Minggu, 12 Desember 2021

Cerita Rakyat Papua Legenda Batu Ajaib

Legenda Batu Ajaib adalah cerita rakyat dari Papua, cerita ini ada pesan moral yang harus kita lakukan. Pakah pesan moral itu?, yuk kita baca cerita rakyat dibawah ini.

Legenda Batu ajaib
caritasato.blogspot.com

Legenda Batu Ajaib

Kisah batu ajaib ini bermula dari sebuah kekeringan panjang didaerah Kambao Rama. tak ada lagi sagu di daerah yang terletak di Yapen sebelah timur Papua. “Wahai semua penduduk wawuti Revui. Dengarkan aku, Dewa iriwonai telah mengirimkan pesan kepadaku,” sahut kakek Kosay. Iya saudara, sebuah pesan yang hanya sampai di telinga kakek kepala suku, kakek Kosay namanya. Menurut tanda-tanda alam yang dilihat kakek Kosay, Dewa Iriwonai marah besar. Lama kelamaan sagu jadi berkurang. “Lalu dimana kita akan mendapatkan sagu, Bapa?”tanya Irimiami istri Kosay.

Kakek Kosay bilang, “sagu sudah pindah dari kampung Kamboi Rama ke Randuayaivi. Semua oenduduk esok hari akan pindah ke sana semua!” jawab Isoray. “Lalu apabila kita ikut serta, bagaimana nasib harta rumah kita bapa?” tanya Irimiami. Adik-adik sebenarnya sagu di kampung Kamboi Rama banyak berkurang karena penduduk di sana banyak mengambil sagu tanpa mau menanamnya lagi. Jelas saja dewa Iriwonai marah. “Mau kemana kau bawa sahabat-sahabat kami? mau kemana kau pergi kakek Kosay? mengapa sepagi ini banyak kepala mengikuti langkahmu?” tanya irimiami. “Sagu sudah tidak lagi tumbuh di kampung kita”. Sagu sudah tidak lagi tumbuh di Kamboi Rama, Irimiami!” jawab kakek Kosay. “Irimiami! Irimiami! Irimiami!” Kosay berteriak memanggil istrinya, “itu Isoray suamimu memanggil. Apa kau juga tak ikut dengan kami?” tanya kakek Kosay.

Di kampung Kamboi Rama, memang tak ada lagi tanaman sagu tumbuh. Padahal sagu adalah makanan pokok penduduk disana dan di seluruh Papua. Hanya Isoray dan istrinya yang tinggal di Kamboi Rama. Semua penduduk pindah ke daerah baru bernama Randuayaivi. “Sekarang kita makan apa Bapa?, tak ada lagi apa-apa. Tak ada siapa-siapa di kampung kita. Kita berdua saja di Kamboi Rama. “tanya Irimiami. ‘Sabar ya Irimiami, aku sudah menanam kembali banyak batang sagu,”jawab Isoray. “Ahhh…sudahlah Bapa. Aku sudah malas makan sagu. Tak nikmat rasanya makan sagu sendiri, “kata Irimiami.

Irimiami yang masih sedih berjalan sendirian ke atas bukit. Ia ingin berjemur sendiri setelah mandi dibawah air gunung Kamboi Rama. Irimiami lalu duduk diatas sebongkah batu besar. “Uhh…kenapa ini, kenapa batu ini tiba-tiba jadi panas begini?Uh,aw,aw!! “Irimiami terkejut melihat batu besar itu. Batu besar yang di duduki Irimiami setelah mandi di bawah kucuran air gunung, tiba-tiba mengeluarkan gumpalan uap panas. Irimiami keheranan. “Bapa! Bapa! Ada batu panas diatas bukit, Bapa! batu dingin tiba-tiba jadi panas! jangan-jangan itu tempat bekas Dewa Iriwonai bertapa! “Irimiami berteriak memanggil suaminya. “Hah Iriwonai murka dan turun ke Kamboi Rama? Benar itu mama? “tanya Isorai terkejut. Isoray benar-benar kaget. Kakek Kosay memang pernah melihat wujud asli Dewa Iriwonai. Namun, kata kakek Kosay, Dewa Iriwoani selalu ramah. Dewa Iriwonai selalu meninggalkan benda yang bermanfaat bagi suku yang disinggahinya.

Isoray mencoba memegang batu besar yang panas itu. Tangannya langsung merah karena kepanasan. Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benak Isoray. Banyak bangkai babi hutan yang sudah dikumpulkan Isoray. “Ah, kulitku jadi merah, jadi kering setelah terkena panas. Hmm..bagaimana bila daging-daging seperti dagingku yang diletakkan diatas batu? “Guman Isoray. “Coba ambil daging-daging babi hutan yang ditumpuk di Honai, Irimiami, “kata Isoray. Honai adalah rumah beratap jerami yang dibangun suku-suku di Papua. Selain sebagai tempat tinggal, Honai juga tempat menumpuk bahan makanan juga binatang buruan. Kali ini Irimiami bingung, untuk apa seuaminya meminya ia mengambilkan beberapa daging babi hutan di Honai? ” Coba kau makan daging ini mama, enak sekali rasanya” kata Isoray. “Benar bapa, lebih enak rasanya dari pada makanan lainnya”, Irimiami melahap daging itu.

Apa yang terjadi?, batu besar ajaib itu tiba-tiba bergetar mengeluarkan panas yang begitu dahsyat. Padahal sudah terbiasa memasak di atas batu ajaib itu. Rumput, daun kering, ranting bambu, daging-daging buruan mereka letakkan di sana. Merekalah suami istri pertama di Papua yang berhasil menemukan api. Dari balik batu besar itu sekarang sering bermunculan awan merah panas. Mungkin Isoray benar, Dewa Iriwonai memberi peringatan agar Irimiami dan Isoray tak lagi rakus seperti penduduk Kombai Rama zaman dulu.

Batu panas itu pemberian alam , juga babi, sagu, rumput, semua milik alam, namun alam biasa marah bila kalian serakah. “kata Dewa Iriwonai. Kejadian itu tak bisa mereka lupakan, untuk pertama kali dan mungkin terakhir kalinya mereka berbicara langsung dengan Dewa Iriwonai. Sejak itulah Irimiami dan Irosay menjaga alam kampung mereka agar tetap lestari. Tak lama kemudian rombongan para warga yang dulu pergi kini telah kembali ke kampung halaman mereka, wajah mereka tampak gembira, mereka rindu kembali ke sana, dan ketika mereka sampai bukan main kaget benar mereka. Semua yang tandus kelah sirna, semua yang kering telah pergi, semua yang hijau datang berganti. Mari kita jaga semua, jangan sampai serakah, jangan sampai sirna.

Pesan Moral Cerita Rakyat Dari Papua Legenda Batu Ajaib
“Kita jaga alam kita ini, jangan sampai rusak. Kita tidak boleh serakah dengan hasil bumi ini, jika alam rusak maka manusia sendiri yang akan rugi”.

Kamis, 09 Desember 2021

Cerita Legenda Lutung Kasarung

Selamat datang di Cerita Rakyat Singkat, hari ini kita akan mendongeng tentang Legenda Lutung Kasarung dari Jawa barat. Saatnya mendongeng..!!

Legenda Lutung Kasarung
Youtube

Dongeng Legenda Lutung Kasarung

Purbasari mempunyai kakak bernama Purbararang, Dia tak setuju jika adiknya diangkat sebagai pengganti ayah mereka. Kemarahannya sudah melebihi batas hingga timbul niat jahat untuk mencelakan adiknya. Dia meninta tolong nenek sihir untuk mengguna-guna Purbasari. Sehingga kulit Purbasari pun muncul totol-totol hitam karena guna-guna nenek sihir itu. Inilah kesempatan Pubararang untuk mengusir adiknya dan menggantikan adiknya menjadi Ratu.

Dengan sangat teganya, Purbararang mengutus seseorang untuk mengasingkan Purbasari di tengah-tengah hutan yang sepi. Begitu tiba di hutan, orang suruhan tadi mempunyai niat baik kepada Purbasari dan dibuatkan gubuk ditengah hutan untuk Purbasari. Dengan tulus orang itu menasehati Purbasari agar selalu tabah dan sabar menghadapi cobaan ini, Tuhan pasti selalu bersama Purbasari. Sang putri pun mengucapkan terima kasih kepada orang itu.

Hari-hari terus berjalan, waktu terus berlalu, selama tinggal ditengah-tengah hutan itu Purbasari memiliki begitu banyak teman, hewan-hewan dihutan lah yang menjadi teman Purbasari. Ada satu hewan yang sangat misterius yang menjadi teman Purbasari, yaitu seekor kera berbulu hitam. Namun kera itu yang paling memberi perhatian lebih kepada Purbasari. Kera itu bernama Lutung Kasarung, Ia selalu membuat hati Purbasari bahagia karena kera itu selalu memberikan bunga-bunga nan indah dan buah-buahan segar kepada Purbasari.

Pada suatu malam di bulan purnama, Lutung Kasarung menjadi aneh, ia selalu menyendiri dan bersemedi, terlihat ia sedang meminta sesuatu kepada Dewata. Keajaiban pun terjadi di tanah dekat mereka terbentuklah sebuah telaga kecil dengan air yang jernih dan segar dan ternyata telaga ini airnya bisa untuk menyembuhkan penyakit. Esok harinya Lutung Kasarung memberitahukan kepada Purbasari untuk berendam di telaga ajaib itu. Akhirnya Purbasari pun menyetujui permintaan Lutung Kasarung dan tak lama setelah berendam di telaga tersebut, kulitnya yang semula bertotol-totol hitam kini menjadi bersih dan kembali menjadi cantik. Purbasari sangat gembira sekali akhirnya guna-guna itu hilang dan ia sembuh.

Purbararang yang berada di istana penasaran dengan keadaan adiknya di hutan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke hutan melihat adiknya. Di perjalanan Purbaararang ditemai oleh tenangannya dan para pengawalnya. Namun apa yang terjadi?, ketika sampai di hutan Purbararang bertemu dengan Purbasari dan saling berhadapan. Purbararang sungguh tak percaya melihat keadaan adiknya yang sembuh total dari guna-guna penyihir itu. Dengan hati yang dengki akhirya Purbararang tidak ingin malu, ia menhajak purbasari untuk beradu rambutnya, siapa yang punya rambut panjang ia yang menang. Pada awalnya Purbasari menolak ajakan itu, namun karena desakan kakaknya, akhirnya Purbasari meladeni tantangan itu dan ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

Purbararang pun tak mau kalah, sekarang dia mengajak untuk mengadu ketampanan tunangannya. Purbasaru pin terlihat gelisah, akhirnya ia manarik Lutung Kasarung, ia melompat-lompat menenangkan Purbasari. Purbararang mengejek dengan tertawa terbahak-bahak. Namun keajaiban kembali terjadi, ketika Lutung Kasarung melakukan semedi, tiba-tiba ia berubah menjadi Pemuda yang gagah dan tampan, bahkan lebih tampan dari tunangan Purbararang. Semua yang berada di situ terkejut dan senang dengan keajaiban itu.

Akhirnya Purbararang mengaku kalah dan meminta maaf kepada Purbasari, memohon untuk tidak dihukum. Purbasari dengan baik baik memafkan kakaknya dan mereka pun kembali ke istana. Setelah kejadian itu Purbasari menjadi seorang Ratu yang di dampingi oelh pemuda gagah dan tampan yang tak lain adalah seekor lutung yang setia menemaninya dihutan.

Sabtu, 04 Desember 2021

Cerita Legenda Asal Usul Gunung Merapi

Foto Gunung Merapi
Gunung Merapi (eksotisjogja.com)

Legenda Gunung Merapi

Pada jaman dulu kala, Pulau Jawa belum banyak daerah yang dihuni oleh manusia. Kebanyakan wilayah nya adalah hutan belantara yang dihuni oleh binatang liar dan makhluk ghaib. Keadaan pulau jawa pada waktu itu miring, sehingga sangat mengkhawatirkan kelangsungan makhluk hidup. Hanya ada beberapa bagian yang dihuni oleh sekelompok manusia yang hidup secara berkelompok dan suka berpindah tempat karena keganasan alam dan serangan musuh.

Para penghuni pulau jawa ini tidak menyadari kalau tanah yang mereka tempati itu sebenarnya miring, sehingga ada kekhawatiran akan meluncur dan tenggelam ke laut Selatan. Yang mengerti keadaan ini iaalah para dewata di kayangan yang peduli akan kelangsungan hidup para penghuni pulau Jawa jaman itu. Para dewa pun akhirnya setuju untuk membuat agar pulau Jawa tidak miring, sehingga para penghuninya pun bisa tumbuh dan semakin maju kultur nya.

Ketakutan yang mereka alami tentu saja tidak bisa mereka hindari lagi. Bukan hanya para manusia yang mengalami ketakutan, namun juga para penghuni lainnya termasuk binatang juga lari ketakutan.
Para dewa lalu berembuk lagi untuk memeustuskan pemberat yang akan mereka taruh di tengah pulau itu. Mereka memutuskan menggunakan Gunung Jamur dwipa yang yang sangat terkenal bagi makhluk-makhluk gaib dan sangat tinggi menjulang di dalam laut selatan. Para dewa kemudian memberi bimbingan dan minta ijin para penghuni Gunung Jamur dwipa aga segera pindah tempat, karena gunung yang mereka singgahi akan dipindah ke arah tengah pulau Jawa.

Dari hasil pengukuran yang telah mereka lakukan terdahulu, ternyata lokasinya dihuni oleh dua orang yang sedang bekerja di tengah hutan belantara. Ke dua orang itu adalah empu yang sedang membikin keris. Para dewa kemudian mengutus Dewa Panyarikan dan Batara Naradha beserta para pengiring untuk memberitahu kepada kedua empu itu agar segera pindah karena tempatnya akan diletakkan Gunung Jamur dwipa.

Para suruhan dewa itu takjub melihat kedua orang itu yang sedang mengerjakan keris masing-masing tanpa bantuan alat apapun. Kedua empu itu sedang mencampur seluruh macam bahan logam dan dengan tangan kosong mereka memakai telapak tangan dan jari tangan untuk menempa dan memilin larutan bubuk logam itu hingga menggumpal.

Pekerjaan empu pada waktu itu tentu tidak bisa ditunda karena memerlukan konsentrasi tingkat tinggi untuk mengolah biji logam tersebut. Para utusan Dewa pun mau menanti, mereka sambil melihat betapa kagumnya mereka mengetahui cara pembuatan keris yang dikerjakan oleh empu itu. Gumpalan besi itu lalu dipukul-pukul dan dipijit-pijit oleh para empu itu hanya menggunakan tangan mereka. Dan yang lebih menakjubkan lagi gumpalan besi itu membara dan menyala-nyala namun tangan kedua empu itu tidak terbakar sama sekali.

Pekerjaan kedua empu itu membuat keris sebenarnya belum usai, akan tetapi karena ada utusan penting, maka pekerjaannya dihentikan sementara dan menemui utusan dewa tersebut. Empu tersebut lalu memperkenalkan diri. Yang satunya bernama Empu Permadi sedangkan yang satunya lagi bernama Empu Rama. Setelah mereka saling memperkenalkan diri dan sedikit ngobrol, akhirnya Batara Naradha dan Dewa Panyarikan mengatakan tujuan kedatangannya.

Batara Naradha pun segera menyampaikan maksud kehadirannya dan di dukung pernyataan Dewa Panyarikan, dan menyarankan agar mereka segera pindah dari tempat itu, karena akan dipindahkan gunung besar yang akan digunakan untuk menyeimbangkan pulau Jawa yang sedang dalam keadaan miring. Batara Naradha memberi petunjuk hal ikhwal terjadinya gempa dan keadaan pulau Jawa yang sangat memprihatinkan mengharapkan agar mereka mau mengerti dan menuruti kehendaknya tanpa ada halangan satupun. Tidak lupa Dewa Panyarikan pun menjelaskan pentingnya pekerjaan itu demi kelangsungan hidup para penghuni pulau Jawa.

Empu Permadi dan Empu Rama tertegun dan saling berpandangan. Nampak dari gurat wajahnya seperti tidak berkenan dengan kemauan para dewa. Ke dua empu itu memiliki kepentingan terkait dengan pekerjaannya yang belum selesai. Dan ternyata mereka tidak mau jika harus berpindah tempat, sementara pekerjaan membuat kerisnya baru saja dimulai dan harus diselesaikan ditempat. Kedua empu itu punya gagasan jika pembuatan kerisnya tidak selesai dengan sempurna akan mendatangkan mencana bagi manusia, maka harus ke dua empu itu meminta harus menunggu hingga pekerjaannya selesai.

Kedua utusan itupun berpendapat bahwa perkara ini sangat mendesak sekali, sehingga jikalau harus menggunakan pemaksaan pun akan dijalankannya. Kedua utusan itu tak bosan-bosannya menjelaskan bahwa tugas yang diembannya adalah demi kelangsungan hidup umat di pulau Jawa. Namun mereka pun kokoh pada pendiriannya, jika pengerjaan keris itu tidak sempurna juga akan mendatangkan mala petaka bagi manusia.

Kedua kubu itu pun terlibat adu mulut yang sangat menegangkan. Nampaknya suasana semakin menjadi tak terkontrol. Karena alasan yang sangat mendesak sekali, maka kedua utusan dewa pun menggunakan pemaksaan dengan mengerahkan seluruh bala tentara pengawal nya untuk menyerang kedua empu itu. Kedua empu itu segera memasang kuda-kuda untuk menyambut serangan pasukan tentara kayangan itu. Nampaknya pertarungan itu tidaklah seimbang mengingat kesaktian dari kedua empu itu dalam waktu yang tidak lama semua bala tentara itu berhasil dikalahkan.

Kini tinggal berempat mereka berhadapan dan terjadilah duel sengit satu lawan satu. Pertarungan sengit pun tak bisa dihindarkan. Pertarungan kali ini nampak seimbang, sehingga pertempuran berlangsung lama dan wilayah sekitar pertempuran itu nampak berantakan, banyak batu-batu berhamburan dan hancur jadi debu, pohon-pohon pun bertumbangan dan asap atau debu mengepul.

Batara Guru kemudian memberi titah kepada Dewa Bayu untuk memberikan pelajaran buat Empu Rama dan Empu Permadi. Dewa Bayu diperintah untuk segera memindahkan Gunung Jamur dwipa dengan meniupnya. Batara guru tidak peduli dengan keselamatan kedua empu itu, karena telah menentang para dewa dan mengancam keselamatan umat manusia.

Berangkatlah Dewa Bayu ke Laut Selatan. Dengan kesaktian nya, Dewa Bayu dengan cepat meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamur dwipa hingga melayang-layang di langit dan jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamur dwipa hingga tewas seketika. Kemudian roh kedua empu tersebut tak bisa diterima di alam baka sehingga menjadi penunggu gunung merapi.

Meskipun kedua empu sakti itu telah tewas tertimpa gunung, namun kesaktiannya tidak padam. Bahan keris yang masih dalam proses pengerjaannya masih menyala dan tidak dapat dipadamkan kecuali oleh kedua empu yang sudah mati tersebut dan terus menerus membara dan karena tertimbun oleh gunung, lama kelamaan semakin panas dan semakin besar. 

Karena bertambah besar baranya, maka tempatnya menjadi terbatas sedangkan tekanannya menjadi meningkat. Bara api yang makin membesar itu menyembur ke atas dengan membakar bebatuan dan tanah yang menimbunnya hingga hancur. Oleh karena itu menimbulkan lubang yang semakin hari semakin bertambah luas hingga sekarang menjadi kawah.

Jumat, 03 Desember 2021

Dongeng Legenda Situ Bagendit

Dongeng Legenda Situ Bagendit merupakan cerita rakyat dari Jawab Barat, kalian pasti pernah mendengar dongeng ini kan?, Yuk kita simak cerita selengkapnya :

Legenda Situ Bagendit

Alkisah di desa Garut ada seorang janda kaya bernama Nyi Endit yang paling berkuasa dan ditakuti di desa tersebut. Karena harta kekayaannya yang berlimpah, ia gunakan untuk modal renten (sebagai lintah darat). Ia meminjamkan uang kepada penduduk dengan bunga yang amat tinggi. Demi untuk menjaga keamanan Nyi Endit menyewa beberapa jawara sebagai pengawal. Selain itu para jawaranya juga sering ditugaskan Nyi Endit untuk menagih paksa. Tidak segan-segan mereka kadang menyiksa setiap warga yang tidak mau membayar utang.

Saat musim panen tiba, rumah Nyi Endit selalu dipenuhi oleh hasil pertanian. Pada suatu ketika kemarau yang amat panjang melanda desa tersebut, mengakibatkan kekeringan serta musin paceklik yang sangat menyengsarakan warga. Akibat kekeringan serta gagal panen yang melanda warga desa tersebut banyak warga yang terkena penyakit busung lapar, hampir tiap hari ada saja warga yang dikabarkan meninggal akibat busung lapar.

Namun nasib Nyi Endit tidak seperti warga yang lain dilanda kekeringan serta kelaparan. Malah sebaliknya beliau setiap pekan mengadakan pesta pora bersama sanak keluarganya serta kerabatnya. Dengan hasil pertanian yang berlimpah, ia dapat makan sepuas-puasnya. “Malam ini kita rayakan keberhasilan usahaku” ujar Nyi Endit kepada sanak keluarganya. Ditengah -tengah pesta yang meriah itu Nyi Endit dikejutkan dengan kedatangan seorang pengemis yang tiba-tiba masuk ruangan untuk meminta sedekah, karena Nyi Endit tidak mau pestanya diganggu. makan ia menyuruh para pengawalnya mengusir pengemis tersebut. “Hei mau apa kau pengemis busuk! pergi kau dari tempatku!” dengan gusar Nyi Endit membentak.

Walau telah diusir keluar dari rumahnya, namun pengemis itu tetap diam tak beranjak dari halaman rumah Nyi Endit. Lalu ia berkata lagi, “Nyi Endit apakah kau mau memberikan sedekah pada orang melarat seperti aku?! hmm….. “Sungguh terkutup hidupmu Nyi Endit! engkau tega berpesta pora di tengah-tengah rakyat yang kelaparan dan sekarat karena darahnya setap hari kau hisap. Betul-betul kau lintah darat terlaknat!”. Mendengar perkataan pengemis itu Nyi Endit menjadi geram, lalu ia menyuruh para pengawal pribadinya untuk membunuh pengemis itu.

Tapi sungguh tak disangka si pengemis itu ternyata bukan orang sembarangan. Mungkin ia adalah orang sakti hingga dalam satu hentakan saja, semua pengawal Nyi Endit yang akan menyerang pengemis itu sontak terpelanting hingga puluhan meter. Mereka berteriak kesakitan dan tak mampu bangun lagi. Nyi Endit dan semua tamu yang hadir jadi terheran serta tak menduga si pengemis itu mempunyai kesaktian yang tinggi. “Nyi Endit!” teriak pengemis itu “sebelum aku meninggalkan rumahmu, karena kau tak mau berbaik hati kepadaku ku juga kepada warga yang lain. Maka aku ingin memberikan pertunjukan padamu…”kata pengemis itu seraya menancapkan sebatang ranting ke lantai. “Lihatlah ranting kayu ini!” sudah kutancapkan ke lantai. Nah, sekarang cabutlah kembali ranting ini, bila tak sanggup kau boleh mewakilkan kepada orang lain! bila kalian bisa mencabutnya, kalian orang-orang yang paling mulia di dunia ini!!.

Nyi Endit masih menganggap remeh pengemis itu. tapi ia begitu penasaran untuk mencabut ranting itu, maka disuruh pengawalnya yang berbadan cukup kekar untuk mencabutnya. “he….he…he…hee..
baik Nyai, kukira tak ada sulitnya!” kata pengawal itu dengan sombong. Mulailah ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencabut ranting itu, sungguh ajaib ranting itu tak tercabut seinci pun. “Nyi Endit, ini jawaramu yang kau bayar mahal itu tak berarti apa-apa bagimu. Lihatlah aku akan mencabutnya….!! setelah berkata demikian , pengemis dengan mudah mencabut ranting kayi itu. dan dari lubang bekas ranting itu tertancap memancarkan air dengan derasnya. “Nyi Endit …… sudah saatnya kau mendapat hukuman karena ketamakan serta dosa-dosamu memeras penduduk!” kata pengemis itu.

Tiba-tiba secara samar-samar pengemis itu menghilang entah kemana. Saat itu juga hujan deras melanda serta deselingi guncangan-guncangan gempa bumi yang seakan-akan menarik desa itu ke dalam perut bumi. Dalam sekejap air yang sangat deras yang memancar dari ranting  yang ditancapkan pengemis tadi membuat desa Nyi Endit yang malang itu sudah terendam air sampai membentuk danau kecil. Karena pengemis itu sudah tahu akan terjadi bencana seperti ini, jauh-jauh hari ternyata ia sudah memberi tahukan warga supaya segera mengungsi. makan semua warga yang mengungsi tersebut selamat dari bencana banjir besar. Dan oleh warga yang selamat melihat desa mereka sudah menjadi danau kecil. Yang kemudian mereka namakan danau kecil itu “Situ Bagendit”.

Pesan Moral Cerita Rakyat Jawa Barat Situ Bagendit :
Agar kita sebagai manusia harus selalu sadar dan ingat akan pentingnya hidup bergotong royong serta saling tolong menolong antar sesama manusia dan tidak boleh tamak, kikir, dan serakah apalagi memeras orang lain.
◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger