Selasa, 27 Agustus 2019

The Terrible Leak

Retold
By Yoshiko Uchida

One rainy night, long, long ago, a small boy sat with his grandmother and grandfather around a chaacoal brazier. Warming their hand over the glowing coals, they told stories and talked of many things. Outside, the wind blew and the rain splattered on the thatched roof of the cottage.

The old man looked up at the ceiling saying,"I surely hope we dont have a leak. Nothing would be so terrible as to have to put up a new thatched roof now when we are so busy in the fields."
The little boy listened to the lonely wail of the wind as it whipped through the bamboo grove. He shivered and turned to look at his grandfather's face. It was calm and smiling and unafraid.


"Ojii-san," the little boy said suddenly. "is there anything you're afraid of?"
The old man laughed,"why, of course, lad,"he said
"There are many things a man fears in life."
"Whell then,"said the little boy,"what are you most afraid of in all the world?'
The old man rubbed his bald head, and thought for a moment as he puffed on his pipe.
"Let me see," he said."Among human beings, I think I fear a thief the most."
Now, at the very moment the old man was saying this, a thief had climbed onto the roof of the coshed, hoping to steal one of the cow. He happened to hear what theold man said, and he thrust out his chest proudly.

"So!" he thought to him self," I am the very thing the old man fears most in all the world!" And he laughed to think how frightened the old man and woman would be if they only knew a thief was in their yard this very minute

"Ojii-san," the little boy went on,"Of all the animals in the world, which one are you most afraid of?"
Again, the old man thougt for a moment, and then he said, "of all the animals, i think I fear the wolf the most."

Just as the old man said this, a wolf was prowling around the cowshed, for he had come to see if there were some chickens he might steal. Whe he heard what the old man said, he laughed on himself. "Ah-ha!" he said. "So I am the animal the old man fears the most," and wiggling his nose, he sniffed haughtily


But inside the house, the little boy went on.
"Ojii-san," he said, "even more than a thief or a wolf, what are you the most, most, most afraid of?"
The old man sat thinking for a long while, and thoughts of ogres and demons and terrible dragons filled  the little boy's head. But the old man was listening to the rain as it splashed and trickled in rivulets of water around the house. He thougt again how terrible it would be to have a leak in his roof. He turned to the boy and said,"Well, the one thing I fear most of all right now is a leak! And I afraid one may come along any minute!"
Now when the thief and the wolf heard this, they didn't know the old man was talking about a leak in the roof. 
"A leak, "thougt the thief, "What kind of terrible animal could that be? if the old man fears it more than a thief or a wolf, it must be a fearsome thing!"
Down below, the wolf thougt the same thing."A leak must be a dreadful creature if the old man fears it more than me or a thief," he thought. And he peered into the darkness, wondering if a leak might not spring out of the forest, for the old man had said one might come at any moment.

Up on the roof of the cowshed, the thief got so excited he slipped and tumbled down into the darkness. But instead of falling to the ground, he fell right on the back of the wolf.

The wolf gave a frightened yelp. From somewhere above him in the dark night, something had leaped on his back and was clutching his neck. "This must be the terrible leak the old man talked about," thought the wold, and with his tail between his legs, he ran pell mell into the woods.

to be continue................

Senin, 26 Agustus 2019

Why the Sun and the Moon Live in The Sky

www.missadventures.us
Many years ago the sun and water were great friends, and both lived on the earth together. The sun very often used to visit the water, but the water never returned his visits. At last the sun asked the water why it was that he never came to see him in his house, the water replied that the sun's house was not big enough, and that if he came with his people he would drive the sun out.
He then said, "If you wish me to visit you, you must build a very large compound; but I warn you that it will have to be a tremendous place, as my people are very numerous, and take up a lot of room."
The sun promised to build a very big compound, and soon afterwards he returned home to his wife, the moon, who greeted him with a broad smile when he opened the door. The sun told the moon what he had promised the water, and the next day commenced building a huge compound in which to entertain his friend.
When it was completed, he asked the water to come and visit him the next day.
When the water arrived, he called out to the sun, and asked him whether it would be safe for him to enter, and the sun answered, "Yes, come in, my friend."
The water then began to flow in, accompanied by the fish and all the water animals.
Very soon the water was knee-deep, so he asked the sun if it was still safe, and the sun again said, "Yes," so more water came in.
When the water was level with the top of a man's head, the water said to the sun, "Do you want more of my people to come?" and the sun and moon both answered, "Yes," not knowing any better, so the water flowed on, until the sun and moon had to perch themselves on the top of the roof.
Again the water addressed the sun, but receiving the same answer, and more of his people rushing in, the water very soon overflowed the top of the roof, and the sun and moon were forced to go up into the sky, where they have remained ever since.

Sumber : http://www.worldoftales.com/African_folktales/Nigerian_folktale_16.html

Teki-teki Abu Nawas : Ayam dulu atau telur dulu????

www.ripleynurseries.co.uk
Teka-teki ini dari jaman baheula sudah sering kita dengar. Tapi tak pernah ada yang memuaskan jawabannya. Ayam dulu laaah...kan telor dari ayam" terus ayam dari apa? dari telor kan??? bulak balik dekok. coba kita tanya Abu Nawas apa jawabannya ???

Suatu hari Baginda Raja melihat induk ayam dan anak-anaknya bermain di halaman istana. Timbul pertanyaan dalam dirinya, manakah yang lebih dulu, ayam atau telornya. Semakin lama dipikirkan semakin Baginda pusing sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat sayembara ke seluruh negeri yang isinya 
"Barang siapa yang bisa menjawab mana yang lebih dulu ayam atau telor maka akan mendapat hadiah sekantung emas"
Ada dua syarat yang dalam menjawabnya. Pertama jawaban harus logis, masuk akal. yang kedua peserta harus dapat menjawab sanggahan dari Baginda.
Barang siapa yang tidak bisa menjawab pertanyaan Baginda maka akan mendapatkan hukuman penjara.

Meskipun hadiahnya menggiurkan, namun karena hukumannya juga berat, tidak banyak peserta yang ikut. Tercatat hanya empat orang termasuk di antaranya Abu Nawas. 

Pada waktu yang ditentukan, peserta pun berkumpul untuk memulai sayembaranya. 
Peserta pertama dipanggil ke depan Baginda. Dia datang dengan gemetar gugup dan ketakutan.
"Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?" tanya Baginda.
"Telur" Jawab peserta pertama dengan penuh keyakinan.
"Apa alasannya?" tanya Baginda
"Bila ayam lebih dahulu, itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur." kata peserta pertama menjelaskan.
"Kalau begitu siapa yang mengerami  itu?"tanya Baginda.
Peserta pertama terdiam, pucat pasi, tidak bisa menjawab pertanyaan Baginda. Penjaga pun menggiring dia ke penjara.

Kemudian peserta kedua maju. Ia berkata:
"Baginda, sebenarnya ayam dan telur tercipta dalam waktu bersamaan."
"Bagaimana bisa?"tanya Baginda
"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Kalau telur lebih dahulu juga mungkin karena telur berasal dari ayam dan tak mungkin bisa menetas kecuali dierami." peserta kedua menjelaskan dengan mantap
"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?"tanya Baginda memojokkan. Peserta kedua diam membisu tidak dapat menjawab pertanyaan Baginda. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Peserta ketiga pun maju. Ia berkata
"Tuanku, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu dari telur,"
"Sebutkan alasanmu?"kata Baginda
"Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina."kata peserta ketiga meyakinkan
"Lalu bagaimana ayam tersebut beranak pinak seperti sekarang. sedangkan ayam jantan tidak ada?" tanya Baginda.
"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. lalu menetas menjadi ayam jantan. Kemudian ayam jantan itu mengawini induknya sendiri,"Peserta ketiga menjelaskan
"Bagaimana kalau ayam betinanya mati sebelum kawin dengan ayam jantan?" tanya Baginda
Peserta ketiga tidak dapat menjawab sanggahan Baginda. Dia pun dimasukan ke penjara.

Tiba giliran Abu Nawas, ia berkata," Yang pasti adalah telur dulu baru ayam,"
"Coba terangkan dengan logis,"kata Baginda ingin tahu "Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam," kata Abu Nawas singkat.

Setelah berpikir lama. Baginda tidak bisa memberikan sanggahan dari jawaban Abu Nawas. Maka Abu Nawas dinyatakan sebagai pemenangnya.





Legenda Rakyat Kalimantan Selatan : Legenda Gunung Batu Hapu

www.griyawisata.com
Siapa yang pernah ke kota Rantau Kabupaten Tapin  Kalimantan Selatan? Jangan lewatkan berkunjung ke Gunung Batu Hapu. 

Cerita tentang Gunung Batu Hapu, sedikit ada kemiripan dengan ceritanya Malin Kundang di Sumatera Barat. Nah sebelum berkunjung kesana ada baiknya kita mengetahui sedikit banyak tentang legendanya. cekidot...

Konon menurut orang tua-tua, dahulu di dekat kota Rantau-sekarang Ibu Kota Tapin- tinggallah seorang janda tua bernama Nini Kudampai beserta anaknya yang bernama Angui di perbatasan desa Tambarang dan Lawahan.

Mereka tidak mempunyai sanak saudara yang membantunya. Untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya, Nini Kudampai bekerja keras seorang diri tanpa merasa capai dan mengeluh. Sedangkan Angui sang anak belum bisa membantu sama sekali. Kerjanya sehari-hari bermain. 

Angui bermain dengan binatang peliharaannya. Ia mempunyai tiga binatang kesayangan yang kemanapun pergi selalu bersamanya. yaitu, ayam jantan berbulu putih, anjing berbulu putih dan  babi berbulu putih juga.

Suatu hari, ketika Angui bermain, lewatlah seorang Saudagar Keling. Ketika saudagar tersebut melihat Angui, dia tertarik kepadanya karena ia melihat Angui mempunyai tanda-tanda fisik yang menunjukan hoki atau keberuntungan. Wajahnya  yang jernih dan cerah berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dahinya yang lebar dan lurus menunjukan pekerja keras. Dan memiliki tahi lalat yang disebut Kumbang bernaung.
Saudagar berkata dalam hatinya, "Anak ini mengandung hoki, aku harus mendapatkannya."

Saudagar pun menghampiri Angui dan menanyakan rumahnya. Setelah diberi tahu, tanpa menyia-nyiakan waktu, dia berangkat ke rumah Angui untuk bertemu dengan Nini Kudamai. Saudagar pun membujuk Nini Kudamai agar menyerahkan Angui kepadanya untuk dipelihara bersamanya.

"Nini, percayalah, aku akan mengurusnya seperti anak sendiri. Dan Nini bisa membuktikannya nanti. Dia akan datang kemari menjadi seorang yang kaya raya dan terkenal."
"Tapi dia adalah anakku satu-satunya. dan aku sangat menyayanginya,"Jawab Nini Kudamai
"Ya Ni, aku juga mengerti. Tak mungkin seorang ibu rela menyerahkan anaknya. Tapi, cobalah Nini berpikir, seandainya ia tetap disini bagaimana masa depannya?" Kata Saudagar, lanjutnya,"Bukan saya menghinakan keadaan Nini sekarang, Apakah Nini tidak ingin putranya menjadi orang sukses yang terkenal? dia akan menjadi kebanggaan Nini nanti setelah dewasa."kata Saudagar meyakinkah.

Akhirnya Nini Kudamai luluh juga hatinya. Demi kesuksesan putranya ia akhirnya menyerahkan tAngui kepada saudagar itu. Namun walaupun telah merelakannya, Nini tetap merasa sedih.

"Bu, tolong jaga teman-temanku. Tolong pelihara dengan baik. Aku sangat mencitai mereka,"Pinta Angui kepada ibunya saat hendak berangkat.
"Jangan khawatir Nak, ibu tak akan menyia-nyiakan mereka,"Jawab Nini Kudamai dengan perasaan haru dan sedih.

Maka setelah saling mengucapkan perpisahan dan doa, berangkatlah Angui dan Saudagar Keling. Angui dipelihara oleh saudagar dengan sangat baik seperti terhadap anak kandungnya sendiri. Karena saudagar seorang yang kaya raya. Apa yang diinginkannya selalu tersedia, Angui menjadi seorang yang manja dan keras kepala. Dia tidak mau bekerja, setiap harinya hanya bermain saja. Lama-kelamaan sifatnya menjadi buruk.

Setelah melihat perkembangan kelakuan anak angkatnya yang buruk, saudagar merenung.
"Ternyata aku salah menilai dia, Aku pikir dia akan mejadi anak keberuntungan. Malah begini jadinya."katanya menyesali keputusannya.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan Angui, Saudagar Keling akhirnya memanggil Angui ke hadapannya.

"Angui, aku memeliharamu, mendidikmu agar menjadi orang berguna dan baik. Namun ternyata apa yang aku ajarkan keu tak pernah menggubrisnya. Aku sudah sering memperingatkanmu agar berkelakuan baik, namun tak juga kau berubah. Aku sudah tak tahan dengan kelakuanmu. Mulai sekarang, aku tidak akan memeliharamu lagi. Pulanglah ke rumahmu."Kata Saudagar kepada Angui.

Angui terkejut mendengar penuturan ayah angkatnya. Dia terdiam tanpa bisa menjawab perkataan ayahnya. Maka dengan rasa menyesal telah mengecewakan orang tua angkatnya dan tidak menggunakan kesempatan selama ini dengan baik. Ia pun keluar dari rumah saudagar tersebut. Pergi tak tentu arah, tak berniat pulang ke kampung halamannya.

Sempat beberapa waktu terlunta-lunta, akhirnya ia pun sadar harus merubah dirinya menjadi orang yang berguna. Ia bekerja keras tanpa kenal lelah. Lambat laun kerja kerasnya terbayar dengan kesuksesan. Kekayaannya mulai bertambah dan bertambah. Lambat laun kekayaan dan kebesarannya mengalahkan ayah angkatnya dan ia menjadi saudagar terkaya di negeri Keling. Namanya mulai terkenal kemana-mana. Hingga akhirnya ia menikah dengan puteri Kerajaan Keling. Angui mendapat gelar baru yakni Bambang Padmaraga.

Lama tinggal di negeri Keling, Angui rindu dengan ibu, kampung halaman serta ketiga teman bermainnya yaitu babi putih, ayam putih dan anjing putih. Selain itu ia pun ingin memperkenalkan ibunya kepada isterinya.

Pada suatu hari, Angui mempersiapkan kapal yang lengkap untuk perjalanan ke kampung halamannya. Isterinya pun dibawa serta, tak lupa membawa dayang pengasuh  puteri. Di dalam kapal disediakan bilik khusus yang ditempati Angui dan isterinya dengan penataan yang serba mewah bak di istana.

Maksud keberangkatannya menyebar secara luas sampai ke kampung halamannya. Orang-orang membicarakan Angui yang miskin menjadi seorang menantu raja. Sang ibu, Nini Kudamai merasa terharu dan bangga mendengar kabar anaknya telah sukses dan menjadi menantu raja. Sudah tak sabar ia menunggu kedatangan anaknya.

Tak lama berselang, kapal yang membawa Angui dan isterinya sampai di pelabuhan yang dekat dengan kediamannya. Tak membuang waktu, Nini Kudamai segera pergi menuju pelabuhan tak lupa membawa tiga binatang peliharaannya. Sesampai di pelabuhan, ia melihat Angui di kapal beserta isterinya sedang berdiri.
"Anakku, anakku...!!! teriaknya kegirangan
"Siapa dia, Kanda?" tanya isterinya,"wanita itu memanggilmu anak, apakah dia ibumu?"
"Aku tak kenal, dinda",jawab Angui dengan perasaan malu, melihat ibunya datang dengan keadaan kumal.
"Dia pasti pengemis yang hendak meminta-minta,"tegasnya,"Penjaga...!!! usir wanita jembel itu, jangan sampai dekat-dekat kemari!" teriaknya kepada para pengawal.
Mendengar kata-kata dari Angui, anaknya, hancur hati Nini Kudamai. Dia pun segera meninggalkan pelabuhan dengan hati yang sedih dan marah. Ternyata anak yang telah dilahirkan dan dibesarkannya mempermalukan dirinya dan tak menganggap lagi sebagai ibu. sesampainya di rumah, ia berdo'a kepada Tuhan agar Angui dikutuk.

Tak beberapa lama, datanglah badai besar melanda lautan sekitarnya. Kapal yang membawa Angui dan rombongannya terombang ambing terbawa arus gelombang hingga terdampar di antara Tambarangan dan Lawahan. Akhirnya kapal dan isinya berubah menjadi batu. Kemudian dikenal dengan Gunung Batu Hapu yang sekarang menjadi objek pariwisata di Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan.

Banyak sekali kisah-kisah tentang kedurhakaan seorang anak terhadap orang tuanya. Ini seyogyanya menjadi pelajaran bagi kita semua agar kita tidak pernah melupakan orang tua. Sehebat apapun dan sekaya apapun diri kita saat ini, tak pernah lepas dari kasih sayang seorang Ibu di masa kecil kita. Sehingga Rasulullah Saw bersabda yang maknanya "Setiap dosa seorang hamba pembalasannya akan ditunda di akhirat, kecuali durhaka kepada orang tua.  Ia tidak akan dimatikan kecuali menerima adzab terlebih dahulu di dunia."

"Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anakmu akan berbakti kepadamu"


Senin, 19 Agustus 2019

Syair Bidasari 8 : Siti Bidasari membeli kipas Puteri

Segala pakaian semuanya ada
hanyalah kipas juga tiada
pergilah secara ayuhai Kanda
mintakan emas kepada Bunda

Kanda bangkit pergi berlari
mengadap saudagar dua laki isteri
serta mengangkat sepuluh jari
sahaya disuruh anakanda ke mari



Emas konon disuruhnya minta
hendak membeli kipas permata
dibawa dayang dari dalam kota
Tuan Puteri empunya harta

mendengar kata Puspa Sari
saudagar berkata kepada isteri
pergilah lihat oleh diri
timbangkan emas bawakan beri

Ia pun pergi diiringkan kanda
lalu duduk dekat anakanda
dilihatnya pakaian selengkapnya ada
baharu ditempa pahat bertanda

Isteri saudagar bijak laksana
datanglah pikiran amat sempurna
pekerjaan sapa gerangan sempurna
siapa taunya ada bencana

Bundanya berkata pada bidasari
janganlah dibeli kipas Kasuari
bukannya emas tidak kuberi
serupa ini boleh aku cahari

Biarlah bunda suruh tempakan
tukang emas kita upahkan
lebih dari ini bunda tatahkan
harta raja tuan pulangkan

Demikian Siti mendengarkan kata
ia menangis bermadah serta
jikalau bunda kasihkan beta
belikan sahaya kipas permata

Bundanya diam tidak berkata
belas kasihan di dalam cita
dipeluk dicium seraya berkata
diamlah Tuan emas juwita

kipas ini pun tidak bertapa
labih dari ini aku suruh tempa
berbagai jenis neka rupa
dengan kipas ini dapat serupa

Tersangat menangis Bidasari
dipeluk bundanya digusari
kipas dibeli tidak diberi
biarlah aku membunuh diri

didengar saudagar Lela Jauhari
bunyi menangis Bidasari
saudagar segera datang berlari-lari
diriba anaknya sepah diberi

Anakku Tuan jangan murka
janganlah nyawaku berhati duka
jikalau berapapun sekali harga

setimbang tuan aku beli juga

Anakku tidak dapat sahaja
berapa pula dengan puja
beberapa kandang habis belanja
diberi Allah Tuan ni hanya

berkata saudagar dayang ke sini
berapakah harganya kipas ini
berkata dayang Canda Mandini
jika dua timbang adakah berani

Saudagar tersenyum seraya berkata
beta pun makin tidak berharta
kehendak anak dengan air mata
lebih dari situ persembahkan beta

ditimbang emas lalu diberi
Dayang menyembah minta hai diri
serta datang menghadap puteri
tunduk menyembah sepuluh jari

Berkata puteri perlahan berbisik
adakah boleh diri selidik
dayang menyembah lakunya cantik
seraya berkata dapatlah patik

keempatnya masuk ke bawah penenggahan
berdatang sembah suara perlahan
berkat daulat yang berlimpahan
adalah Tuanku maksud perolehan

Beberapa kampung patik jalani
lapar dahaga patik tahani
telah berjalan kesana sini
hati yang takut jadi berani

Habislah patik jalani rata
seorang tak manis kepada mata
patik selidiki supaya nyata
hanyalah Tuanku molek dicita

Ada  sebuah kampung saudagar
terlalu kaya lagi pendekar
jalannya sulit terlalulah sukar
berlapis-lapis sasak dan pagar

Ialah ada seorang putera
parasnya elok tidak bertara
paras laksanana bidadari Indera
barang yang memandang kasih mesra

Demikian rupa Bidasari
tidak berbanding di dalam negeri
parasnya elok bijak bestari
namanya Encik Siti Bidasari

Jikalau dipandang Paduka Kakanda
gila berahi di dalam dada
pasti diambil akan isteri yang muda
menghabiskan kasih hati Baginda

Kecik moleh badannya nipis
cantik molek petah menjelis
anak rambutnya melentik wilis
Bagai Galuh Ratna Wilis

Sungguhpun ia anak saudagar
dengan anak menteri tidak  tertukar
dahinya seperti sehari bulan
penuh tambur bertimbalan

Jikalau tuanku ambilah taulan
manis beriringi dua sejalan

Jikalau sudah ia tersenyum
seperti serbat akan diminum
jikalau ditentang Sultan Anom
mabuk berahi khayal tak minum

bertelekan lentik terlalulah beda
lengannya seperti panah Ranjuna
wajahnya seperti bulan purnama
putih kuning sepah mengerna

Elok tak dapat lagi dikata
laksana gambar di dalam peta
jikalau terpandang kakanda mahkota
gundah gulana di dalam cinta

Cantik menjelis bukan kepalang
wajah berseri gilang gemilang
pinggannya ramping lehernya jenjang
tubuhnya sederhana dadanya bidang

Menjelis tak  dapat diperikan
barang yang melihat heran terpegan
gila berahi kenyang tak makan
laksana gambar dipetakan

terlalu sakit hati puteri
dayang memuji Bidasari
hatinya geram tidak terperi
fikir yang jahat juga digemari

bersambung

Rabu, 07 Agustus 2019

Kisah Abu Nawas : Teka Teki Abu Nawas


Raja Harun Ar Rasyid belum juga menemukan dua rahasia alam. Para menteri yang ditanya, tak ada satupun yang dapat menjawabnya. Karena sangat penasaran, Baginda Raja memanggil Abu Nawas ke istana
"Rahasia alam apa yang baginda ingin ketahui?" tanya Abu Nawas
"Abu Nawas, aku memanggilmu karena ingin mendengar jawaban yang memuaskan hatiku tentang 2 teki-teki alam ini," jawab Baginda
"Bolehkan hamba mengetahui teka-teki tersebut, Baginda?" tanya Abu Nawas lagi.
"Pertama, dimanakah sebenarnya batas jagat raya  ciptaan Tuhan kita?" tanya Baginda.
"Di dalam pikiran kita, wahai Baginda." jawab Abu Nawas tandas tanpa dipikir panjang.
"Baginda yang mulia," lanjut Abu Nawas,"Ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Allah menanamkan keterbatasan itu pada pikiran manusia. Bagaimana mungkin sebuah keterbatasan dapat memikirkan ketidakterbatasan. Oleh karena itu, manusia tidak akan pernah tahu batas dari alam jagat raya ini."

Baginda tersenyum puas mendengar penuturan Abu Nawas. Penjelasan Abu Nawas menurutnya sangat masuk akal.
"Abu Nawas, teka-teki yang kedua adalah "manakah yang lebih banyak bintang di langit atau ikan di lautan?" tanya Baginda
"Ikan di lautan,"jawab Abu Nawas tanpa pikir panjang
"Apakah kau pernah menghitung ikan di lautan, Abu Nawas?" tanya Baginda kaget mendengar jawaban spontan Abu Nawas
"Belum pernah,Baginda."jawab Abu Nawas tanpa ragu
"Bagaimana mungkin kau dapat mengatakan ikan lebih banyak, padahal belum tahu jumlahnya?"tanya Baginda
"Baginda, kita semua tahu bahwa ikan-ikan dilautan itu setiap hari ditangkapi oleh orang-orang banyak dalam jumlah yang besar. Namun seolah-olah tak pernah habis-habisnya. Sedangkan bintang-bintang itu tidak pernah rontok, namun banyak juga."
Baginda tersenyum kedua kalinya karena puas mendengar jawaban Abu Nawas. Sebelum Abu Nawas pulang, baginda memberikan hadiah kepada Abu Nawas. 

Apa Jawaban Abu Nawas ketika ditanya "Ayam duluan atau telor duluan"??? 

Bersambung :D

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger