Selasa, 30 November 2021

Menjadi kaya gara-gara tikus mati


Alkisah hiduplah seorang nenek bersama cucunya. Mereka berdua hidup miskin. Untuk mencukupi kehidupannya, si nenek menjual barang-barang di rumahnya. Sampai akhirnya semua barangnya habis.  Tidak ada satu pun barang tersisa yang bisa dijualnya.
Maka ia berkata kepada cucunya, “Cucuku, aku sudah tidak punya apa-apalagi untuk dijual. Sekarang waktunya kamu mencari nafkah.”


Cucunya memikirkan usaha apa yang cocok untuk dirinya. Dia tidak mau bekerja kepada orang lain. Namun karena tidak punya modal, ia berniat meminjam kepada lintah darat.
Setelah di utarakan kepada si lintah darat maksudnya meminjam uang, si lintah darat malah tertawa dengan nada mengejek. Pikirnya, anak muda ini tidak berpengalaman wirausaha, miskin pula. Bagaimana dia bisa mengembalikan utangnya. Tak punya harta yang bisa dijadikan sebagai barang jaminan. Maka si lintah darat berkata kepada anak muda itu, “Hai anak muda, ambil bangkai tikus itu, “ Si lintah darat menunjuk ke bangkai tikus di jalan, “Aku mau lihat sepandai apa kau berusaha.  Kalau memang pandai, kau bisa melakukan sesuatu dengan tikus itu. Kalau kau bodoh, aku percuma saja meminjamkan kau uang.”

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu semua tertawa terbahak-bahak, karena menganggap itu sebagai sebuah lelucon. Tak disangka, si anak muda berjalan ke arah bangkai tikus dan memungutnya tanpa merasa jijik. Kemudian ia berjalan ke pasar menjajakan tikus mati.
“Tikus mati.... , tikus mati...., siapa yang mau beli?!!,” Teriaknya dengan penuh semangat. Seorang pedagang yang sedang melatih kucing untuk menangkap tikus di kiosnya memanggil si anak muda dan membeli tikus mati itu serta memberi sejumlah biji bijian bengal (sejenis ketapang) sebagai imbalannya.

Si anak muda membawa biji-bijian ke rumahnya kemudian memasukkannya ke dalam kendi dan mencampurnya dengan air, lalu ia tambahkan rempah-rempah ke dalamnya hingga menjadi minuman yang menyegarkan. Ia membawa kendi tersebut dan duduk di pinggir jalan tempat lewat para penebang dan buruh tani jika pulang ke rumah. Para buruh tani dan penebang pohon yang kelelahan berhenti di tempat si anak muda dan meminum minuman rempah-rempah buatannya. Mereka sangat senang mendapatkan minuman yang menyegar sehabis kerja yang melelahkan. Sebagai imbalannya, para petani beberapa  memberi hasil taninya seperti tomat, sayuran dan lain-lain. Sedangkan para penebang memberikan beberapa kayu bakar.

Si anak muda itu membawa pulang  hasil bumi dan kayu bakar ke rumah neneknya. Setiap hari dia berdagang minuman  biji bengal, dan imbalannya ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Setelah kayu bakar yang dikumpulkan cukup banyak, maka ia mulai membuka tokonya sendiri. Ia bekerja keras di tokonya dan perlahan-lahan menjadi orang kaya.

Saat menginjak dewasa, ia telah  menjadi seorang pengusaha yang sukses. Suatu hari ia pergi ke tukang pandai emas. Dia memesan patung tikus emas. Kemudian ia menyerahkannya kepada si lintah darat sebagai rasa terima kasih karena telah memberikan ide untuk berusaha dan menghasilkan uang dari seekor tikus mati.

Si lintah darat sangat kagum dengan kepandaian wirausaha si anak muda. Ia menawarkan untuk menikahi putrinya. Sang nenek pun tinggal bersama mereka. Si anak muda tetap menyediakan minuman biji bengal tetapi dia berikan secara Cuma-Cuma.

Yaa...seperti kata pepatah
“Where There’s a will, There’s a way.”
“Nothing easy but nothing imposible
“Dimana ada kemauan disitu ada jalan”

Punya kemamapuan tapi tidak punya kemauan it’s nothing

To Dilaling (Orang yang Hijrah)


Dahulu kala di dsebuah puncak bukit di Napo, berkuasalah seorang raja yang bernama Raja Balanipa. Biasanya seorang raja menginginkan seorang putera sebagai penerus, tetapi Raja Balanipa sebaliknya, dia tidak mau memiliki seorang putera. Menurutnya kalau punya anak laki-laki suatu saat dia pasti akan mengambil alih kerajaannya. Raja tidak mau digantikan meskipun oleh anaknya sendiri. Makanya setiap isterinya melahirkan seorang anak laki-laki, lantas dia membunuhnya.
Suatu hari, raja berniat berburu ke daerah Mosso. Pada saat itu, isterinya sedang hamil tua yang kemungkinan beberapa hari lagi akan melahirkan. Karena khawatir isterinya melahirkan seorang anak laki-laki, maka dia membawa serta isterinya berburu dan menitipkannya di Puang Mosso. Dia yakin isterinya tidak sanggup membunuh anaknya sendiri kalau sampai melahirkan anak laki-laki. Sebelum berangkat berburu raja berpesan kepada Puang Mosso


“Ingat baik-baik, kalau isteriku melahirkan seorang anak laki-laki kau  harus  segera membunuhnya,”titahnya kepada Puang Mosso
Ketika raja pergi berburu, tak lama kemudian isterinya melahirkan seorang anak laki-laki. Puang Mossa bingung apa yang harus dilakukan. Dia tidak  tega membunuh bayinya.
“Kalau raja ada di sini, pasti dia telah membunuhnya,” gumamnya.
Melihat permaisuri melahirkan, anjing yang menjaganya segera menjilati sarung bekas persalinannya, hingga moncongnya penuh darah. Kemudian berlari menghadap raja sambil mengonggong terus menerus. Ketika raja melihat moncong anjingnya berlumuran darah, tahulah ia bahwa permaisuri telah melahirkan.

Puang Mosso yang tidak tega membunuh bayi permaisuri akhirnya menyembelih kambing dan menguburkannya kemudian diberi nisan seolah-olah bayi.
Setelah pulang dari berburu, Raja bertanya kepada Puang Mosso, “Bagaimana keadaan permaisuri, sudah melahirkan?”tanyanya
Dijawab oleh Puang Mosso, “Sudah Tuan, dia  melahirkan anak laki-laki. Dan aku telah membunuhnya  dan menguburkannya di kebun. Jika Baginda ingin melihatnya, saya antar ke tempatnya,”Kata Puang Mosso meyakinkan raja.
Raja pun berangkat bersama Puang Mosso untuk melihat  kuburan anaknya. Setelah sampai dan melihat ada kuburan baru, ia pun meraasa senang.
Tidak terasa waktu telah bergulir, putra raja itu makin besar, dia sudah pandai belajar dan mengenal orang. Karena khwatir rahasianya akan diketahui oleh rajanya nantinya, maka Puang Mosso menitipkan putra raja kepada seseorang yang sedang berlayar ke Pulau Salemo yang tidak jauh dari bukit Napo
Setelah di Salemo, anak itu semakin tumbuh menjadi remaja. Dia senang memanjat. Suatu hari, tiba-tiba datang seekor burung  rajawali raksasa menyambar dan mencengkram bahunya. Lalu membawanya terbang ke tempat yang jauh sampai di Gowa. Burung rajawalipun menjatuhkannya di pesawahan. Petani yang menyaksikan peristiwa itu segera melaporkan kepada raja Gowa.
“Baginda, kami melihat seorang anak yang dijatuhkan oleh seekor rajawali di tengah sawah. Dia anak yang gagah. Bagaimana kalau kita tanya dari mana dia?”

Begitu Raja Gowa mengamati anak itu, ia segera tertarik dan berkata dalam hati, “Anak ini bukan  sembarang anak biasa. “ oleh karena itu dipeliharalah anak tersebut hingga dewasa, menjadi orang yang kuat, gagah, dan sakti.
Raja Gowa kemudian mengangkat orang yang  diterbangkan Rajawali ini menjadi panglima perang. Kalau raja pergi berperang , pasukannya selalu menang berkat kesaktian panglimanya. Kehebatannya tak tertandingi.

Berita tentang kesaktian panglimanya terkenal sampai kemana-mana. Sehingga Raja Gowa menjulukinya I Manyambungi.
Sementara di Bukit Napo, Raja Balanipa telah wafat dan digantikan oleh  Raja Lego yang sakti. Raja ini sangat kejam dan bengis. Ia selalu menyiksa dan membunuh siapa saja yang menentangnya. Rakyat selalu dalam keadaan ketakutan. Para raja bawahannya mulai khawatir. Banyak yang dibunuh dan tak ada yang dapat melawannya.

Para raja  bawahannya berunding mencari solusi. Salah seorang raja berkata: “Saya mendengar di negerai Gowa ada orang yang sakti mandraguna yang pilih tanding. Dia  panglima kerajaan Gowa. Bagaimana kalau kita meminta tolong dia?” mereka sepakat dengan usulannya.
Maka dikirimlah utusan ke gowa untuk bertenu dangan I Manyambungi. Akan tetapi I Manyambungi  selalu menolaknya.  Kemudian  dia berkata: “Aku akan turun ke negeri Balanipa membantu kalian, kalau Puang Mosso yang datang menjemputku. Janji saya ini tidak boleh didengar oleh Raja Gowa, karena beliau tidak akan pernah mengizinkanku meninggalkan negeri ini.”

Para utusan gembira mendengar permintaan I Manyambungi. Segera mereka pulang ke Balanipa. Sesampainya di Balanipa salah seorang utusan yang bernama Puang Napo berkata kepada Puang Mosso.. “Pergilah ke Gowa, karena beliau hanya mau datang kemari jika engkau yang menjemputnya. Terkejut Puang Mosso mendengar penuturan Puang Napo. Ada rasa cemas dan secercah harapan dalam hatinya,

“Jangan-jangan putera Raja Balanipa yang menjadi I Manyambungi, “Pikirnya dalam hati.“aku harus segera mencari tahu.”
Lalu berangkatlah Puang Mosso dengan kapal layar ke Gowa. Beliau menghadap I Manyambungi dengan perasaan berdebar-debar. Berkatalah I Manyambungi, “Saya betul-betul akan berangkat ke Balanipa, karena saya mengingat budi baik mu kepadaku sewaktu kecil. Dan engkaulah yang menyelamatkan dan memeliharaku.” Katanya menjelaskan.
Puang Mosso tak berkedip melihat I Manyambungi. Kemudian ia berkata, “Tuan, maafkan hamba, mohon julurkan lidah Tuan,” Pintanya.

Ketika lidahnya dijulurkan, terlihat lidah itu berwarna hitam dan berbulu. Puang Mosso pun langsung memeluk I Manyambungi dan berkata, “Benar, engkau adalah putera raja.”
Tidak lama kemudian, saat tengah malam, berangkatlah mereka dengan menggunakan kapal layar secara sembunyi-sembunyi karena  karena jika Raja Gowa tahu, ia tidak akan iizinkan berangkat malam hari. Itulah sebabnya daerah itu disebut (To Dilaing) (orang yang hijrah) karena beliau pindah dari Gowa ke Napo

I Menyambungi yang diberi gelar To Dilailing.  menantang  Raja Lego  dan berhasil membunuh raja bengis tersebut. Akhrinya,  beliaulah  yang menjadi penerus tahta kerajaan Balanipa  yang kacau balau pada waktu itu. pada masa pemerintahan I Manyambungi negeri tersebut menjadi aman sentosa, dan makmur. .



Minggu, 28 November 2021

Si Lundu Nipahu Kisah Rakyat Sumatera Utara


 image: serenemaklong.blogspot.co.id
Dahulu kala, di sebuah kerajaan hiduplah seorang raja dengan putera mahkotanya yang bernama Lundu Nipahu. Rakyatnya sangat mencintai mereka berdua karena memerintah dengan adil dan bijaksana. Namun tanpa di duga, paman Lundu Nipahu melakukan pemberontakan mengambil alih kerajaan dan membunuh sang Raja. Beruntung Si Lundu Nipahu dapat melarikan diri dengan selamat.  Siang malam dia  berjalan tanpa henti karena takut terkejar pasukan pamannya.

Suatu hari, di dalam hutan belantara ia  duduk beristirahat di bawah pohon besar. Tiba-tiba lewatlah ular . dengan membawa katak di mulutnya. Katak itu menjerit-jerit kesakitan. Dengan segera Si Lundu Pahu berdiri dan mengejar ular itu. Dengan menggunakan tongkat yang selalu dibawanya ia menekan kepala ular itu sehingga katak dapat melompat melepaskan diri.
“Terima kasih anak muda, budi baikmu tidak akan pernah aku lupakan, “Kata katak sambal melompat pergi


Terkejut si Lundu Nipahu mendengar katak dapat berbicara. Kemudian ia duduk kembali di tempat semula. Tidak lama kemudian, tiba-tiba muncul ular yang membawa katak tadi di hadapan si Lundu Nipahu. Belum sempat ia bertindak terdengar ular berbicara:

“Hai anak muda, kenapa engkau menolong katak itu?”kata si ular.
Si Lundu Pahu terkejut dan ketakutan. Ia hendak mundur, tapi punggungnya sudah menempel di pohon besar. Tidak bisa bergerak lagi.
“Ayo jawab, kalau tidak, aku akan membunuhmu,” Ular mengancam

Dengan gemetar penuh ketakutan, si Lundu Nipahu menjawab: “Maaf, aku harus melepaskan katak itu karena dia butuh pertolongan. Ayahku selalu menasehatiku agar aku selalu menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Kalau tidak kutolong, berarti aku telah melanggar nasehatnya”
“Baiklah aku terima alasanmu. Karena niat kamu menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan, kau pun harus menolongku. Karena gara-gara kamu, aku bisa mati kelaparan.”Kata ular itu.

“Aku tidak membawa apa-apa. Dengan apa aku harus menggantinya?” tanya Si LUndu Nipahu.
“Kau bisa ganti dengan daging pahamu sebesar katak.” Jawab ular
Karena tidak ada pilihan, diapun terpaksa memotong daging pahanya. Kemudian memberikannya kepada ular. Setelah mendapatkan daging paha si Lundu Nipahu, ular itu pun pergi ke semak-semak.
Si Lundu Pahu tergelak kesakitan. Dari pahanya mengucur darah segar.

“Aduh, siapa yang dapat menolongku?”Si Lundu Nipahu mengerang kesakitan.
Tiba-tiba dari semak-semak, ular itu muncul kembali menghampiri si Lundu Nipahu, di mulutnya terlihat selembar daun. Si Lundu Nipahu ketakutan, ia hendak bergerak tapi tak sudah tak sanggup. Dia berteriak minta tolong karena mengira ular akan mematuknya. Tetapi tiba-tiba ular itu berkata:

“Jangan takut anak muda!, Aku tak akan menggigitmu. Ambillah daun di mulutmu, kemudian sapukan ke luka di pahamu!”
Si Lundu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh ular. Segera dia ambil daun yang ada di mulut ular dan menyapukannya ke lukanya.Si Lundu Nipahu Kaget bukan kepalang,  dia melihat lukanya sembuh sediakala tanpa ada bekasnya sama sekali. Belum hilang rasa kagetnya. Ia mendengar ular itu berkata:

“Anak muda, simpanlah daun itu. Ia dapat menyembuhkan penyakit apapun. Aku berikan kepadamu, karena kamu anak yang taat kepada orang tuamu dan suka menolong.” Selesai berkata, ular itu pun menghilang ke balik semak-semak.
Setelah hilang lelahnya dan pikirannya tenang karena peristiwa yang mengagetkan dan menakjubkan dirinya, ia pun kembali melakukan perjalanan. Sepanjang hari berjalan tak tentu arah, yang penting dapat keluar dari hutan itu. Setelah lama berjalan, dia menemukan jalan keluar yang menuju sebuah kerajaan.

Si Lundu Nipahu masuk ke perkampungan penduduk di saat menjelang malam. Ia tidak tahu harus tidur di mana. Dari kejauhan ia melihat seorang ibu tua yang berjalan ke arahnya. Segera ia menghampiri dan berkata.
“Maaf Bu, di sini ada penginapan?” tanya Si Lundu Nipahu.
Si Ibu tua melihat si Lundu Nipahu dengan seksama. dalam hatinya ia berkata: “Orang ini keliatannya orang baik, sikapnya sopan pula.” Ia hampir lupa dengan pertanyaan Si Lundu Nipahu. Kemudian ia menjawab: “di sini tidak ada penginapan Tuan. Memangnya Tuan mau pergi kemana?” tanya Ibu Tua.
“Entahlah…saya akan hanya mengikuti kaki melangkah, tidak punya tujuan pasti.”Jawab si Lundu Nipahu dengan sedih.
“Kalau Tuan mau, tinggal saja di rumah Saya,”Si Ibu menawarkan diri, “Saya tinggal sendirian di rumah” jelasnya. Mendengar tawaran si Ibu Tua, Lundu Nipahu menerima dengan senang hati. Tinggal ia dengan si Ibu Tua.

Telah berbulan-bulan Si Lundu Nipahu tinggal bersama si Ibu Tua. Selama itu, Si Ibu sangat menyayanginya karena ia berbudi baik dan rajin. Suatu malam, si Ibu bercerita bahwa raja di negerinya sedang bersedih karena puteri satu-satunya sedang sakit keras.
“Sakit apa Bu?” tanya Si Lundu Nipahu penasaran.
“Entahlah, tidak ada seorang pun yang tahu puteri sakit apa. Dia hanya berbaring di tempat tidur. Badannya semakin hari semakin kurus. Kami kasihan melihatnya.” Si Ibu bercerita dengan penuh kesedihan.

“Memangnya tidak di bawa ke tabib Bu?”Tanya si Lundu Nipahu.
“Sudah puluhan bahkan mungkin ratusan tabib mencoba menyembuhkan puteri. Tapi tak ada satupun yang berhasil menyembuhkannya. Tidak hanya tabib dari negeri ini saja, bahkan Baginda Raja sudah minta tolong tabib dari kerajaan lain. Tak ada yang mampu pula.”

Si Lundu Nipahu bersimpati dengan keadaan raja. Dia teringat daun yang diberikan oleh ular. Keesokan harinya dia berangkat ke istana. Dengan kesopanan seorang pangeran, dia dapat diizinkan masuk ke istana. Baginda Raja merasa kagum dengan tatakrama Si Lundu Nipahu. Ia pun melihat perangai dan wajah si Lundu Nipahu yang penuh kewibawaan. pikirnya, “Tak mungkin orang biasa yang berprilaku seperti ini. Pasti dia seorang bangsawan. Tingkah lakunya seperti orang yang biasa di lingkungan istana.” Hatinya berharap banyak Si Lundu Nipahu dapat menyembuhkan Puteri.

“Baginda, izinkan saya mencoba menyembuhkan Puteri, semoga Yang Maha Kuasa berkenan mengangkat penyakitnya,”Pinta Si Lundu Nipahu.
“Silahkan anak muda,”Jawab Baginda Raja, “Semoga Tuhan menolong mu dan menolong anakku, “tambah sang raja penuh harap.

Atas izin Baginda Raja, Si Lundu Nipahu masuk ke kamar sang puteri. Kemudian ia mengambil daun yang diberikan ular kepadanya. Kemudian disapukan ke kening sang puteri. Gadis yang amat rupawan ini pun segera sembuh. Semua yang hadir termasuk baginda Raja sangat takjub dan gembira hatinya melihat puterinya sembuh kembali.

“Sudah kuduga, engkau bukan orang sembarangan, Anak Muda,”Kata Baginda Raja sambil menepuk bahu Si Lundu Nipahu, “Sebenarnya siapa dirimu anak muda?”tanya Raja penuh penasaran.
Si Lundu Nipahu pun menceritakan kisahnya. Dia menjelaskan bahwa dulunya seorang anak raja yang terusir dari negerinya karena pamannya memberontak. Gembira hati sang Raja, karena mendengar Si Lundu Nipahu adalah anak seorang raja. Karena dalam hatinya ia ingin menikahkan puterinya dengan si Lundu Nipahu.

“Lundu Nipahu, karena kamu telah menyembuhkan puteriku, aku berniat menikahkanmu dengan puteriku. Bagaimana menurutmu?”Tanya sang Raja.
“Jika Baginda berkehendak, hamba akan turuti. Apalah hamba hanya seorang pangeran yang terusir.” Jawab Si Lundu Nipahu.
Maka baginda Raja menikahkan Si Lundu Nipahu dengan puterinya. Diadakanlah pesta yang meriah. Semua rakyatnya bergembira. Termasuk si Ibu tua yang menampung Lundu Nipahu di undang ke istana.

Setahun kemudian, Si Lundu Nipahu dan isterinya serta rombonga prajurit berlayar melalui sungai menuju kerajaannya. Prajurit yang ikut sangat banyak , karena berniat memerangi pamannya yang telah mengambil alih kerajaannya.
Di tengah perjalanan, cincin kerajaan yang selalu dia pakai di jari manisnya terjatuh ke sungai. Dengan segera para prajurit menyelam ke dalam sungai. Namun karena sungainya dalam dan cukup deras, mereka tidak dapat menemukan cincinnya. Si LUndu Nipahu termenung dan sedih,sebab cincin itu merupakan satu-satunya benda kerajaan yang dapat membuktikan bahwa dia adalah seorang pewaris kerajaan.

Ketika semua menyerah kelelahan mencari cincin yang jatuh, tiba-tiba meloncat dari dalam sungai seekor katak ke hadapan mereka. Kemudian katak itu mengeluarkan cincin yang jatuh dari mulutnya. Belum hilang keterkejutan mereka, katak itu telah meoncat kembali ke sungai. Si Lundu Nipahu dan semua rombongan merasa dan gembira sekaligus takjub dengan kejadian itu. Si Lundu Nipahupun menceritakan pengalamannya kepada mereka bahwa katak itu sebelumnya telah ia tolong dan berjanji akan membalas budi. Semakin kagumlah mereka kepada Si Lundu Nipahu.

Pelayaranpun di dilanjutkan. Setelah tiba di negeri Si Lundu Nipahu, mereka berhenti di pinggir sungai dan memasang perkemahan bersiap-siap untuk menerima serangan dari pamannya. Sebab ia yakin bahwa kerajaannya telah menerima berita kalau ada pasukan kerajaan lain yang datang.
Di tunggu-tunggu, pasukan kerajaan tak kunjung datang menyerang. Tiba-tiba dari seseorang tergopoh gopoh menuju kemah si Lundu Nipahu. setelah diperhatikan ternyata dia hanya tukang kebun kerajaan.


“Paman Napu…?”Tanya Si Lundu Nipahu keheranan.
“Pangeran Lundu..?”Tukang kebunpun kaget melihat Si Lundu Nipahu ada bersama tentara penyerang.
“Benar Paman, aku si Lundu yang dulu sering bermain dengan Paman.”Jawab Si Lundu Nipahu dengan rasa senang.
“Pangeran Lundu, syukurlah Tuan datang kembali dengan selamat. Benar-benar kedatangan Tuan sangat tepat.” Kata paman Napu
“Apa yang terjadi Paman?”Tanya Si Lundu Nipahu keheranan.
“Tiga hari yang lalu, paman Tuan meninggal di patuk ular saat berburu di hutan. Sekarang kerajaan tidak ada yang memimpin. Rakyat menunggu kedatangan Tuan.” Paman Napu menjelaskan.
“Mungkin paman mati di patuk ular yang telah memberi daun obat itu,”Pikir Si Lundu Nipahu.

Maka berangkatlah rombongan si Lundu Nipahu menuju istana. Kabar kedatangan Si Lundu Nipahu telah terdengar ke seluruh rakyat. Mereka berjejer di pinggir jalan menanti kedatangan si Lundu Nipahu. ketika rombongan Si Lundu Nipahu dan isterinya lewat, rakyat menyambut dengan gembira. Mereka mengelu-elukan si Lundu Nipahu. Dia pun membalas dengan melambaikan tangan kepada  rakyatnya.

Atas permintaan rakyatnya, si Lundu Nipahupun diangkat menjadi raja. Dia memerintah kerajaan bijaksana seperti ayahnya dulu memerintah.



Sabtu, 27 November 2021

Dua kurma yang mencegah diterimanya amal

Ibrahim ibnu Adham yang biasa dikenal sebagai Abu Ishak singgah di kota Makkah. Dia singgah di toko kurma dan membelinya. Ketika kedua matanya melihat ke tanah, ia menemukan dua buah kurma di antara kedua kakinya. Mengira itu adalah kurmanya yang jatuh, diapun memungutnya kemudian di Makan. 

Setelah urusannya selesai di kota Makkah selesai, ia berangkat ke Baitul Maqdis. Kemudian ia memasuki kubah masjid yang terbuat dari batu besar dan beribadah di dalamnya. Tanpa disadari Ibrahim Ibn Adham tertidur di dalamnya. Dalam mimpinya ia bertemu malaikat yang masuk ke dalam kubah masjid tersebut. Mereka saling bertanya satu sama lain.


"Siapa manusia ini?" tanya salah satu malaikat
"Ia adalah Ibrahim Ibn Adham dari Khurasan,"jawab yang satu.
"Orang inikah yang setiap hari  amalnya naik ke langit dan dikabulkan?" tanya yang lain
"Benar,"jawab yang satunya, "akan tetapi  tahun ini amalnya tertolak dan doanya pun tidak dikabulkan karena ia telah memakan dua buah kurma yang bukan haknya setahun yang lalu."

Malam itu juga para malaikat sibuk beribadah kepada Allah Swt hingga terbit fajar. Ibrahim Ibn Adham pun terbangun. Ketika fajar mulai menyingsing, Ibrahim Ibn Adham segera berangkat ke Makkah menuju ke tempat penjual kurma yang pernah ia singgahi satu tahun yang lalu. Ketika sampai di tempat penjual kurma, ia tidak menemukan lelaki tua yang menjaga warung, yang ada seorang anak muda.

"Hai anak muda, apakah ini warung pemiliknya lelaki tua setahun yang lalu?" Tanya Ibrahim Ibn Adham. 
"Benar Tuan, beliau adalah ayahku. Namun telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu." Jawab anak muda, "saya,anaknya." lanjutnya menjelaskan.
"Begini anak muda,"sahut Ibrahim Ibnu Adham, "Saya satu tahun lalu mampir di warung ini, kemudian membeli beberapa kurma. Ketika aku melihat ke tanah, ada kurma dua di antara dua kakiku. Aku mengira itu adalah kurmaku yang telah dibeli terjatuh. Tanpa pikir panjang akupun memakannya. Nah, ternyata itu bukan bagianku. Oleh karena itu, karena engkau sebagai ahli warisnya, aku mohon engkau mau menghalalkan kurma itu untukku."Ibnu Adham menjelaskan.

Setelah mendengar cerita itu, anak muda berkata, "Bagianku telah aku halalkan kepadamu, tapi aku masih memiliki ibu dan saudara perempuanku."
"Di mana mereka?" Tanya Ibrahim Ibn Adam
"Ada di rumah, "Jawab pemuda itu.

Kemudian pemuda itupun mengantar Ibrahim Ibn Adham ke rumahnya. Ketika tiba di rumahnya, ia bertemu dengan seorang ibu tua yang menggunakan tongkat. kemudian setelah diperkenalkan oleh pemuda itu, iapun menjelaskan maksud kedatangannya. setelah mendengar cerita Ibrahim Ibn Adham, si Ibu menjawab, "Biarkanlah aku halalkan bagian kurmaku padamu,"
Kemudian saudari perempuan si pemuda dipanggil dan dimohon menghalalkan bagian kurmanya. wanita itupun menjawab sama bahwa ia telah menghalalkannya. 

setelah selesai urusannya di Makkah, Ibrahim Ibn Adham kembali mendatangi Baitul Maqdis. Kemudian ia pun masuk ke kubah masjid, lalu beribadah dengan khusyu. Hingga karena rasa ngantuk yang begitu kuat, ia pun tertidur. Pada saat tertidur, ia bermimpi para malaikat mendatangi kubah tersebut, mereka bercakap-cakap satu sama lain.
"Ini Ibrahim Ibn Adham  yang amalnya tertolak selam setahun, tetapi  setelah menyelesaikan  masalah dua kurma dengan pemiliknya, segala amal dan doanya diterima kembali oleh Allah Swt., serta Allah mengembalikannya ke derajat yang tinggi. 

Ibrahim Ibn Adham sangat gembira mendengar berita yang datang dari para malaikat tersebut. karena gembiranya, ia menangis tersedu-sedu. sejak saat itu, ia tidak makan kecuali sesudah jelas kehalalannya.

Dua potong kurma menyebabkan tertolak amal dan doanya. bagaimana dengan jutaan, ratusan juta, milyaran???

Kamis, 25 November 2021

Racun itu bernama Harta

Ketika Nabi Isa As memberi khotbah kepada kaumnya, di antara mereka yang mendengarkan terdapat tiga orang yang berpenampilan kumal.  
Salah satu di antara mereka tiba-tiba dengan lancang berkata, “Hai ibnu Maryam, bagi kami surga di akhirat sana tidaklah penting. Kamu bisa  hidup tentram dan  bahagia tanpa agama. Yang penting kami banyak  harga itu yang penting.”
“harta tidak akan menjamin ketentraman hidup saudara-saudaraku,”Sahut Nabi Isa dengan penuh kasih sayang.
“Omong kosong apa yang kau ucapkan itu? hartalah yang membuat hidup kita selalu diliputi kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.” Bantah mereka bersikeras.


“Baiklah saudara saudara punya penapat demikian. Nanti datanglah ke tempatku. Kalian bertiga. Kita akan berbicara barangkali ada rizki buat saudara-saudara.” Kata Nabi Isa.
Mereka tahu kalau Isa ibnu Maryam adalah orang yang tak pernah berdusta, maka setelah selesai  acara khotbah itu, dengan gembira mereka datang ke kemah Nabi Isa As.. Mereka oleh Nabi Isa As diberi sebuah peta tempat menyimpan harta kekayaan yang banyak sekali. dalam peta itu diterangkan  letaknya di puncak bukit yang cukup terjal di dalam seguah gua yang tersembunyi.

Alangkah gembiranya hati mereka dengan bayangan akan memperoleh harta berlimpah yang mereka idam-idamkan. Berangkatlah mereka dengan membawa peralatan yang ditubuthkan.
Ditelusurinya jalan menuju bukit tersebut sesuai dengan petujuk peta. Dan akhirnya setelah dicocokkan berulang ulang dengan gambar dalam peta, mereka yakin bahwa gua berpintu yang kini dihadapan mereka  itu adalah tempat penyimpanan harta benda yang mereka buru.
Dengan hati yang berdebar-debar mereka memasuki gua. Dan terrnyata benar, di sebuah ruangan yang cukup besar dalam gua itu terdapat peti peti yang di dalamnya perhiasan emas permatadan berliat  dalam jumlah yang tak terkira banyaknya.

Mereka kemudian berunding, bagaimana cara untuk mengangkut harta karus itu sehingga tak sampai diketahui oleh orang lain. Akhirnya mereka sepakat untuk membagi pekerjaan.
Secara bergantian, mereka akan mengangkut  harta itu ke suatu hutan di kaki bukit . di sanakalah harta itu nanti akan dibagi sama rata dan kebetulan di tempat itu ada sebuah gubug tua yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya.

Dengan bersusah payah, ketiga orang itu akhirnya berhasil mengangngkut harta kekayaan itu ke hutan terpencil ketika mereka hendak membaginya, salah seorang di antara mereka berkata: “Sebelum kita membagi harta ini bagaimana kalau sebaiknya kita mencari makanan dulu? Bukankah perut kita sedang lapar karena telah beberapa hari tidak makan? Di samping itu, kukira sangat berbahaya bagi keamanan kita membawa harta kekayaan dengan keadaan tubuh yang lemas.”

“Benar juga pendapatmu. Lalu apa yang mesti kita lakukan?” sahut kawannya.
Karena itu usulan yang baik kedua temannya menyetujui. Kemudian berangkat lah salah seorang di antara mereka mencari warung di perkampungan tepi hutan untuk membeli makanan. Karena perutnya sudah lapar sekali ia makan di warung itu. kemudian minta dua porsi lagi untuk dibungkus.
Ketika meninggalkan warung dengan membawa dua bungkus makanan untuk kedua orang temannya, orang itu berfikir.

“Seandainya makanan ini kububuhi racun, maka semua harta itu akan menjadi milikku, tak perlu lagi membaginya bertiga.”
Niat orang tiu menjadi bulat karena keserakahannya untuk menguasai harta itu seorang diri. Maka ia pergi ke pasar untuk membeli racun.
Dalam perjalanan kembali menemua dua orang kawannya,  dua bungkus makanan itu dibuka kembali dan dibubuhi racun. Kemudian dibungkus kembali seperti semula dengan rapi.

Sementara itu, kedua temannya tengah menunggu harta kekayaan itu terlibat dalam pembicaraan yang mengatur suatu rencana.
“Benar juga katamu.” Kata salah seorang dari mereka. “Jika nanti ia datang harta ini terpaksa harus kita bagi bertiga. Satu-satunya cara agar harta ini kita bagi hanya berdua saja, teman kita  itu harus kita lenyapkan.”
“Memang itulah maksudku,” sahut teman satunya.
Tapi, bagaimana caranya?”
“Sebelum dia tiba, mari kita saiapkan alat pemukul dan nanti kita bersembuni di balik pintu. Begitu ia nanti  masuk langsung saja kita hantam bersama-sama. Asa dia tika akan mampu?”
“Hahaha...mudah sekali dan harta itni pun menjadi milik kita berdua.” Gelak mereka

Ketika mereka mendengar langkah kaki temannya yang mendaki tangga untuk memasuki gubug. Dengan caepta kedua orang itu bersembunyi di balik pintu yang masing-masing telah menyiapkan alat pemukul dari kayu di tangannya.
Ketika pintu gubug itu dibuka dari luar dan temannya masuk, secara bersamaan kedua orang itu mengayunkan kayunya pentungannya menghantam kepala yang beru muncul itu berulang kali tanpa ampun hingga tewas.

Dengan tidak mengenal prrikemanusiaan, dengan gembira mereka menyeret mayat temannya yang baru mereka buuh dan membuangnya ke dalam sebuah sumur tua yang ada dibelakang gubug lalu dengan suka cita dan tanpa curiga, kedua orang itu melahap bungkusan  makanan yang dibeli oleh temannya yang baru saja mereka bunuh.

Setelah makanannya habis dan masuk ke dalam perut. Mereka merasakan  napasya sesak. Tenggorokannya seperti di bakar dan perutnya bagai diaduk-aduk. Mereka menjadi terkejut dan baru menyadari bahwa makanan yang telah mereka lahap telah dibubuhi racun namun  terlambat
Tubuh mereka menggelepar lepar dan dari mulutnya mengalir buih. Dengan derita yang hebat dan setelah tubuhnya kejang-kejang, akhirnya kedua orang itupun tewas menyusul temannya yang mereka bunuh. Sementara di sisi mayatnya mereka  masih teronggok harta kekayaan yang mereka keja dan agung-agungkan.

Rabu, 24 November 2021

Raja Begal yang rajin puasa, diterimakah?

Ketika asy Syibli berada dalam rombongan khalifah dari Syam, di tengah jalan rombongan tersebut dicegat oleh gerombolan perampok. Barang-barang mereka dirampas dan kemudian diserahkan kepada kepala gerombolan perampok itu.
Dari kantung barang rampasan, salah seorang perampok menemukan gula kenari. Mereka kemudian beramai-ramai memakannya. Namun kepala perampok itu tidak mau makan.
“Mengapa kamu tidak ikut makan gula kenari bersama anak buahmu?” Tanya Asy Syibli keheranan.
“Aku sedang berpuasa” Jawab kepala perampok
“Anda berpuasa, dan Anda merampok?” Asy Syibli semakin keheranan, “Seharusnya Anda tidak melakukan pekerjaan yang tidak terpuji.”
“Entahlah, mudah-mudahan nanti aku akan meninggalkan pekerjaan ini,” Jawab kepala perampok enteng.  Kemudian ia meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika Asy Syibli tengah menunaikan ibadah haji, ia melihat kepala perampok yang dulu pernah merampas barang-barangnya tengah mengenakan pakaian ihram dan duduk di dekat ka’bah. Asy Syibli pun mendekatinya dan duduk di sampingnya.


“Apakah Anda adalah orang yang pernah aku jumpai beberapa tahun lalu?” tanya Asy Syibli penuh keraguan.
“Benarkah? Tapi aku lupa, entah dimana Anda bertemu denganku.” Jawab kepala perampok sambil mengamati asy Syibli berpikir keras mengingat-ingat. Namun tetap dia tidak mengingatnya.
“Maaf, bukankah Anda orang yang pernah menjadi pemimpin perampok?” Tanya Asy Syibli.
“Oh! Ya baru ingat sekarang. Benar, aku bersama anak buahku yang dulu pernah merampas barang-barang Anda. Dan puasa yang selalu kulakukan itu telah menuntun dan menarik diriku ke jalan yang benar dan damai.”



Nah, pemirsah….
Jangan nunggu sempurna diri kita untuk menjadi baik.
Jangan pernah berfikir:
“Kalau udah baik aku baru mau naik haji”
“Kelakuanku masih urakan, belum siap untuk pakai jilbab.
“Buat apa ibadah kalau masih berbuat maksiat?”
“Mau jilbabin hati dulu baru kepala”.
Beribadahlah meskipun kita belum sanggup menahan diri dari maksiat.
Berjilbablah meskipun kelakuan kita masih nyeleneh
Naik hajilah meskipun  shalat kita masih belang bentong.
Bisa jadi, Ibadahmu menjadi wasilah dirimu ke jalan yang benar




Boleh bermaksiat sepuasnya jika mampu mengerjakan 5 hal ini


Suatu hari ada orang yang datang mengadu kepada Ibrahim Ibn Adham R.a.
Orang itu  berkata:  “Ya Aba Ishak, aku ini suka melakukan dosa. Tolong berikan jalan keluar  yang ampuh agar aku berhenti berbuat dosa.”
Ibrahim menjawab: “Jika engkau mau menerima lima syarat, dan mampu melaksanakannya, maka  kau boleh melakukan perbuatan maksiat sesukamu.”
Lelaki itu penasaran dengan perkataan Ibrahim Ibn Adham  Ra.,”Apa saja syaratnya supaya aku bisa berbuat maksiat sepuasku?”

“Syarat pertama,” kata Ibrahim Ibn Adham R.a, “Jika kamu mau bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rizki-Nya!”
Laki-laki itu keheranan seraya berkata , “Ya Aba Ishak, kalau aku ga boleh makan  rizki Allah, bukankah semua rizki itu dari Allah? darimana aku makan?”
“Ya,” Tegas Ibrahim Ibn Adham, “Kalau engkau sudah tahu, masih pantaskah  engkau memakan rizki Nya, padahal engkau sering melanggar perintah-perintahnya?”


“Baiklah...,”Jawab laki-laki itu menyerah, “sekarang apa syarat yang kedua?” tanya laki-laki itu.
“Kalau engkau mau bermaksiat kepada Allah, jangan tinggal di bumi Nya.” Kata Ibrahim Ibn Adham Ra memberikan syarat lebih berat lagi.
Syarat ini membuat lelaki itu  kaget setengah mati, “Hah! Ini lebih hebat lagi! Lantas aku harus tinggal di mana? Semua bumi sama isinya ini kan milik Allah semua.”
“Ya, pikirkanlah apakah kamu pantas tinggal di bumi Allah, sedangkan kamu selalu bermaksiat padanya?” tanya Ibrahim kepada lelaki itu.

“Ya engkau benar ya Aba Ishak,” Kembali lelaki itu  pasrah. “Apa syarat yang ketiga?”
“Kalau engkau mau bermaksiat kepada-Nya, mau makan rezeki Nya dan mau tinggal di bumi Nya, maka carilah tempat persembunyian yang Allah tidak bisa melihatmu.”
Laki-laki itu terperanjat mendengar syarat yang ketiga. Belum habis rasa kaget dengan syarat sebelumnya sudah diberi syarat yang tidak lebih ringan. “Ya Aba Ishak, nasehat macam apa ini? Mana mungkin aku menemukan tempat yang Allah tidak mengetahuinya?” kata lelaki itu sedikit kesal.
“Nah...kalau kamu memang tahu tidak ada satu pun tempat yang tersembunyi di hadapan Allah, mengapa kamu masih bermaksiat?” Jawab Ibrahim Ibn Adham kepada orang itu.
Ucapan Ibrahim Ibn Adham membuat lelaki itu terdiam, dalam hatinya ia membenarkan.

“Baiklah Aba Ishak, ...sekarang apa syarat yang keempat?” tanya lelaki itu.
“Kalau  Malaikat Maut datang hendak mencabut nyawamu, katakan padanya, tolong jangan sekarang , aku mau bertobat dan beramal shaleh dulu.”Ujar  Ibrahim Ibn Adham menyebutkan syarat yang keempat.
Kembali laki-laki itu menggelengkan kepala dan tersadar, “Ya Ibrahim, mana mungkin malaikat maut mau memenuhi permohonanku.”
“Y Abdallah, kalau engkau sudah mengetahui  dan meyakini bahwa tidak bisa menunda dan mengundurkan  datangnya kematian, lalu jalan apa yang mungkin bisa memberikan jalan keluar kepadamu dari murka Allah  Subhanahu wa Ta’ala?”
“Baiklah ya Ibrahim, apa syarat yang terakhir?” kata lelaki itu.

Ibrahim bin Adham Ra. memberikan syarat yang terakhir, “Jika nanti malaikat siksa datang kepadamu hendak menggiringmu ke neraka, jangan mau ikut padanya.”
Perkataan Ibrahim Ibn Adham membuat lelaki itu tersadar. “Ya Aba Ishak mereka pasti tidak akan menggubrisku. Pasti mereka tetap membawaku ke neraka.”
“Kalau begitu, dari jalan mana engkau bisa menyelamatkan dirimu dari  siksa Allah ya Abdallah?”
Lelaki itu tidak tahan lagi dengan perkataan Ibrahim ibn Adham R.a. Dia menangis dan dengan penuh penyesalan berkata, “Ya Ibrahim, cukup...cukup...jangan diteruskan lagi. Mulai saat ini aku beristighfar dan bertobat yang nasuha kepada Allah Ta’ala.”
Sejak saat itu, lelaki itu tidak pernah berbuat maksiat lagi.  Dia benar-benar menepati janjinya. Dia semakin tekun beribadah penuh kekhusyuan sampai menemui ajalnya.



Senin, 22 November 2021

Air Susu Dibalas dengan Air Tuba

Di suatu tempat ada sumur yang baru digali. Suatu malam jatuhlah ke dalam sumur seorang tukang mas, kera, singa dan ular.  Saat menjelas siang, lewatlah musafir ke tempat itu. Ketika melihat tukang mas bersama kera, singa dan ular di dalam sumur, berkatalah ia dalam hatinya : “tak ada suatu amal baik pun kecuali Tuhan akan membalasnya di dunia dan akhirat.”

Maka diulurkanlah tambang yang ia bawa ke dalam sumur. Mula-mula kera bergelantung di tali, ditariklah kera hingga ia sampai di atas. Diulurkan sekali lagi, terangkatlah ular. Sekali lagi diulurkan, maka keluarlah singa. Ketiga binatang itu mengucapkan terima kasih dan berkata:  “Terima kasih Tuan, telah menolong kami. Adapun orang itu, janganlah engkau tolong karena dia orang yang tak bias membalas budi.”
Kemudian kera berkata: “Adapun tempat hamba ada di bukit dekat kota yang bernama Nawadiract.”
“Hamba pun di situ, “Singa menyela.
“Hamba juga di situ, “ Ular menimpali.
“Oleh sebab itu,”kata ketiga binatang, “Kalau Tuan dating ke kota itu dan butuh bantuan, sebutlah nama kami, kami akan datang membalas budi tuan  sedapat-dapatnya.” Lalu ketiga binatang itupun pergi.

Setelah ketiganya pergi, musafir kembali menurutkan tambang ke dalam sumur. Dia tidak memperdulikan nasihat ketiga binatang itu. Setelah tukang emas berhasil naik, ia pun mengucapkan terima kasih .
“Tuan, aku tidak akan pernah melupakan pertolongan ini. Aku tukang emas yang cukup terkenal di kota Nawadiract. Jika engkau datang ke kota itu,  berkunjunglah ke rumahku, semoga aku bias membalas budi baikmu ini.” Tukang emas pun pulang dengan senang hati.

Suatu hari, sampailah musafir ke kota Nawadiract. Waktu kera melihat musafir, datanglah ia dan bersujud menjilat kaki musafir dan berkata: “Adapun bangsa kera tidak mempunyai suatu apapun juga. Sungguhpun demikian, sudilah tuan hamba menanti sebentar di sini.” Maka pergilah kera dan sesaat kemudian ia sudah membawa buah-buahan  yang lezat rasanya. Diberikannya kepada musafir. Musafir yang memang kelaparan karena jauhnya perjalanan sangat senang. Ia pun makan dengan lahapnya.

Setelah kenyang, musafir pun melanjutkan perjalanannya menuju kota Nawadiract. Di  tengah perjalanan ia bertemu dengan singa yang telah ditolongnya. Singa pun sujud dan berkata: “Hamba berutang budi pada Tuan. Oleh sebab itu tunggulah sebentar, hamba akan memberikan sebuah hadiah.” Lalu singapun pergi menuju taman istana tempat putra raja bermain. Maka dibunuhlah ia dan kalungnya diambil kemudian diserahkan kepada musafir. Ketika musafir melihat kalung emas, teringatlah ia kepada tukang emas.

“Singa itu telah memberiku perhiasan. Aku akan pergi ke tukang emas. Dia pasti tahu berapa harga kalung ini. Kalua dia miskin aku akan bagi dua dengan dia.” Pikirnya dalam hati.
Maka pergilah ia ke tukang mas. Tatkala keduanya bertemu, tukang emas merasa senang. Kemudian musafir memperlihatkan emas yang dia dapatkan dari singa. Tukang mas terkejut, karena dia tahu bahwa itu adalah kalung putera raja yang telah tewas terbunuh. Ia pun berkata kepada musafir.
“Tuan, istirahatlah dulu. Aku akan keluar mencari makanan. Hari ini perbekalan kami habis.”katanya seraya pergi ke luar rumah.

Dia berkata dalam hati, “Beruntungnya aku. Sebentar lagi aku akan menjadi pembesar di negeri ini. Akan aku beritahukan kepada raja siapa yang membunuh puteranya.”
Sesampainya di Istana, ia pun menyerahkan kalung emas kepada raja dan menceritakan dari mana kalung itu di dapat. Raja pun murka dan memerintahkan tentaranya untuk menangkap musafir itu, memenjarakannya, menyiksa dan menghukum mati.

Mendengar titah sang raja, musafirpun menangis seraya berkata :”Andaisaja aku mengikuti nasihat ketiga binatang itu, aku tidak akan mengalami kejadian ini.” Ia pun meratap sampai kedengaran oleh ular. Ularpun datang menemuinya di penjara untuk membebaskannya. Maka dipatuklah putera mahkota, kemudia ia pergi ke jin sahabatnya. Ia meminta padanya agar mengganggu tidur putera mahkota supaya bermimpi, bahwa ia bisa sembuh kalua di tolong oleh musafir.

Kemudian Ia kembali menemui musafir. “Dahulu sudah kami katakakan tuan jangan menolong orang itu, “katanya. “Tetapi tuan tidak mau mendengar nasihat kami. Sekarang jika datang pesuruh dari raja untuk mengobati puteranya, beri minumlah ia dengan air daun kayu ini. Mudah-mudahan ia sembuh. Kemudian kalau ditanya tentang kejadian sebelumnya, ceritakanlah semuanya dengan sebenar-benarnya. Mudah-mudahan tuan dibebaskan.”
Ketika raja tahu puteranya dipatuk ular, ia panggil semua tabib ke istana untuk menyembuhkannya. Namun tidak ada satupun tabib yang mampu. Hingga suatu malam, putera mahkota bermimpi bahwa yang bisa menyembuhkannya adalah seorang musafir yang di penjara ayahnya. Ketika mimpi itu diceritakan, maka raja memanggil musafir.
“Hamba tidak pandai bermantra, Tuanku,”jawab musafir itu.
“Tetapi cobalah putra itu diberi minuman air daun ini mudah-mudahan sembuh dia.”

Setelah putera raja diberi minum air daun itu,  dengan izin Tuhan sembuhlah ia. Sang Raja sangat bersuka cita  dan musafirpun diberi anugrah yang sangat banyak. Kemudian baginda bertanya tentang hal ihwal kalung itu. Maka musafir pun menceritakan kisahnya dengan sebenar-benarnya. Mendengar cerita musafir, murkalah raja kepada tukang emas, lalu raja menyuruh pengawalnya menangkap tukang emas dan memenjarakannya.

Itulah akhir kisah dari air susu dibalas dengan air tuba. Dia menerima balasan dari apa yang telah dia lakukan. Ketika kita tidak membalas kejahatan orang lain kepada kita, maka akan ada orang lain yang akan membalasnya.




Jumat, 19 November 2021

Wa Lancar : Kisah Dari Sumatera Utara

Wa Lancar adalah seorang anak yatim yang miskin. Tetapi semangat belajarnya sangat tinggi terutama belajar ilmu agama. Sayangnya Ibunya tak sanggup membiayai sekolahnya seperti orang-orang mampu lainnya. Namun tanpa putus asa, Wa Lancar pergi mencari guru yang mau menampung dia belajar tanpa dibayar. Akhirnya Wa Lancar menemukan seorang guru yang rela tidak dibayar, asalkan Wa Lancar mau mengerjakan apa yang diperintah gurunya. Dengan senang hati, Wa Lancar menyetujuinya. 


Setelah sekian lama belajar pada guru tersebut, Wa Lancar hanya diajarkan satu ilmu, "Kalau sudah lapar, jangan makan". Karena ilmu yang diterima tak bertambah, Wa Lancar merasa tidak puas. Lalu dia mencari guru yang lain. 

Setelah mencari kemana-mana, akhirnya Wa Lancar bertemu dengan guru yang kedua. Guru yang kedua pun memberi syarat yang sama dengan guru yang pertama. Dan setelah sekian lama, ilmu yang diberikanpun hanya satu "Kalau lelah berjalan, berhenti!". Karena tidak puas, Wa Lancar pun meninggalkan gurunya dan berniat mencari guru yang lain. 

Setelah menemukan guru yang ketiga, ternyata sama saja. Guru ini pun hanya memberikan satu ilmu yaitu "Ambil Batu, Ambil Pisau, Asah Tajam-tajam". Karena tidak puas dan kecewa, Wa Lancarpun berhenti belajar. Tetapi dia tetap mengingat ilmu yang diajarkan ketiga gurunya. 

Keinginan belajar Wa Lancar tetap besar. Sekarang dia mencari guru lagi, tapi belajar kepada teman-temannya yang sudah selesai belajar agama. Setelah belajar berbagai ilmu, Wa Lancar pergi merantau. 

Setelah sampai di suatu kerajaan, Wa Lancar mohon izin agar dia dapat tinggal di sebuah mesjid kerajaan untuk mengajar ilmu agama. Keinginannya dikabulkan, diapun mulai mengajar anak-anak ilmu  agama. Wa Lancar mengajar anak-anak membaca al Qur'an dan ilmu agama lainnya. Makin lama muridnya makin banyak dan Wa Lancarpun semakin terkenal sebagai guru yang pintar dan baik hati. 

Selalu ada yang jahat di suatu tempat. Demikian pula di kerajaan itu, ada guru lain yang merasa cemburu dengan keadaan Wa Lancar. Karena hatinya iri, ia pun mengadukan Wa Lancar ke raja bahwa Wa Lancar sudah menyebarkan ajaran sesat kepada murid-muridnya. Maka Raja memanggil Wa Lancar Ke Istana.

Raja : "Wa Lancar, tidak sepantasnya kamu berbuat seperti itu. Air susu dibalas dengan air tuba. Aku izinkan kau mengajar di mesjid itu mengapa kau ajarkan aliran sesat kepada murid-muridmu?"
Wa Lancar : "Ampun Baginda, mana berani hamba bertindak seperti itu. Fitnah terhadap hamba, Baginda".
Raja :"Telah datang khabar yang kuat kepadaku. Kamu tidak bisa mengelak lagi. Untuk itu kamu akan dihukum dengan mengawini puteriku."

Wa Lancar heran dan bingung dengan hukuman yang diberikan oleh raja. Alih-alih dapat hukuman yang berat, malah dia akan dikawinkan dengan puteri raja. Namun setelah diberi tahu teman-temannya tahulah ia mengapa dihukumannya dikawinkan dengan puteri raja. Karena setiap puteri raja dikawinkan, tak lama kemudian suaminya mati dengan tiba-tiba. Makanya sampai sekarang sang putri masih sendiri.

Setelah Wa lancar menikah dengan puteri raja, dia dijamu makan bersama dengan beberap orang. Di antara mereka ada guru yang cemburu dan iri yang telah mengadukan dia kepada raja. Mereka makan-makan dengan suka cita. Wa Lancar pun karena lapar, ia hendak makan. Tetapi ingat dengan ajaran gurunya “Kalau sudah  lapar jangan makan”. Wak Lancar tidak jadi makan. Bagiannya diberikan kepada orang lain.

Ternyata, setelah orang yang mendapat bagian makanan dari Wak Lancar tiba-tiba sakit perut. Tak lama kemudian mati. Rupa-rupanya orang yang memfitnah Wak Lancar kepada raja telah membubuhkan racun di makanan Wak Lancar agar dia mati. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau dia membubuhkan racun di makanan Wak Lancar. Dan merekapun tak tahu bahwa dia yang memfitnah Wak Lancar kepada raja.

Setelah kejadian itu, orang yang memfitnah Wak Lancar makin kesal hatinya. Dia pun membawa pengawal raja,dan berkata kepada Wak Lancar.
“Wak Lancar, kamu harus pergi ke sungai sekarang juga. Raja memerintahkanmu mencarikan batu hitam di sana.” Kata orang itu.
“Baiklah, aku akan pergi.” Jawab Wak Lancar tanpa curiga.

Maka berangkatlah Wak Lancar bersama pengawal raja ke sungai. Setelah menemukan batu hitam di sungai, mereka berdua pulang. Di tengah perjalanan, Wak Lancar merasa lelah. Ia teringat pesan gurunya “Kalau Lelah Berjalan, Berhenti”. Maka ia berhenti dan berkata kepada pengawal raja.
“Pengawal, aku lelah. Mari kita istirahat sebentar”. Kata Wak Lancar
“Saya masih kuat, Tuan,” Jawab pengawal raja
“Baiklah, kalau kamu ga mau istirahat, silahkan jalan duluan. Nanti aku menyusul,” kata Wak Lancar sambil duduk menyandar di pohon.

Setelah agak jauh berjalan, tiba-tiba si pengawal menjerit kesakitan dan jatuh ke tanah dengan berlumuran darah. Wak Lancar segera berlari ke arah pengawal raja. Namun sebelum sempat di tolong, pengawal raja telah meninggal. Ternyata dia terkena ranjau yang dipasang oleh orang yang memfitnah Wak Lancar. Akhirnya Wak Lancar bergegas pulang ke istana.

Sesampainya di Istana, hari sudah gelap. Dia berfikir akan menyerahkan batu hitam keesokan harinya kepada raja. Kemudian Wak Lancar masuk ke kamar puteri raja yang telah menjadi isterinya. Sambil duduk, ia memperhatikan isterinya. Karena batu hitamnya disimpan di kantong celana terasa mengganjal, dia keluarkan. Teringatlah nasihat gurunya “Ambil batu, ambil pisau, asah tajam-tajam”. Dia pun mengambil pisau dan mengasahnya di batu hitam. Malam pun semakin larut, pisau Wak Lancar sudah sangat tajam. Tiba-tiba dari sela-sela kaki sang puteri keluarlah seekor lipan putih beracun mendekati Wak Lancar hendak menggigit. Dengan cepat, ia membunuhnya dengan menggunakan pisau yang dipegangnya. Rupa-rupanya lipan itu adalah penunggu sang puteri yang selalu membunuh suami sang puteri terdahulu.


Keesokan harinya, Wak Lancar menyerahkan batu hitam yang di dapatnya di sungai. Dan ia pun menceritakan kejadian semalam waktu ia membunuh lipan putih. Mendengar kabar tersebut, raja sangat senang karena makhluk penunggu telah mati. Maka raja pun mengadakan pesta pernikahan Wak Lancar dengan puterinya dengan besar-besaran. Akhirnya Wak Lancar hidup bahagia dengan puteri raja. 

Kamis, 18 November 2021

Hakim dan 40 Saksi


sumber image: SOCIO-POLITICA.COM
Suatu hari, seorang kaya bermasalah dengan tetangganya. Permasalahan mereka dibawa ke pengadilan. Karena ingin menang, ia memberikan hadiah kepada hakim sebanyak 40 kue bakpaw yang di bawahnya disimpan masing-masing 1 koin emas. Kue itu pun dititipkan ke pegawai sang Hakim. Ketika membawa baki tempat kue bakpaw, terbit selera pegawai itu, karena lapar juga akhirnya dia mengambil kue dan memakannya. Tentu saja dia menemukan koin emas. Karena masih lapar dia mengambil lagi bakpaw sampai empat kali dan mengantongi koin emasnya.
Keesokan harinya, sidang pun digelar. Ketika menghadirkan saksi, dari pihak orang kaya tidak ada yang datang. Hakimnya bertanya: “Dimana saksi-saksimu?”

Orang kaya menjawab: “Tuan Hakim, bukankah kemaren saya kirimkan 40 saksi ke hadapan Tuan?”
Hakim berkata: “Oh ya !!! saya ingat sekarang. Tapi mengenai jumlahnya Anda tidak tepat. Saksi yang datang hanya 36 enam saja.”
Pegawai hakim yang mendengarkan pembicaraan itu kaget dan sadar kalau yang dibicarakan adalah kue bakpaw ia pun berkata: “Maaf tuan Hakim, saksi yang empat sudah lemah dan tidak sanggup bersaksi. Tapi, saya sudah mendengar keterangan mereka. Nanti saya laporkan kepada Pak Hakim.”


◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger