rumah gubug yang di tempatinya.Ia tidak memiliki saudara sehingga tidak ada yang memperhatikan kehidupanya.Kehidupan Domaspun bisa terbilang miskin.Sebenarnya Domas adalah anak yang rajin ia mampu menghidupi dirinya sendiri.Tiap hari kerjaanya hanya memancing ikan di sungai.Terkadang ia juga mencari kayu bakar untuk di jual biarpun kesulitan hidup ia tak pernah mengeluh sama sekali terhadap kehidupanya.Ia tetap tabah menjalani hidup.Ia ingin suatu saat bisa merubah hidupnya yang sangsat pas-pasan itu.

Domas merupakan anak yang baik hati .Di kampung ia terkenal sebagai pemuda alim ,pendiam dan tidak pernah berbuat kejahatan .Biarpun Domas masih berbuat baik kepada temannya masih saja teman-temannya suka usil padanya.Tetapi Domas  tidak pernah membalasnya dengan kejahatan pula .Ia justru malah membalas dengan kebaikan.

Pada suatu hari ,ketika Domas pulang dari mencari kayu bakar di hutan,ia melihat rumahnya di bakar oleh orang tak di kenal.Perasaan Domas sangat sedih sekal melihat itu semua.Rumah yang di miliki satu-satunya yang ia tempati itu ludes terbakar.Ia merenungi nasibnya yang malang.Dalam hatinya bertanya punya salah apa sampai-sampai rumahnya di bakar habis.Untuk sementara sebagai tempat berteduh , Domas mengambil daun alang-alang untuk atapnya.Ahirnya dengan susah payahnya ia bisa mendirikan gubug kecil-kecilan sebagai tempat tinggalnya.Sementara teman-temannya yang berbuat jahat pada Domas melihat keadaan Domas yang demikian merasa senang.Teman-temanya sudah tidak menginginkan Domas hidup di kampung itu.Karena bagi mereka Domas merupakan satu-satunya orang yang suka melarang kegemaranya .Bila mereka ingin minum-minuman keras,beradu ayam maka Domas menasehatinya.Hal itulah yang membuat mereka benci kepada Domas.Memang di kampung itu penduduknya gemar minum-minuman keras dan beradu ayam.


Hari sudah malam,ketika itu Domas sedang tidur dan  bermimpi dalam tidurnya.Ia bermimpi bertemu dengan seorang kakek tua berjenggot putih.Kakek itu berkata kepada Domas.

“Anak muda pergilah ke arah selatan.Jika kamu bertemu sebuah sungai besar yang banyak di kelilingi pohon besar ,menetaplah di sana.Bukalah ladang di sana untuk di tanami sayur dan buah-buahan sebagai bekal sehari-hari.”

Setelah bangun Domas tidak begitu memperdulikan mimpi itu.Ia menganggap mimpi hanyalah hiasan biasa.Pada malam berikutnya, Domas bermimpi sama seperti malam sebelumnya.Tetapi domas masih belum pingin pindah dari kampong halaman.Biarpun penduduknya yang sangat  membecinya ,Ia masih betah tinggal di kampungnya dan sangat berat untuk meninggalkanya.

Pada malam ketiga mimpi itu muncul kembali persis seperti malam pertama dan kedua.Ahirnya keesokan harinya ,Ia segera berkemas-kemas untuk  meninggalkan kampong halaman yang sangat di cintai dan di sayangi .Tetapi sebelum meninggalkan kampung tersebut Domas mengajak para penduduk untuk segera meninggalkan kampung tersebut.Karena akan ada bencana besar.Tetapi,ajakan Domas di tolak mentah-mentah ,bahkan mereka senang bila Domas sudah tidak ada si kampung itu.Demikian pun masih ada penduduk yang tidak percaya akan mimpi si Domas .Hanya tiga orang saja yang mau mengikuti ajakan si Domas.

Domas beserta ketiga temannya ahirnya berangkat meninggalkan kampung halaman.Setelah seharian berjalan , Domas dan ketiga teman-temannya istirahat di sebuah kampung dan menginap di rumah penduduk.Ketika Domas dan ketiga temannya duduk santai di luar rumah,mereka melihat ada kilat menyambar-nyambar di atas kampung halamanya .Suara hujan dan angin terdengar gemuruh ,biarpun kampung itu letaknya sangat jauh dengan kampung tempat Domas tinggal.Tetapi memang benar jika kampung yang di tinggalkan Domas sedang di landa bencana .Hujan dan angin puting beliung dalam sekejap menghancurkan kampung itu.Sehingga tidak ada warga yang selamat dari amukan bencana tersebut.Dalam sekejap mata kampung Sukadana sudah rata dengan tanah.Mungkin Tuhan telah menghukum penduduk tersebut yang sudah melampui batas.

Segera Domas dan ketiga temannya melanjutkan perjalanan setelah semalam beristirahat.Mereka melalui berbagai kampung ,masuk hutan keluar hutan ,ahirnya sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat .Di hutan itu ada sebuah sungai besar yang berair jernih.Di tempat inilah yang di tuju Domas beserta ketiga temannya .Hal ini sesuai pesan kakek tua yang ada dalam mimpi.Domas dan ketiga temannya lalu memilih tempat yang sesuai untuk tempat tinggalnya.Mereka segera saja mencari kayu untuk membuat pondok di tepi sungai.setelah membangun pondok ,mereka menebang pohon untuk membuka ladang dan kebun. Domas dan ketiga temannya sangat senang dan merasa senang tinggal di situ ,apalagi ikan-ikan di sungai cukup mudah di dapat.

Domas sangat rajin berladang dan berkebun begitu juga dengan teman-teman nya.Selain berladang dan berkebun ,Domas sering bertapa di tepi sungai atau di dalam gua.Pada suatu malam ketika Domas sedang bertapa Ia mendapat wangsit .Ia di beri ilmu kesaktian dan tongkat kayu berbentuk ular.Ia sangat bersyukur kepada tuhan atas keberhasilanya.Karena perkembangan zaman lama kelamaan banyak orang yang menetap di hutan itu dan ahirnya menjadi sebuah kampung.Dan mereka menetapkan Domas sebagai pemimpin mereka.Dan masyarakat itu menambah namanya menjadi Sultan Domas.

Ilmu kesaktian  Sultan Domas semakin hari semakin meningkat. Sultan Domas tidak memakai kesaktianya dengan niat jahat tetapi di gunakan untuk kebaikann.Pernah suatu hari ada harimau sedang mengamuk di kampung.Tetapi berkat kesaktian Sultan Domas maka harimau tersebut dapat di tundukanya.Biarpun begitu tidak semua oranng menerima pertolongan itu dengan ihlas.Banyak di antara mereka masih saja ada orang yang memiliki rasa iri hati dan nafsu serakah.Maka mereka mempunya niat jahat kepada Sultan Domas untuk memilikki tongkat sakti milik Sultan Domas.Pada suatu hari Sultan Domas pergi mencari ikan keadaan rumah tiada penghuninya maka kesempatan itu di manfaatkan si penjahat untuk masuk,dan mencuri tongkat sakti milik Sultan Domas.

Setelah berhasil mendapatkan semuanya mereka membawa pergi dan membakar rumah Sultan Domas.Tetapi aneh setiap menyalakan korek api untuk membakar tidak bisa menyala.Ahirnya mereka membatalkan niatnya tersebut.Tiba-tiba tongkat tersebut berubah menjadi seekor ular besar  .penjahat tersebut pun kaget dan tidak bisa lari kemana-mana hanya berdiam di tempat tidak bisa berteriak mulutnua serasa terkunci.Setelah itu Sultan Domas pulang dari mencari ikan.Ia terkejut melihat para penjahat tersebut.Tetapi setelah di tegur ular tersebut mereka bisa bicara kembali dan mengaku semua kesalahannya sambil meminta maaf kepada Sultan Domas.Dan hari ke haripun dengan di pimpinnya Sultan Domas ,kehidupan rakyatnya menjadi makmur .Tidak pernah mengalami kesulitan makanan dengan hasil tanaman yang melimpah.Maka rakyatnya sangat terhormat dan patuh pada Sultan Domas .Ahirnya,perilaku dari kepemimpinan Sultan Domas itu di tirukan banyak masyarakat sekitar.

Jumat, 04 Januari 2019

Kisah Saudagar Kaya dan Istri Setia

Kisah Saudagar Kaya dan Istri Setia adalah cerita rakyat yang terjadi di pesisir Kalimantan Barat, yaitu tentang seorang saudagar kaya yang memiliki 4 orang istri. Yuk kita simak cerita dibawah ini.
Kisah Saudagar Kaya dan Istri Setia

Saudagar Kaya dan Istri Setia

Ada seorang saudagar kaya raya yang mempunyai empat orang istri, saudagar itu bernama Borong. Ia terkenal orang yang mempunyai hati yang tulus dalam membantu sesama, ketika ada yang meminta bantuan darinya, ia langsung membantu secara ikhlas, singga masyarakat sekitar sangat menyukai saudara ini, ia juga tidak sombong dan angkuh.

Pada suatu hari saudagar Bodong ingin berlayar ke negeri seberang untuk berbisnis, sebelum ia berangkat ia bertanya kepada ke empat istrinya, oleh-oleh apa yang mereka inginkan. Istri pertama ingin dibelikan emas, istri kedua ingin belikan liontin berlian, istri ketiga ingin kain sutra yang banyak, dan istri keempat tidak meminta dibelikan apa-apa, ia hanya meminta dibelikan akal sehat, saudagar Bodong termenung dan bingung dengan permintaan istri keempatnya, sungguh permintaan aneh yang tidak masuk akal. Dengan bijaksana saudagar Bodong hanya diam yang berarti setuju. Sampai tibalah saudagar Bodong berangkat berlayar.

Setelah beberapa bulan berlayar, Ia pun berniat kembali ke Kalimantan Barat. Namun keajaiban telah terjadi ketika setiap ia akan kembali ke Kalimantan Barat, kapalnya pun diguncang oleh angin ribut yang kencang. Ia pun tak habis fikir, tiba-tiba ia teringat pesan istri keempatnya yang ia duga memiliki kekuatan ghaib. Setelah merenungi semuanya, akhirnya saudagar Borong tidak jadi kembali ke Kalimantan Barat sebelum ia mendapatkan jawaban pesanan istri keempatnya. Hingga dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang anak laki-laki di tepi pantai, kemudian saudagar bodong menceritakan apa yang sedang membuatnya tanda tanya, dan anak itu mengantarkan saudagar Borong ke suatu tempat untuk mendapat jawaban itu.

Rupanya anak itu menyarankan saudagar Borong untuk bertemu dengan kakek bijak, namun tidak mudah untuk menemui beliau, jika memang berjodoh pasti akan bertemu dengan kakek bijak itu. Lalu anak itu menceritakan ciri-ciri kakek bijak itu kepada saudagar Borong. Setelah itu saudagar Borong memberi uang kepada anak kecil itu sebagai tanda terima kasih karena sudah dijelaskan semuanya tentang kakek bijak itu. Setelah berhari-hari suadagar Borong memutari sekitar pantai, namun belum juga bertemu dengan kakej bijak itu, dan setiap dia bertemu dengan nelayan, pasti ia memberi sedekah, begitu terus seriap harinya, hingga pada suatu saat uang sakunya telah habis, namun saudagar Borong tidak khawatir, karena di dalam kapal masih banyak simpanan uang dan barang-barang berharga lainnya milik saudagar Borong.

Hari demi hari dilalui, setiap pagi hari saudagar Borong tidak menyerah untuk mengitari pantai, hingga secara tiba-tiba pandangan tertuju pada seorang kakek tua memakai jubah putih yang duduk diatas batu tepi pantai. Saudagar Borong mengahampiri kakek itu, kemudian ia memperkalkan diri kepada kakek itu. Pelan-pelan saudagar Borong menceritakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya sejak ia berangkat berlayar. Kakek bijak itu diam mendengarkan cerita saudagar Borong, dengan nada yang santun kakek bijak itu memberi nasehat kepada saudagar Borong, agar ia memilih satu orang istri yang setia, yaitu dengan cara ia pulang dengan memakai pakaian compang camping, kemudian ia berpura-pura menjadi miskin karena kapal yang ia gunakan berlayar telah tenggelam dan semua harta yang ada didalamnya hanyut ke dasar laut. Setelah menerima nasihat itu saudagar Borong pulang namun kapal yang ia gunakan untuk berlayar tidak menepi melainkan di tengah laut dan saudagar Borong menepi dengan cara menggunakan perahu.

Sesampainya di Kalimantan Barat, dengan pakaian compang camping saudagar Borong menemui istri pertamanya, melihat kondisinya seperti itu, istri pertamanya membentak-bentaj dan mengusir dia. Saudagar Borong melanjutkan menemui istri keduanya, namun nasib sama di alami saudagar Borong, ia dimaki-maki dan di usir dari rumah, begitu pula dengan istri ketiga, ia pin tetap di usir. Akhirnya saudagar Borong menemui istri keempatnya, melihat keadaan saudagar Borong basah kuyup dengan pakain compang camping, istri keempat ini segera menyuruhya masuk dan membawa air panas untuk suaminya, lalu menyediakan seperangkat pakaian untuk ganti baju, dengan tasa cinta dan kasih sayang, istri keempat ini merawat saudagar Borong, ia tidak peduli dengan kondisi saudagar Borong sekarang ini, baginya suadagar Borong kembali dengan selamat itu sudah cukup.

Dengan melaksanakan nasihat kakek bijak itu akhirnya saudagar Borong tahu istri mana yang setia kepadanya. keesokan harinya ketiga istri yang tidak setia itu diceraikan oleh saudagar Borong dan akhirnya ia hidup bahagia dengan istri keempatnya. Ketiga istrinya itu pun akhirnya menyesal karena sudah tidak setia kepada saudagar Borong, namun penyesalan sudah tidak berarti lagi.

Pesan Moral Seorang Saudagar Kaya dan Istri Setia

"Jangan mencintai seseorang hanya karena harta, karena suatu saat kamu akan berpisah dengan orang itu karena harta, cintailah dengan hati karena itu akan lebih abadi hingga hari tua nanti."

Kamis, 03 Januari 2019

Legenda Naga Baru Klinting

Cerita Legenda Naga Baru Klinting adalah asal mu asal dari Rawa Pening, cerita ini sangat terkenal di daerah Jawa Tengah. Yuk kita simak cerita legenda dibawah ini.

Naga Baru Klinting
http://all-about-madiun.blogspot.com

Naga Baru Klinting

Ada sebuah kejadian yang membuat heboh orang-orang di Demang Mangiran. Alkisah ada seorang gadis yang tidak pernah menikah dengan seorang laki-laki. Namun, dia hamil dan anehnya ia melahirkan seekor ular sebesar lengan manusia dewasa ketika usia kandungannya menginjak 9 bulan 10 hari. Wanita itu ialah putri Ki Demang Taliwangsa.

Dengan adanya kejadian itu, Ki Demang Taliwangsa pun merasa malu karena mempunyai anak yang melahirkan seekor ular. Lalu ia menyuruh putrinya agar membuang anak yang berwujud ular.

“Putriku, maafkanlah ayah. Sebenarnya ayah juga tidak tega menyuruhmu untuk membuang anakmu uang berwujud ular itu. Namun bagaimana pun kamu harus melakukannya. Terus terang, ayah merasa malu dengan penduduk di Kademangan ini.”

“Baiklah, kalau itu memang kemauan ayah. Aku mengerti,” ujar wanita itu memahami kegelisahan ayahnya. Namun sungguh ajaib karena ular itu dapat berbicara seperti manusia. Anak itu merasa sedih ketika mengetahui akan dibuang oleh ibunya. “Mengapa ibu hendak membuangku?. Apa ibu tidak sayang kepadaku?. “tanya ular itu pada ibunya. Namun ketika mendengar perkataan anaknya, akhirnya wanita tersebut mengurungkan niat membuang anaknya. Dia memelihara dan merawat ular tersebut layaknya anak-anak lainnya. Dia tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh orang-orang di desanya.

Suatu ketika wanita itu menemui Ki Demang Taliwangsa dan menjelaskan niatnya. Akhirnya Ki Demang pun setuju dan mengabulkan permintaannya. “Maafkanlah aku ayah. Sebab aku tidak tega membuang anakku. Izinkanlah aku untuk merawat dan memeliharanya seperti anak-anak lain. Aku akan menasihatinya agar tidak mengganggu penduduk Kademangan Mangiran ibi, “kata wanita itu memohon kepada Ki Demang Taliwangsa. “Baiklah, tapi satu pesanku agar jangan sampai ular itu diizinkan pergi keluar rumah agar tidak menyebabkan penduduk takut, “ucap Ki Demang Taliwangsa.

Semakin lama ular itu semakin tumbuh besar. Namun, ia tidak pernah keluar rumah. Ia juga belum memiliki nama. Suatu saat ia minta diberi nama oleh ibunya. “Ibu, sampai sebesar ini aku masih belum kau beri nama. Berilah aku nama yang bagus seperti anak-anak lainnya, “kata ular itu. Ibunya tersenyum sambil memandangi ular yang sudah besar itu. Ular itu sedang melingkar di tempatnya. Bagaimana jika aku memberimu nama Naga Baru Klinting “kata wanita itu kepada anaknya. Naga Baru Klinting senang sekali dengan nama pemberian ibunya. “Terima kasih ibu, itu nama yang sangat bagus, “ujar Baru Klinting dengan senangnya.

Dari lahir hingga dewasa, Baru Klinting belum tahu siapa ayahnya, belum pernah satu kali pun ia melihat ayahnya. Karena rasa penasarannya, ia bertanya kepada ibunya. “Ibu bolehkah aku tahu siapa ayahku sebenarnya?, ibu siapa nama ayahku? “tanya Naga Baru Klinting kepada ibunya. Sang ibu pun terkejut mendengar pertanyaan anaknya yang berbentuk ular itu. Ia pun mengatakan kepada Baru Klinting bahwa Ki Demang Kaliwangsa adalah ayahnya. Baru Klinting pun tak mempercayai perkataan sang ibu. Justru ia mengatakan kalau Ki Demang Kaliwangsa adalah ayah dari ibu.

Hari-hari terus berlalu dan ibunya terus didesak dengan pertanyaan Naga Baru Klinting, dan akhirnya sang ibu menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Naga Baru Klinting. “Wahai anakku, jika kamu ingin mengatahui siapa sebenarnya ayahmu, maka ibu akan menceritakan peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam, “kata sang ibu. Naga Baru Klinting menyimak dengan baik cerita ibunya.

Beberapa tahun silam, di Kademangan Mangiran akan mengadakan hajatan berupa bersih desa. Sebagai seorang putri Ki Demang Kaliwangsa, ia turut membantu acara itu. Suatu saat ia diminta untuk menemui Ki Wanabaya untuk meminjam pusaka yang akan digunakan untuk upacara bersih desa selama beberapa hari. Wanita akhirnya menemui Ki Wanabaya dan menyampai maksud dan tujuan kedatangannya. “Aku datang menemui Ki Wanabaya karena perintah ayahanda. Aku disuruh memminjam pusaka keris Ki Wanabaya untuk penolak bala, karena itu Kademangan Maringan akan mengadakan hajatan bersih-bersih desa, “ucap gadis itu.

Ki Wanabaya terlihat merasa agak keberatan jika meminjamkan keris pusakanya. Ia khawatir jika keris yang bertuah itu hilang atau direbut oelh orang jahat ketika di perjalanan. Setelah sekian lama berpikir, akhirnya keris itu diberikan kepada putri Ki Demang Kaliwangsa. Ki Wanawangsa berpesan kepada gadis itu, agar jangan menaruh keris puasaka ini sembarangan dan jangan menaruh di pangkuannya.

Setelah mendengarkan pesan Ki Wanawangsa, akhirnya gadis itu pulang dengan membawa keris pusaka. Sesampainya dirumah, ia melihat banyak para gadis dan wanita yang sedang sibuk memasak makanan di dapur. Gadis itu pun membaur bersama mereka. Karena kesibukannya ia lupa menyerahkan keris itu kepada ayahnya. Bahkan, ia melakukan kesalahan yang sangat fatal, ia meletakkan keris itu dipangkuannya tanpa disengaja, keris itu pun lenyap tak berbekas. Putri itu menjerit, terkejut dan sangat takut. Mukanya menjadi pucat karena teringat pesan Ki Wanabaya kepadanya. Ia berpikir jika Ki Wanabaya tahu pasti akan sangat marah karena ia tidak menuruti pesannya. Dan akibatnya keris pusaka itup pun lenyap tak berbekas.

Tak berapa lama kemudian gadis itu pingsan , semua orang panik terutama Ki Demang Taliwangsa. Setelah putrinya sadar kembali, Ki Demang segera memberitahukan kejadian itu kepada Ki Wanabaya. Ki Demang pun mengajak Ki Wanabaya ke Kademangan Mangiran untuk menyembuhkan sang putri. Gadis itu pun sangat ketakutan sekali bertemu dengan Ki Wanabaya. Ia merasa bersalah atas perbuatannya yang sembrono dan segera meminta maaf. Ki Wanabaya menghela nafas dan tidak marah sedikit pun. Ia kemudian mendekati Ki demang yang berada tak jauh dari dirinyasambil berbisik sesuatu hal yang penting.

“Itu sudah menjadi suratan takdir meskipun peristiwa ini memang tidak diinginkan. Kita harus menerimanya. Sesungguhnya, aku sudah berpesan kepada putriku agar tidak meletakkan keris itu di pangkuannya. Akan tetapi, karena putrimu cereboh, ia justru menaruh keris pusaka itu di pangkuannya. Akibatnya, keris pusaka itu pun lenyap dan masuk ke dalam rahimnya. Kejadian ini membuat putrimu hamil meskipun masih perawan, “jelas Ki Wanabaya. “Lalu bagaimana ini Ki, nanti apa kata orang-orang di Kademangan ini terhadap putriku. Padahal ia belum bersuami, “Ki Demang Taliwangsa tampak cemas.

Ki Wanabaya ikut merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya ini. Ia kemudian berupaya membantu menyelesaikan masalah ini. Setelah berfikir panjang, kemudian Ki Wanabaya menawarkan diri untuk menjadi putrinya dengan syarat ia tidak akan menjamah sama sekali terhadap putri Ki Demang dan harus segera kembali ke lereng Gunung Merapi untuk bersemedi. Ki Demang pun berpikir sejenak dan ia pun setuju dengan saran sahabatnya itu.

Setelah mendengar cerita ibunya, Naga Baru Klinting akhirnya menyadari dan ingin menemui ayahnya. Ia menanyakan letak Gunung Merapi  kepada ibunya, untuk menyusuk ayahnya yang sedang bersemedi. Wanita itu terlihat sedih, ia sudah terlanjur menyayangi anaknya walaupun berwujud ular. Karena desakan anaknya akhirnya ia pun menunjukkan jalan ke Gunung Merapi.

Akhirnya Naga Baru Klinting meninggalkan Kademangan Mangiran di malam hari dan kemudian bermukim di Kali Progo. Lama-kelamaan tubuhnya menjadi semakin besar sehingga menjela menjadi seekor naga yang besar. Kulit dan tubuhnya bersisik dan matanya berkilat menakutkan. Jika ika bergerak maka daerah tapi Kali Progo menjadi longsor. Keberadaan Baru Klinting sangat meresahkan penduduk sekitar, hal ini sampai terdengar oelh Ki Wanabaya yang sedang bersemedi di puncak Merapi, ia menghentikan semedinya dan turun gunung untuk mengusir ular tersebut.

Naga Baru Klinting akhirnya bertemu dengan ayahnya, Ki Wanabaya, Namun ia belum tahu jati diri Ki Wanabaya yang sebenarnya. Ia menceritakan tujuan kedatangannya untuk mencari ayahnya yang bernama Ki Wanabaya yang sedang bertapa di puncak Gunung Merapi. Ki Wanabaya telah mendengar cerita Naga Baru Klinting, akhirnya ia mengetahui kalau jelmaan keris pusakanya adalah seekor ular dari rahum sang putri. “Jika kamu ingin mencari ayahmu, pergilah ke Gunung Merapi karena ayahmu sedang bersemedi disana. “Bagaimana caranya, Ki?.” “Tubuhmu harus melingkari Gunung Merapi, jika kamu berhasil, kamu akan bertemu ayahmu!” jawab Ki Wanabaya.

Naga Baru Klinting akhirnya menuju Gunung Merapi dan melingkarkan tubuhnya. Namun, tubuhnya tidak cukup untuk melingkarinya. Akhirnya ia menjulurkan lidahnya agar sampai ke ujung ekornya. Bersamaan dengan itu Ki Wanabaya mengeluarkan keris dan memotong lidahnya, Naga Baru Klinting menjerit dan tubuhnya lenyap. Lidahnya menjelma menjadi sebuah tombak yang di beri nama Kiai Baru Klinting.

Pesan Moral Cerita Rakyat Jawa Tengah Naga Baru Klinting

“menjaga amanah itu sulit, maka peganglah amanah dengan sebaik-baiknya.”

Rabu, 02 Januari 2019

Cerita Legenda Roro Anteng dan Jaka Seger

Cerita Legenda Roro Anteng dan Jaka Seger adalah bagian dari legenda Gunung Bromo, konon rekam jejak spiritualnya pun masih ada sampai sekarang ini di goa Widodaren yang terletak tak jauh dari kawah Gunung Bromo. Seperti apa legenda tersebut, mari kita simak cerita dibawah ini.

Goa Widodaren
http://surabaya.tribunnews.com

Legenda Roro Anteng dan Jaka Seger

Pada zaman kerajaan Majapahit yang kala itu dipimpin oleh Prabu Brawijaya (sebutan gelar raja-raja yang memerintah kerajaan Majapahit) mempunyai seorang putri yang bernama Rara Anteng. Ada pun sang putri ini sangat disayang oleh baginda Brawijaya. Karena parasnya yang sangat cantik serta luhur budi pekertinya dan menjadi teladan para remaja putri dilingkungan istana.

Hingga saat usianya menginjak dewasa, Rara Anteng berkenalan dengan seorang pemuda keturunan Brahmana, bernama Jaka Seger.  Hubungan mereka sangat akrab. Ketika sang Brahman mengetahui hal itu ia menasihati putrinya. “Bagaimana mungkin kau bisa mengawininya, anakku?” Rara Anteng adalah putri raja. Pastilah baginda raja menginginkan menantunya dari kalangan bangsawan. Walaupun berkali-kali dinasihati orang tuanya Jaka Seger pun tidak surut langkah. Mengetahui keinginan keras sang anak, maka dengan perasaan yang kalut dan serba salah, akhirnya Brahmana pergi ke istana Majapahit untuk melamar Rara Anteng.

Sesampai di istana, ia pun mengahadap sang Prabu Brawijaya dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya kepada baginda raja Brawijaya. Dan perasaan khawatir lamaran itu akan ditolak jadi sirna, ketika raja memberi uraian pandangan yang tak terduga. “Mengapa tidak, Tuan Brahmana? Bukankah hal ini akan memberikan jalan keluar bagiku. Sebab sekarang ini asa persoalan yang sangat membelenggu kerajaan dengan masuknya ajaran agama Islam.” Hingga saat ini aku tidak dapat membendung apalagi memerangi penyebaran agama tersebut sebab Agama Islam pun telah datang secara baik-baik” ujar prabu Brawijaya.“Hanya saja, dari keturunanku kuharap ada yang melanjutkan kepercayaan leluhurnya. Kepercayaan kita! Kukira pasangan Jaka Seger dan Rara Anteng adalah pasangan yang tepat untuk menjadi cikal bakal penerus kepercayaan kita!.”

Maka saat itu juga Jaka Seger dan Rara Anteng dinikahkan secara sahdan mereka pun diperintahkan Prabu Brawijaya untuk ke luar dari  istana  Majapahit untuk melindungi diri.  Maka berbondong-bondonglah mereka yang masih mengukuhi kepercayaan leluhurnya, kearah timur. Mereka berpencar mencari tempat yang mungkin sulit untuk dicapai oleh penyebar agama Islam. Jaka Seger dan Rara Anteng beserta para pengikutnya memilih Gunung Berapi. “Mungkin disinlah tempat yang cocok untuk menghindari para penyebar agama Islam” ujar Jaka Seger kepada istrinya, Rara Anteng. Dan tempat itu dinamakan Tengger yang berasal dari nama Rara Anteng dan Jaka Seger adapun gunung berapi yang telah melindungi mereka dianggap sebagai tempat keramat, dinamakan gunung Bromo. Merujuk pada nama Dewa Brahma dalam kepercayaan agama Hindu.

Mereka pun hidup berkelompok dibawah pimpinan Jaka Seger. Hidup aman dan tenteram menjauhkan diri dari pengaruh luar. Mereka juga tetap menjunjung tinggi kepercayaan leluhur mereka. Namun kebahagiaan Rara Anteng dan Jaka Seger sangatlah tidak sempurna sebab sejak lama mereka menikah belum dikaruniai seorang anak.  Dengan perasaan yang putus asa kemudian mereka berdua memutuskan untuk bersemedi di puncak gunung Bromo yang telah dianggap keramat oleh orang-orang Tengger.

Sambil memohon kepada Dewata Agung agar dikaruniai keturunan.Sampai akhirnya di dalam kepundan Bromo terlihat nyala api membara disertai suara gemuruh. Keadaan itu dianggap olej Jaka Seger dan Rara anteng sebagai jawaban atas semedi mereka. “Dengar, Dinda! Dewata Agung rupanya telah mendengar bisikan hati kita. Kita harus mengucapkan syukur. Dan aku berjanji akan mengorbankan anak kita yang paling ragil (bungsu) kepada Dewa penghuni gunung ini, kepada Dewa Bromo!” Kata Jaka Seger. Tetapi janji suaminya itu dipandang berat oleh Rara Anteng dan mustahil mereka akan tega melakukannya. “Mengorbankan anak bungsu kita? Itu berarti pembunuhan! Oh, Kangmas terlalu memburu nafsu mengucapkan kaul itu!” gugat Rara Anteng.  Ucapan istrinya itu benar-benar menggugah perasaan Jaka Seger. Kini baru sadar bahwa kaul (janji) itu diucapkantanpa pemikiran panjang dan jernih. Namun, ia tak mungkin menjilat kembali atas janji yang telah dicetuskan. Ia khawatir akan murka Dewa.

Kemudian, tahun-tahun berlalu mengiringi kehidupan Ki Seger dan Nyai Anteng. Mereka telah dikaruniai sepuluh anak, putra dan putri. Setelah anak yang kesepuluh itu tidak mempunyai adik lagi, maka Ki Seger menganggap bahwa anaknya yang nomor sepuluh itulah paling bungsu. Namanya Kesuma. Setelah anak-anak itu menjelang dewasa, perasaan Ki Seger semakin sedih. Ia dihantui oleh janji sumpahnya dahulu.

Lebih-lebih putra bungsu itu adalah kesayangannya. Namun sampai begitu jauh Ki Seger belum juga melaksanakan janjinya. Hingga pada akhirnya terjadilah peristiwa dahsyat. Gunung Bromo meletus, mengepulkan asap hitam. Orang-oang Tengger panik mengungsi. Namun Ki Seger dan Nyai Anteng memahami adanya bencana itu. “Dia benar-benar menagih janji sumpah kita!”kata Ki Seger pelan. Matanya kosong menatap puncak gunung Bromo yang menggegak mengeluarkan lava panas. Ucapan Ki Seger menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anaknya. Karena tak punya pilihan lagi, maka Ki Seger terpaksa membeberkan rahasia yang selama ini terselubung.

Mendengar cerita itu, Kesuma tersenyum bangga. Sementara saudara-saudaranya yang lain merasa sedih. “Kalau begitu, relakan aku! Pengorbananku semoga diterima oleh Dewata Agung!” kata pemuda itu. “Wahai Ayah Ibu dan saudara-saudaraku!”sambung Kesuma lagi. “Aku berkorban demi keselamatan semua orang! Sepeninggalku, ingatlah hari pengorbananku ini sebagai imbalan nikmat hidup yang kalian rasakan! Permintaanku, kirimlah kebawah Bromo sebagian hasil ladang serta ternakmu! Lakukanlah saat terang bulan setiap tanggal 14 bulan Kasadha.

Kemudian dengan tenang Kesuma melangkah ke arah puncak Bromo. Disana ia menyeburkan diri kedalam kawah. Dengan pengorbanan itu, gunung Bromo reda kemarahannya. Peristiwa itu benar-benar terpahat dalam sanubari penduduk Tengger, sampai keturunannya sekarang. Hingga kini kepercayaan itu masih ada. Setiap tahun pada bulan jawa Asyura (Suro) di puncak gunung Bromo selalu diadakan upacara Kasadha.

Pesan Moral Cerita Roro Anteng dan Joko Seger

“Janganlah berjanji bila tak bisa menepati janji itu, karena janji adalah hutang. Penyesalan tak bisa merubah semuanya”.

Cerita Legenda Pulau Belumbak

Pulau Belumbak berada di daerah Provinsi Kalimantan Barat, Pulau Belumbak memiliki legenda yang cukup menarik. Yuk kita dengarkan Cerita Legenda Pulau Belumbak dibawah ini.

Pulau Belumbak
http://reki8irawan.blogspot.com

Legenda Pulau Belumbak

Di suatu daerah yang tidak padat penduduk, ada seorang janda miskin yang memiliki dua anak laki-laki. Untuk menyambung hidup, mereka berkeja mencari kayu bakar dan dijual kepada warga desa. Penderitaan demi penderitaan mereka lalui selama nertahun-tahun, tak terasa mereka kini sudah dewasa. Mereka meminta kepada ibu agar mereka di ijinkan untuk merantau untuk mengadu nasib, dengan berat hati sang ibu mengabulkan permintaan mereka demi kebaikan kedua anaknya.

Merek pergi dengan menumpang kapal dagang, dengan sedih hati ibu melepaskan mereka dan mengantar ke pelabuhan, dengan doa yang tulus, sang ibu mendoakan yang terbaik untuk kedua anaknya dan membekali mereka dengan ketupat. Tak terasa waktu berjalan, bertahun-tahun ibu itu menunggu anaknya pulang, sang ibu rindu dengan kedua anaknya. di usianya yang semakin tua hingga sang ibu sakit-sakitan dan badangnya menjadi ringkih tak berdaya. Dengan semangat yang dimilikinya, beliau masih berkeja untuk menyambung hidupnya.

Sementara di lain tempat di daerah perantuan, kedua saudara itu menjadi orang sukses, mereka menjadi orang yang kaya raya dan juga memiliki kapal yang cukup megah serta memiliki istri yang cantik jelita. Tiba-tiba mereka teringat kampung halamannya, lalu keduanya pulang dengan menaiki kapal yang megah, mereka menyusuri sungai kapuas, dan tiba di daerah Sanggau. Tetangga memberitahu sang ibu bahwa kedua anaknya telah pualng, mendengar berita itu sang ibu langsung bergegas menuju pelabuhan dan tibalah sang ibu bertemu anak-anaknya.

Setelah bertemu anaknya yang pertama, tak disangka kerinduan yang selama ini bertumpuk tiba-tiba gugur sudah dengan perilaku si anak, anak yang pertama tidak mau mengakui bahwa itu ibunya karena malu dengan istri dan anak buahnya memiliki ibu yang tua renta dan miskin. bahkan ucapan-ucapan kasar ynag didapat sang ibu, dengan sombongnya ia bilang bahwa ibunya sudah lama meninggal. Dengan hati sedih dan perasaan yang tak karuan, sang ibu meninggalkan kapal anak pertama dan menuju ke kapal anak kedua, sesampainya di kapal anak kedua, sang ibu kembali mendapat perlakuan yang buruk, bahkan lebih parah hingga mata sang ibu buta.

Ibu itu pulang sambil menangis karena anak-anaknya sudah berubah dan tidak mau mengakuinya kalo dia ibunya. setelah ibu itu pulang, kesedihan yang sedang dirasakannya tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi kebencian. Dengan membuat pedupaan di rumahnya dan berasap di letakkan di lubang lesung, lalu sang ibu naik keatas lesung dan menuju ke kapal kedua anaknya. Ibu itu berucap, "Jika memang mereka anak-anakku dan aku yang menyusui mereka berdua, makan datangkanlah bala bencana kepada mereka berdua."

Doa ibu tak terhalang, dan langsung terkabul, dengan tiba-tiba angin mulai bertiup kencang, semakin lama angin itu semakin kencang dengan disertai dengan awan hitam yang tebal, petir pun menyambar-nyambar dengan gelegarnya. Angin besar itu menggulung semua yang ada di dekatnya, termasuk kapal kedua anaknya itu yang masih berada di tengah sungai Kapuas. Kedua kapal itu ternagkat keatas dan disapu air, dengan kekuatan yang begitu besar, akhirnya kedua kapal itu tenggelam bahkan tidak ada seorang pun dari awak kapal yang selamat. Sebelum semuanya hancur terdengar teriakan kedua anak itu meminta maaf kepada ibunya. Namun semua itu sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur.

Secara ajaib setelah itu semua terjadi, tiba-tiba langit menjadi terang, angin berhembus secara perlahan, seolah-olah tidak ada suatu bencana yang terjadi, semua kembali normal lagi. Setelah beberapa tahun kemudian munculah dua pulau yang mirip kapal yang sedang berlomba didaerah Sungai Kapuas yang bernama Pulau Berlomba atau Pulau Belumbak yang menjadi saksi dahsyatnya doa seorang ibu.

Pesan Moral Legenda Pulau Belumbak

"Ridho Tuhan adalah ridho orang tua, maka hormatilah kedua orang tuamu terutama ibumu. Walaupun ibadahmu baik, agamamu taat, sedekahmu emas segunung, namun sekali kau lukai hati ibumu dan kau tidak bertobat, maka surga bukan milikmu."

Si Umbut Muda Anak Durhaka

Pesan moral dalam Dongeng Si Umbut Muda Anak Durhaka ini adalah jangan sekali-kali durhaka kepada orang tua. Bagaimana cerita dongeng Si Umbut Muda ini?, Yuk kita mendongeng bersama.

Si Umbut Muda Anak Durhaka
http://rifkymustika.blogspot.com

Dongeng Si Umbut Muda Anak Durhaka

Dahulu kala di Siak Indrapura ia bernama Mempura. Mempura adalah sebuah daerah yang sangat subur.Masyarakatnya hidup dengan bermata pencarian sebagai petani,berkebun dan juga berdagang.Daerah Mempura terdapat sungai yang sangat besar yaitu sungai Siak.Di mempura hiduplah seorang janda setengah baya dengan seorang anak gadisnya bernama Si Umbut Muda.Gadis ini sangat cantik parasnya dan sangat menawan hati.Karena selalu di puja puji,Si Umbut Muda menjadi tingi hati ,congkak dan menjadi angkuh.Dalam bergaul Si Umbut Muda selalu pilih-pilih.Kalau tidak dengan kaum bangsawan atau sekelasnya,dia tidak mau bergaul.Apalagi bergaul dengan rakyat jelata ,ia tak akan sudi.

Pakaian Si Umbut Muda mestilah kain sutra termahal,kain songket tenunan Trengganu yang di lengkapi dengan selendang kain mastuli tenunan Daik.Emas dan perak tempaan yang datangnya dari negeri Cina .Gelang sepang di tanggannnya bersusun lima rangkat yang beratnya seimbang delapan tali.Utunglah,harta peninggalan ayahnya cukup banyak.Kalau tidak banyak apa yang mau di harapkanya.Apalagi sang ibu hanya seorang pengrajin tenun yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.Selain itu Si Umbut Muda juga memperlakukan sang ibunya sendiri seperti sang pembantu .Pernah suatu hari  sang ibu terlambat menyiapkan makanan untuknya,langsung di marahin habis-habisan.Tetapi sang ibu tetap sabar.Ibu yang bernasib malang ini harus tunduk di bawah perintah  sang anak yang di manjakan dari sejak kecil sampai remaja.

Pada suatu hari ,ada pernikahan putri salah seseorang bangsawan ternama di Mempura.Undangan terdiri atas orang-orang ternama.Si Umbut juga mendapat undangan dari putri bangsawan tersebut.Mendapat undangan dari putri bangsawan tersebut hati Si Umbu merasa tersanjung sekali.Ia bingung memilih gaun mana yang pantas untuk di pakai ke pesta pernikahan nanti.Ahirnya, Si Umbut menghadiri pernikahan tersebut dengan memakai gaun yang mewah dan perhiasan yang mewah pula.

“Mak mari berangkat !Hari telah siang.Nanti kita ketinggalan manghadiri pesta itu,”kata Si Umbut Muda.
“Mari anakku,”jawab ibunya.
“Mak jangan lupa bawa payung kesukaanku ,”kata Si Umbut lagi.

Kedua perempuan itu meninggalkan rumahnya.Di dalam perjalanan itu Si Umbut Muda bagaikan sang putri raja yang di sebelahnya ada dayang yang setia mengikuti sambil membawakan payung.Si Umbu Muda merasa hidupnya tersanjung,ia memamerkan kecantikannya kepada  penduduk di kampungnya.Jalan Si Umbut Muda melenggak-lenggok tanpa memikirkan orang di sekelilingnya.Tak berselang lama Si Umbut Muda terantuk sampai berdarah.Ia pun mengomel kepada ibunya.

“Mak,kenapa tidak  menyingkirkan batu itu sampai mengenai kakiku sampai berdarah?”
“Anakku akan kusingkirkan batu itu.”Jawab ibunya dengan suara lirih.Itulah kelakuan Si Umbut Muda kepada sang ibunya selalu menyalahkan tanpa ada rasa belas kasihan kepada ibunya.Semakin lama semakin dekat pada tempat yang di tuju.Tempat pesta pernikahan itu berada di seberang sungai Siak.Jika hendak mau ketempat sana harus melewati jembatan sungai.Segera Si Umbut Muda dan ibunya melewati jembatan di atas sungai Siak tersebut.Jembatan itupun dilewatinya dengan hati-hati.Ibunya bertugas sebagai tukang payung,berjalan di sebelah kiri.Entah apa penyebabnya tiba-tiba gelang yag di pakai di tanganya itu terpelanting lalu jatuh ke dalam sungai.apalagi sungai itu dalam sekali .Melihat kejadian itu Si Umbut Muda kaget sebab perhiasan yang di pakainya tiba-tiba jatuh ke sungai.Apalagi sungai itu dalam sekali.

“Mak gelang Umbut jatuh dua rengket ,empat jumlahnya,”kata Si Umbut Muda kepada ibunya dengan nada keras.
“Gelang-gelang itu jatuh kedalam sungai itu,Mak!”katanya lagi.Tanpa berfikir panjang ,ia lalu menyuruh ibuya terjun ke air sungai.
“Mak ,selami gelangku mak …!”kata Si Umbut Muda sambil mendorong ibunnya itu ke dalam sungai.
“Menyelamlah ,Mak…! Perintahnya.

“Arus sungai deras nak ..Mak tak berani menyelam!” kata ibunya sambil berenang.Untungnya sang ibu pandai dalam berenang sewaktu di dorong Si Umbut Muda dengan tiba-tiba ke dalam sungai.Ibunya kembali ke jembatan lagi .Ia berfikir tak akan lagi bisa mengambil gelang-gelang yang jatuh di dasar sungai. Si Umbut Muda begitu marahnya kepada ibuya.Ia pun mengambil sebatang kayu bercabang lalu di tekankan ke tengkuk ibunya dengan keras sekali.

“Ambilkan gelangku…menyelamlah!”bentaknya keras-keras.
“Mak ..sudah tidak syang lagi pada Umbut,”Katanya lagi.

Ahirnya sang ibu terjun ke sungai lagi dengan aliran air yang cukup deras.Karena arusnya terlalu besar ,maka sang ibu tidak berhasil mengambil gelang-gelang yang jatuh kedasar sungai tersebut.Sementara itu Si Umbut Muda berdiri di atas jembatan sambil mengumpat ibunya terus menerus.

“Si Umbut anakku ,biarlah gelang-gelang tadi jatuh ke sungai karena sudah tak bisa di ambil lagi.Kamukan masih banyak gelang di rumah.”Kata ibunya dengan halus.

Mendengar ucapan ibunya itu.Si Umbut bertambah marah sama ibunnya.Karena gelang tersebut adalah gelang yang paling di sukai dan harganya sangat mahal .Semakin lama  air mengalir dengan deras sekali .Agin yang menerpa air sungai menyebabkan aliran sungai menjadi deras sekali .Hujan di sertai angin tiba-tiba turun dengan lebat.Semakin lama ,hujan semakin lebat di sertai angin yang sangat kencang.Tak beberapa lama angin puting beliung datang bergulung-gulung dan menghantam jembatan tempat berdirinya Si Umbut Muda berada.Seketika jembatan itu hancur berkeping-keping terbawa aliran sungai yang sangat deras.Melihat keadaan yang sangat berbahaya ,maka ibu Umbut berenang menepi dan segera naik ke daratan.Akan tetapi sungguh malang nasib bagi anaknya. Si Umbut Muda ia tergulung angin puting beliung .Ia terpelanting ke dalam sungai lalu tenggelam bersama jatuhnya jembatan sungai Siak.

Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa,tak bisa memberikan pertolongan kepada anaknya.Ahirnya,gadis durhaka itu mati terbawa derasnya arus sungai.Sang ibupun kehilangan putri yang di sayanginya dan sekaligus menyakitkan hati.Dan masyarakat sekitar mempercayai bila di sungai Siak Idrapura ada angin puting beliung .Maka pertanda ada pelanggaran adat serta syariat agama.Oleh karena itu,di Siak Indrapura tidak ada orang yang berani berlaku kejam pada ibunya.apalagi berbuat macam-macam.

Selasa, 01 Januari 2019

Cerita Legenda Kota Samarinda

Legenda Kota Samarinda adalah cerita rakyat dari kota Samarinda, ingin tahu bagaimana cerita rakyat ini?, yuk kita mendongeng sekarang.

Kota Samarinda
http://www.hotelroomsearch.net/city/samarinda-indonesia

Legenda Kota Samarinda

Menurut cerita, asal usul kota Samarinda tidak lepas dari kedatangan orang-orang Bugis, Sulawesi Selatan. Hingga pada suatu hari ada sebuah acara besar disana, yaitu pernikahan putra Goa dengan putri Bone. Banyak acara disana, salah satunya adalah sabung ayam atau adu ayam. Namun karena salah paham terjadi perkelahian antara putra-putra Bone dan putra-putra bangsawan Wajo, dan terjadi korban tewas di pihak putra Bone yang bernama Matolla ditangan Ma’-dukelleng . Sejak peristiwa itu kerajaan Bone menuntut agar Ma’-dukelleng diserahkan ke kerajaan Bone untuk dihukum. Bila mereka menolak, mereka akan menerima akibatnya.

Akhirnya di musyawarah besar kerajaan Ma’-dukelleng tidak diserahkan, akan tetapi harus meninggalkan daerahnya dan pergi jauh ke negeri Kutai di Kalimantan yang dikenal sebagai kerajaan yang kaya dan sangat besar. Ma’-dukelleng pergi bersama ketiga putranya menuju ke negeri Kutai. Di tengah perjalanan mereka kehabisan perbekalan, dan mereka berlabuh di Pasir dan menetap disana. Setelah beberapa bulan datang rombongan Wajo dan Soppeng yang dipimpin oleh Daeng Mangkona, mereka membawa berita buruk bahwa Wajo sudah dikuasai Bone. Setelah bereka berembuk, akhirnya Rombongan Daeng Mangkona menuju ke negeri Kutai.

Sesampainya di Kutai, Daeng Mangkona menghadap ke raja yang saat itu dipimpin oleh Pangeran Dipati Mojo Kusumo. Daeng Mangkona meminta kepada raja untuk diterima menjadi rakyat Kutai. Akhirnya atas musyawarah dewan kerajaan, permintaan Daeng Mangkona pun dikabulkan oleh raja, tidak hanya itu, bahkan Daeng Mangkona pun diberi daerah Oa Buah, di pinggir sungai Mahakam. Namun daerah itu tidak cocok untuk persawahan mengingat daerah itu terdiri dari tanah berbukit-bukit.

Daeng Mangkona yang mewakili pengikutnya menghadap raja agar diberi tanah yang cocok untuk persawahan dan bercocok tanam. Dengan kemurahan hari raja, permintaan Daeng Mangkona pun dikabulkan dengan diberi tempat di tepi sebelah kiri sungai Makaham. Tidak hanya itu, Daeng Mangkona pun diakui sebagai kepala pemerintahan di daerahnya dan diberi gelar Poa Adi. Perlahan-lahan tapi pasti Daeng Mangkona mulai membangun bergotong royong dengan pengikutnya, setelah beberapa pohon ditebang, terbentanglah tanah yang luas untuk persawahan, Mereka juga mendirikan rumah-rumah di tepi sungai Mahakam membujur dari hilir ke hulu.

Setelah beberapa lama, daerah baru ini berkembang dengan pesat dan mereka memberi nama daerah itu dengan sebutan Samarinda. Penduduk Samarinda setiap tahun terus bertambah dan banyak orang-orang Wajo yang berdatangan dan menetap disana. Sehingga sampai sekarang daerah Samarinda pun ramai di huni orang dan menjadi wilayah yang indah dan maju.
◄ Newer Post
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger