Tampilkan postingan dengan label Hikayat Kalilah dan Dimnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat Kalilah dan Dimnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2021

Air Susu Dibalas dengan Air Tuba

Di suatu tempat ada sumur yang baru digali. Suatu malam jatuhlah ke dalam sumur seorang tukang mas, kera, singa dan ular.  Saat menjelas siang, lewatlah musafir ke tempat itu. Ketika melihat tukang mas bersama kera, singa dan ular di dalam sumur, berkatalah ia dalam hatinya : “tak ada suatu amal baik pun kecuali Tuhan akan membalasnya di dunia dan akhirat.”

Maka diulurkanlah tambang yang ia bawa ke dalam sumur. Mula-mula kera bergelantung di tali, ditariklah kera hingga ia sampai di atas. Diulurkan sekali lagi, terangkatlah ular. Sekali lagi diulurkan, maka keluarlah singa. Ketiga binatang itu mengucapkan terima kasih dan berkata:  “Terima kasih Tuan, telah menolong kami. Adapun orang itu, janganlah engkau tolong karena dia orang yang tak bias membalas budi.”
Kemudian kera berkata: “Adapun tempat hamba ada di bukit dekat kota yang bernama Nawadiract.”
“Hamba pun di situ, “Singa menyela.
“Hamba juga di situ, “ Ular menimpali.
“Oleh sebab itu,”kata ketiga binatang, “Kalau Tuan dating ke kota itu dan butuh bantuan, sebutlah nama kami, kami akan datang membalas budi tuan  sedapat-dapatnya.” Lalu ketiga binatang itupun pergi.

Setelah ketiganya pergi, musafir kembali menurutkan tambang ke dalam sumur. Dia tidak memperdulikan nasihat ketiga binatang itu. Setelah tukang emas berhasil naik, ia pun mengucapkan terima kasih .
“Tuan, aku tidak akan pernah melupakan pertolongan ini. Aku tukang emas yang cukup terkenal di kota Nawadiract. Jika engkau datang ke kota itu,  berkunjunglah ke rumahku, semoga aku bias membalas budi baikmu ini.” Tukang emas pun pulang dengan senang hati.

Suatu hari, sampailah musafir ke kota Nawadiract. Waktu kera melihat musafir, datanglah ia dan bersujud menjilat kaki musafir dan berkata: “Adapun bangsa kera tidak mempunyai suatu apapun juga. Sungguhpun demikian, sudilah tuan hamba menanti sebentar di sini.” Maka pergilah kera dan sesaat kemudian ia sudah membawa buah-buahan  yang lezat rasanya. Diberikannya kepada musafir. Musafir yang memang kelaparan karena jauhnya perjalanan sangat senang. Ia pun makan dengan lahapnya.

Setelah kenyang, musafir pun melanjutkan perjalanannya menuju kota Nawadiract. Di  tengah perjalanan ia bertemu dengan singa yang telah ditolongnya. Singa pun sujud dan berkata: “Hamba berutang budi pada Tuan. Oleh sebab itu tunggulah sebentar, hamba akan memberikan sebuah hadiah.” Lalu singapun pergi menuju taman istana tempat putra raja bermain. Maka dibunuhlah ia dan kalungnya diambil kemudian diserahkan kepada musafir. Ketika musafir melihat kalung emas, teringatlah ia kepada tukang emas.

“Singa itu telah memberiku perhiasan. Aku akan pergi ke tukang emas. Dia pasti tahu berapa harga kalung ini. Kalua dia miskin aku akan bagi dua dengan dia.” Pikirnya dalam hati.
Maka pergilah ia ke tukang mas. Tatkala keduanya bertemu, tukang emas merasa senang. Kemudian musafir memperlihatkan emas yang dia dapatkan dari singa. Tukang mas terkejut, karena dia tahu bahwa itu adalah kalung putera raja yang telah tewas terbunuh. Ia pun berkata kepada musafir.
“Tuan, istirahatlah dulu. Aku akan keluar mencari makanan. Hari ini perbekalan kami habis.”katanya seraya pergi ke luar rumah.

Dia berkata dalam hati, “Beruntungnya aku. Sebentar lagi aku akan menjadi pembesar di negeri ini. Akan aku beritahukan kepada raja siapa yang membunuh puteranya.”
Sesampainya di Istana, ia pun menyerahkan kalung emas kepada raja dan menceritakan dari mana kalung itu di dapat. Raja pun murka dan memerintahkan tentaranya untuk menangkap musafir itu, memenjarakannya, menyiksa dan menghukum mati.

Mendengar titah sang raja, musafirpun menangis seraya berkata :”Andaisaja aku mengikuti nasihat ketiga binatang itu, aku tidak akan mengalami kejadian ini.” Ia pun meratap sampai kedengaran oleh ular. Ularpun datang menemuinya di penjara untuk membebaskannya. Maka dipatuklah putera mahkota, kemudia ia pergi ke jin sahabatnya. Ia meminta padanya agar mengganggu tidur putera mahkota supaya bermimpi, bahwa ia bisa sembuh kalua di tolong oleh musafir.

Kemudian Ia kembali menemui musafir. “Dahulu sudah kami katakakan tuan jangan menolong orang itu, “katanya. “Tetapi tuan tidak mau mendengar nasihat kami. Sekarang jika datang pesuruh dari raja untuk mengobati puteranya, beri minumlah ia dengan air daun kayu ini. Mudah-mudahan ia sembuh. Kemudian kalau ditanya tentang kejadian sebelumnya, ceritakanlah semuanya dengan sebenar-benarnya. Mudah-mudahan tuan dibebaskan.”
Ketika raja tahu puteranya dipatuk ular, ia panggil semua tabib ke istana untuk menyembuhkannya. Namun tidak ada satupun tabib yang mampu. Hingga suatu malam, putera mahkota bermimpi bahwa yang bisa menyembuhkannya adalah seorang musafir yang di penjara ayahnya. Ketika mimpi itu diceritakan, maka raja memanggil musafir.
“Hamba tidak pandai bermantra, Tuanku,”jawab musafir itu.
“Tetapi cobalah putra itu diberi minuman air daun ini mudah-mudahan sembuh dia.”

Setelah putera raja diberi minum air daun itu,  dengan izin Tuhan sembuhlah ia. Sang Raja sangat bersuka cita  dan musafirpun diberi anugrah yang sangat banyak. Kemudian baginda bertanya tentang hal ihwal kalung itu. Maka musafir pun menceritakan kisahnya dengan sebenar-benarnya. Mendengar cerita musafir, murkalah raja kepada tukang emas, lalu raja menyuruh pengawalnya menangkap tukang emas dan memenjarakannya.

Itulah akhir kisah dari air susu dibalas dengan air tuba. Dia menerima balasan dari apa yang telah dia lakukan. Ketika kita tidak membalas kejahatan orang lain kepada kita, maka akan ada orang lain yang akan membalasnya.




Rabu, 12 Juni 2019

Cerita Rakyat : Akibat perilaku sahabat yang buruk (dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah)

Sebaik apapun seorang pemimpin namun bila dikelilingi sahabat yang buruk, maka ia pun akan terbawa berbuat buruk. Istilah orang politik mah Ring Satu adalah penentu kebijakan. Nah, gambarannya bisa kita lihat dari kisah di bawah ini, di ambil dari Hikayat Kalilah dan Dimnah.

Alkisah, di suatu hutan yang dekat dengan jalan besar, tinggallah seekor raja singa dengan tiga teman kepercayaannya yaitu serigala, rubah dan gagak. Pada suatu hari, lewatlah rombongan pengembala unta menghalau untanya. Salah satu untanya terlepas dan masuk ke dalam hutan. Sampailah ia di tempat duduk raja singa berserulah singa kepadanya, "Hai, siapa kau, dan darimana kau datang?"
"Ampun Tuan, "jawab unta ketakutan, "Hamba tersesat, tercerai dari rombongan teman-teman hamba. dan sekarang tak dapat keluar lagi dari sini."
Mendengar jawaban unta yang menghiba, raja singa kasihan kepadanya.
"Janganlah engkau takut, "katanya , "tinggallah engkau bersama kami di sini menjadi sahabat kami."
Untupun suka cita mendengarnya dan diamlah dia disitu dengan sejahtera.

image:duniadongeng.wordpress.com
Arkian pada suatu hari keluarlah raja singa berburu. ia bertemu dengan seekor gajah yang besar dan terjadilah perkelahian antara keduanya. Perkelahian pun berlangsung lama, dan tidak ada satupun yang kalah. Mereka berdua kelelahan dan sudah sama sama terluka. Maka larilah gajah ke dalam hutan dan singapun pulang ke tempatnya, jatuhlah ia tidak sadarkan diri. Maka sejak itu dia tidak bisa keluar berburu. 

Makin hari badannya makin kurus, demikian pula para sahabatnya yang biasa ikut makan mengalami hal yang sama. Demi melihat sahabat-sahabatnya itu kurus, raja singa berkata, "Wahai sahabatku, nampak benar kalian kelaparan dan sangat ingin mendapatkan makanan."
"Janganlah tuan pikirkan kami," jawab ketiga binatang itu,"bagi kami keselamatan Tuanku lebih utama. oleh karena itu pilu hati kami melihat Tuanku makin lama makin  bertambah kurus juga. Alangkah besarnya hati kami kalau dapat mencarikan makanan untuk Tuanku."

"Amat besar hatiku mendengar kesetiaanmu,"kata raja singa. "Sebab itu pergilah kamu ke hutan, mudah mudahan kalian dapat buruan yang bisa kita makan bersama-sama."

ketiga binatang itu pun keluarlah,  tetapi mereka tidak berburu hanya berkumpul di suatu tempat untuk berunding.
"Apa faedahnya si pemakan rumput yang besar itu kita hidupi,"kata mereka serempak,"padahal dia tidak sebangsa dan tidak sepikiran dengan kita. Tidakkah lebih baik kita katakan kepada raja singa, supaya dibunuhnya saja unta itu, supaya kita pun dapat memakan dagingnya."
"Itulah yang sukar bagi kita mengatakannya kepada singa, kata rubah,"Karena dia telah berjanji akan melindungi jiwa unta itu."
"Hal itu serahkanlah kepadaku,"kata gagak, "biarlah aku mengatakannya kepada singa."Lalu ia pun masuklah menghadap.
"Apakah kamu mendapat sesuatu?" tanya singa melihat gagak datang.
"Ampun, Tuanku yang mungkin mendapatkannya hanyalah orang yang ada tenaganya, dan matanya dapat melihat pula. Adapun kami, karena lapar, tidaklah kami memiliki tenaga demikian pula mata kami tidak dapat melihat. Tetapi kami mempunyai suatu pendapat, yang menurut kami baik, semoga Tuanku dapat menyetujui."
"Apakah pendapatmu itu?" tanya raja singa
"Unta pemakan rumput itu Tuanku, yang sehari-hari makan minum tidak ada manfaatnya sama sekali bagi kita."
Raja singa murka mendengar perkataan gagak. 
"Alangkah jahatnya kau gagak!" kata raja singa,"Alangkah kejamnya hatimu, tidak punya belas kasihan dan tidak setia. padahal telah kau ketahui, bahwa aku berjanji akan melindungi nyawanya. Tidakkah engkau tahu, bahwa tidak ada suatu sedekahpun yang lebih besar pahalanya daripada melindungi jiwa yang ketakutan dan memelihara darah yang akan tertumpah? Aku sudah berkata akan melindungi dan aku tidak akan mengingkari janji."
"Hamba mengerti maksud perkataan Tuanku itu,"kata gagak.
"Akan tetapi Tuanku harus maklum, bahwa diri yang satu menjadi penebus jiwa seisi rumah, dan seisi rumah penebus jiwa sekaum, jiwa sekaum penebus jiwa seluruh negeri jadi penebus bagi jiwa Tuanku. Sekarang jiwa Tuanku dalam bahaya. Hamba dapat pula mencarikan jalan supaya Tuanku jangan berdosa menyalahi janji, sehingga yang dimaksud tercapai dan Tuanku terlepas dari segala kesalahan."
Mendengar itu diamlah raja singa, tidak menjawab lagi. Maka gagakpun keluarlah pergi menemui teman-temannya.
"Sudah kusampaikan maksud kita kepada raja,"katanya.
"Mulanya raja menolak, tapi setelah kujelaskan lebih lanjut, raja pun diam. Marilah kita bersama-sama  dengan unta itu ke hadapannya, lalu tiap tiap kita memperlihatkan kesedihan hati melihat keadaan raja, dan minta supaya untuk suka menerima jika dirinya dikurbankan untuk baginda. waktu teman kita berkata begitu, hendaklah yang lain mencela pendapatnya itu, sampai datang giliran unta berkata demikian pula. Dengan jalan begitu kita akan selamat semuanya, dan raja tidak pula akan marah kepada kita."
Setelah itu mereka pergi mengajak unta datang bersama sama ke hadapan raja singa, karena sakitnya bertambah keras juga. Sampai di hadapan raja singa, berkatalah gagak,"Ampun Tuanku, pada penglihatan hamba, Tuanku mengalami sakit yang semakin parah, karena Tuanku telah lama tidak beroleh makanan lagi. Sebagai hamba Tuanku yang hina, maka tiadalah yang lebih patut berkurban untuk keselamatan Tuanku hamba hidup, dan apabila Tuanku tiada lagi, maka hambapun binasalah, tak ada faedahnya hamba hidup. Oleh sebab itu hamba rela mengorbankan diri yang hina ini, bunuhlah hamba dan makanlah daging hamba Tuanku!"
"Diamlah kau!"kata serigala dan rubah serentak."Tak ada manfaatnya dagingmu bagi raja, tak akan mengenyangkan juga."
"Kalau begitu biarlah tuanku bunuh diri hamba ini saja,"Kata rubah. "Badan hamba lebih besar dan tentulah hamba dapat mengenyangkan Tuanku."
"Dagingmu busuk dan berbisa,"Kata serigala bersama dengan gagak,"dan berbahaya kalau dimakan."
"Tetapi hamba tiadalah seperti rubah itu,"kata serigala pula.
"Oleh sebab itu biarlah Tuanku memakan daging hamba saja."
"Kau pandai obat,"kata gagak dengan rubah,"barang siapa bermaksud hendak membunuh dirinya, hendaklah dia memakan daging serigala."
Mendengar semuanya, menyangkalah unta kalau ia menghadapkan dirinya untuk mengorbankan diri, maka teman-temannya akan mencarikan alasan penolakan pula untuk dirinya. Maka akan selamat dirinya dan raja tidak akan murka kepadanya. Ia pun berkata,"Tetapi Tuanku, pada diri hamba Tuanku akan memperoleh daging yang baik dan sedap lagi mengenyangkan. Oleh sebab itu biarlah Tuanku bunuh hamba, Tuanku makan daging hamba, hamba relakan sudah."
Belum habis perkataannya, berkatalah serigala, rubah dan gagak,"Benar perkataan unta itu, dan telah bermurah hati dia memberikan dirinya."Ketika itu juga melompatlah ketiga-tiganya, menerkam unta itu dan mengoyak ngoyak dagingnya. 

Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas. Seorang pemimpin bisa saja dia baik, bertanggung jawab, bersih. Namun ketika di sekelilingnya orang culas, licik dan jahat, maka ia pun sulit lepas dari perbuatan perbuatan mereka. Dan bisa jadi, mereka yang disekelilingnya berbuat tanpa sepengetahuan pemimpinnya. Atau bisa jadi, mereka akan berkata,"Tuan, biarlah kami yang menyelesaikan permasalahan ini, Anda cukup katakan, saya tidak tahu, itu bukan urusan saya, tanyakan kepada pihak yang tahu." auuuuuu....hehe
Jadi, dalam memilih pemimpin jangan hanya terfokus pada diri pemimpin tersebut, lihat pula siapa orang-orang di sekelilingnya :D.

Sumber: Hikayat Kalilah dan Dimnah :Depdikbud


Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger