Kamis, 25 November 2021

Racun itu bernama Harta

Ketika Nabi Isa As memberi khotbah kepada kaumnya, di antara mereka yang mendengarkan terdapat tiga orang yang berpenampilan kumal.  
Salah satu di antara mereka tiba-tiba dengan lancang berkata, “Hai ibnu Maryam, bagi kami surga di akhirat sana tidaklah penting. Kamu bisa  hidup tentram dan  bahagia tanpa agama. Yang penting kami banyak  harga itu yang penting.”
“harta tidak akan menjamin ketentraman hidup saudara-saudaraku,”Sahut Nabi Isa dengan penuh kasih sayang.
“Omong kosong apa yang kau ucapkan itu? hartalah yang membuat hidup kita selalu diliputi kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.” Bantah mereka bersikeras.


“Baiklah saudara saudara punya penapat demikian. Nanti datanglah ke tempatku. Kalian bertiga. Kita akan berbicara barangkali ada rizki buat saudara-saudara.” Kata Nabi Isa.
Mereka tahu kalau Isa ibnu Maryam adalah orang yang tak pernah berdusta, maka setelah selesai  acara khotbah itu, dengan gembira mereka datang ke kemah Nabi Isa As.. Mereka oleh Nabi Isa As diberi sebuah peta tempat menyimpan harta kekayaan yang banyak sekali. dalam peta itu diterangkan  letaknya di puncak bukit yang cukup terjal di dalam seguah gua yang tersembunyi.

Alangkah gembiranya hati mereka dengan bayangan akan memperoleh harta berlimpah yang mereka idam-idamkan. Berangkatlah mereka dengan membawa peralatan yang ditubuthkan.
Ditelusurinya jalan menuju bukit tersebut sesuai dengan petujuk peta. Dan akhirnya setelah dicocokkan berulang ulang dengan gambar dalam peta, mereka yakin bahwa gua berpintu yang kini dihadapan mereka  itu adalah tempat penyimpanan harta benda yang mereka buru.
Dengan hati yang berdebar-debar mereka memasuki gua. Dan terrnyata benar, di sebuah ruangan yang cukup besar dalam gua itu terdapat peti peti yang di dalamnya perhiasan emas permatadan berliat  dalam jumlah yang tak terkira banyaknya.

Mereka kemudian berunding, bagaimana cara untuk mengangkut harta karus itu sehingga tak sampai diketahui oleh orang lain. Akhirnya mereka sepakat untuk membagi pekerjaan.
Secara bergantian, mereka akan mengangkut  harta itu ke suatu hutan di kaki bukit . di sanakalah harta itu nanti akan dibagi sama rata dan kebetulan di tempat itu ada sebuah gubug tua yang sudah lama ditinggal oleh penghuninya.

Dengan bersusah payah, ketiga orang itu akhirnya berhasil mengangngkut harta kekayaan itu ke hutan terpencil ketika mereka hendak membaginya, salah seorang di antara mereka berkata: “Sebelum kita membagi harta ini bagaimana kalau sebaiknya kita mencari makanan dulu? Bukankah perut kita sedang lapar karena telah beberapa hari tidak makan? Di samping itu, kukira sangat berbahaya bagi keamanan kita membawa harta kekayaan dengan keadaan tubuh yang lemas.”

“Benar juga pendapatmu. Lalu apa yang mesti kita lakukan?” sahut kawannya.
Karena itu usulan yang baik kedua temannya menyetujui. Kemudian berangkat lah salah seorang di antara mereka mencari warung di perkampungan tepi hutan untuk membeli makanan. Karena perutnya sudah lapar sekali ia makan di warung itu. kemudian minta dua porsi lagi untuk dibungkus.
Ketika meninggalkan warung dengan membawa dua bungkus makanan untuk kedua orang temannya, orang itu berfikir.

“Seandainya makanan ini kububuhi racun, maka semua harta itu akan menjadi milikku, tak perlu lagi membaginya bertiga.”
Niat orang tiu menjadi bulat karena keserakahannya untuk menguasai harta itu seorang diri. Maka ia pergi ke pasar untuk membeli racun.
Dalam perjalanan kembali menemua dua orang kawannya,  dua bungkus makanan itu dibuka kembali dan dibubuhi racun. Kemudian dibungkus kembali seperti semula dengan rapi.

Sementara itu, kedua temannya tengah menunggu harta kekayaan itu terlibat dalam pembicaraan yang mengatur suatu rencana.
“Benar juga katamu.” Kata salah seorang dari mereka. “Jika nanti ia datang harta ini terpaksa harus kita bagi bertiga. Satu-satunya cara agar harta ini kita bagi hanya berdua saja, teman kita  itu harus kita lenyapkan.”
“Memang itulah maksudku,” sahut teman satunya.
Tapi, bagaimana caranya?”
“Sebelum dia tiba, mari kita saiapkan alat pemukul dan nanti kita bersembuni di balik pintu. Begitu ia nanti  masuk langsung saja kita hantam bersama-sama. Asa dia tika akan mampu?”
“Hahaha...mudah sekali dan harta itni pun menjadi milik kita berdua.” Gelak mereka

Ketika mereka mendengar langkah kaki temannya yang mendaki tangga untuk memasuki gubug. Dengan caepta kedua orang itu bersembunyi di balik pintu yang masing-masing telah menyiapkan alat pemukul dari kayu di tangannya.
Ketika pintu gubug itu dibuka dari luar dan temannya masuk, secara bersamaan kedua orang itu mengayunkan kayunya pentungannya menghantam kepala yang beru muncul itu berulang kali tanpa ampun hingga tewas.

Dengan tidak mengenal prrikemanusiaan, dengan gembira mereka menyeret mayat temannya yang baru mereka buuh dan membuangnya ke dalam sebuah sumur tua yang ada dibelakang gubug lalu dengan suka cita dan tanpa curiga, kedua orang itu melahap bungkusan  makanan yang dibeli oleh temannya yang baru saja mereka bunuh.

Setelah makanannya habis dan masuk ke dalam perut. Mereka merasakan  napasya sesak. Tenggorokannya seperti di bakar dan perutnya bagai diaduk-aduk. Mereka menjadi terkejut dan baru menyadari bahwa makanan yang telah mereka lahap telah dibubuhi racun namun  terlambat
Tubuh mereka menggelepar lepar dan dari mulutnya mengalir buih. Dengan derita yang hebat dan setelah tubuhnya kejang-kejang, akhirnya kedua orang itupun tewas menyusul temannya yang mereka bunuh. Sementara di sisi mayatnya mereka  masih teronggok harta kekayaan yang mereka keja dan agung-agungkan.

Rabu, 24 November 2021

Raja Begal yang rajin puasa, diterimakah?

Ketika asy Syibli berada dalam rombongan khalifah dari Syam, di tengah jalan rombongan tersebut dicegat oleh gerombolan perampok. Barang-barang mereka dirampas dan kemudian diserahkan kepada kepala gerombolan perampok itu.
Dari kantung barang rampasan, salah seorang perampok menemukan gula kenari. Mereka kemudian beramai-ramai memakannya. Namun kepala perampok itu tidak mau makan.
“Mengapa kamu tidak ikut makan gula kenari bersama anak buahmu?” Tanya Asy Syibli keheranan.
“Aku sedang berpuasa” Jawab kepala perampok
“Anda berpuasa, dan Anda merampok?” Asy Syibli semakin keheranan, “Seharusnya Anda tidak melakukan pekerjaan yang tidak terpuji.”
“Entahlah, mudah-mudahan nanti aku akan meninggalkan pekerjaan ini,” Jawab kepala perampok enteng.  Kemudian ia meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika Asy Syibli tengah menunaikan ibadah haji, ia melihat kepala perampok yang dulu pernah merampas barang-barangnya tengah mengenakan pakaian ihram dan duduk di dekat ka’bah. Asy Syibli pun mendekatinya dan duduk di sampingnya.


“Apakah Anda adalah orang yang pernah aku jumpai beberapa tahun lalu?” tanya Asy Syibli penuh keraguan.
“Benarkah? Tapi aku lupa, entah dimana Anda bertemu denganku.” Jawab kepala perampok sambil mengamati asy Syibli berpikir keras mengingat-ingat. Namun tetap dia tidak mengingatnya.
“Maaf, bukankah Anda orang yang pernah menjadi pemimpin perampok?” Tanya Asy Syibli.
“Oh! Ya baru ingat sekarang. Benar, aku bersama anak buahku yang dulu pernah merampas barang-barang Anda. Dan puasa yang selalu kulakukan itu telah menuntun dan menarik diriku ke jalan yang benar dan damai.”



Nah, pemirsah….
Jangan nunggu sempurna diri kita untuk menjadi baik.
Jangan pernah berfikir:
“Kalau udah baik aku baru mau naik haji”
“Kelakuanku masih urakan, belum siap untuk pakai jilbab.
“Buat apa ibadah kalau masih berbuat maksiat?”
“Mau jilbabin hati dulu baru kepala”.
Beribadahlah meskipun kita belum sanggup menahan diri dari maksiat.
Berjilbablah meskipun kelakuan kita masih nyeleneh
Naik hajilah meskipun  shalat kita masih belang bentong.
Bisa jadi, Ibadahmu menjadi wasilah dirimu ke jalan yang benar




Boleh bermaksiat sepuasnya jika mampu mengerjakan 5 hal ini


Suatu hari ada orang yang datang mengadu kepada Ibrahim Ibn Adham R.a.
Orang itu  berkata:  “Ya Aba Ishak, aku ini suka melakukan dosa. Tolong berikan jalan keluar  yang ampuh agar aku berhenti berbuat dosa.”
Ibrahim menjawab: “Jika engkau mau menerima lima syarat, dan mampu melaksanakannya, maka  kau boleh melakukan perbuatan maksiat sesukamu.”
Lelaki itu penasaran dengan perkataan Ibrahim Ibn Adham  Ra.,”Apa saja syaratnya supaya aku bisa berbuat maksiat sepuasku?”

“Syarat pertama,” kata Ibrahim Ibn Adham R.a, “Jika kamu mau bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rizki-Nya!”
Laki-laki itu keheranan seraya berkata , “Ya Aba Ishak, kalau aku ga boleh makan  rizki Allah, bukankah semua rizki itu dari Allah? darimana aku makan?”
“Ya,” Tegas Ibrahim Ibn Adham, “Kalau engkau sudah tahu, masih pantaskah  engkau memakan rizki Nya, padahal engkau sering melanggar perintah-perintahnya?”


“Baiklah...,”Jawab laki-laki itu menyerah, “sekarang apa syarat yang kedua?” tanya laki-laki itu.
“Kalau engkau mau bermaksiat kepada Allah, jangan tinggal di bumi Nya.” Kata Ibrahim Ibn Adham Ra memberikan syarat lebih berat lagi.
Syarat ini membuat lelaki itu  kaget setengah mati, “Hah! Ini lebih hebat lagi! Lantas aku harus tinggal di mana? Semua bumi sama isinya ini kan milik Allah semua.”
“Ya, pikirkanlah apakah kamu pantas tinggal di bumi Allah, sedangkan kamu selalu bermaksiat padanya?” tanya Ibrahim kepada lelaki itu.

“Ya engkau benar ya Aba Ishak,” Kembali lelaki itu  pasrah. “Apa syarat yang ketiga?”
“Kalau engkau mau bermaksiat kepada-Nya, mau makan rezeki Nya dan mau tinggal di bumi Nya, maka carilah tempat persembunyian yang Allah tidak bisa melihatmu.”
Laki-laki itu terperanjat mendengar syarat yang ketiga. Belum habis rasa kaget dengan syarat sebelumnya sudah diberi syarat yang tidak lebih ringan. “Ya Aba Ishak, nasehat macam apa ini? Mana mungkin aku menemukan tempat yang Allah tidak mengetahuinya?” kata lelaki itu sedikit kesal.
“Nah...kalau kamu memang tahu tidak ada satu pun tempat yang tersembunyi di hadapan Allah, mengapa kamu masih bermaksiat?” Jawab Ibrahim Ibn Adham kepada orang itu.
Ucapan Ibrahim Ibn Adham membuat lelaki itu terdiam, dalam hatinya ia membenarkan.

“Baiklah Aba Ishak, ...sekarang apa syarat yang keempat?” tanya lelaki itu.
“Kalau  Malaikat Maut datang hendak mencabut nyawamu, katakan padanya, tolong jangan sekarang , aku mau bertobat dan beramal shaleh dulu.”Ujar  Ibrahim Ibn Adham menyebutkan syarat yang keempat.
Kembali laki-laki itu menggelengkan kepala dan tersadar, “Ya Ibrahim, mana mungkin malaikat maut mau memenuhi permohonanku.”
“Y Abdallah, kalau engkau sudah mengetahui  dan meyakini bahwa tidak bisa menunda dan mengundurkan  datangnya kematian, lalu jalan apa yang mungkin bisa memberikan jalan keluar kepadamu dari murka Allah  Subhanahu wa Ta’ala?”
“Baiklah ya Ibrahim, apa syarat yang terakhir?” kata lelaki itu.

Ibrahim bin Adham Ra. memberikan syarat yang terakhir, “Jika nanti malaikat siksa datang kepadamu hendak menggiringmu ke neraka, jangan mau ikut padanya.”
Perkataan Ibrahim Ibn Adham membuat lelaki itu tersadar. “Ya Aba Ishak mereka pasti tidak akan menggubrisku. Pasti mereka tetap membawaku ke neraka.”
“Kalau begitu, dari jalan mana engkau bisa menyelamatkan dirimu dari  siksa Allah ya Abdallah?”
Lelaki itu tidak tahan lagi dengan perkataan Ibrahim ibn Adham R.a. Dia menangis dan dengan penuh penyesalan berkata, “Ya Ibrahim, cukup...cukup...jangan diteruskan lagi. Mulai saat ini aku beristighfar dan bertobat yang nasuha kepada Allah Ta’ala.”
Sejak saat itu, lelaki itu tidak pernah berbuat maksiat lagi.  Dia benar-benar menepati janjinya. Dia semakin tekun beribadah penuh kekhusyuan sampai menemui ajalnya.



Senin, 22 November 2021

Air Susu Dibalas dengan Air Tuba

Di suatu tempat ada sumur yang baru digali. Suatu malam jatuhlah ke dalam sumur seorang tukang mas, kera, singa dan ular.  Saat menjelas siang, lewatlah musafir ke tempat itu. Ketika melihat tukang mas bersama kera, singa dan ular di dalam sumur, berkatalah ia dalam hatinya : “tak ada suatu amal baik pun kecuali Tuhan akan membalasnya di dunia dan akhirat.”

Maka diulurkanlah tambang yang ia bawa ke dalam sumur. Mula-mula kera bergelantung di tali, ditariklah kera hingga ia sampai di atas. Diulurkan sekali lagi, terangkatlah ular. Sekali lagi diulurkan, maka keluarlah singa. Ketiga binatang itu mengucapkan terima kasih dan berkata:  “Terima kasih Tuan, telah menolong kami. Adapun orang itu, janganlah engkau tolong karena dia orang yang tak bias membalas budi.”
Kemudian kera berkata: “Adapun tempat hamba ada di bukit dekat kota yang bernama Nawadiract.”
“Hamba pun di situ, “Singa menyela.
“Hamba juga di situ, “ Ular menimpali.
“Oleh sebab itu,”kata ketiga binatang, “Kalau Tuan dating ke kota itu dan butuh bantuan, sebutlah nama kami, kami akan datang membalas budi tuan  sedapat-dapatnya.” Lalu ketiga binatang itupun pergi.

Setelah ketiganya pergi, musafir kembali menurutkan tambang ke dalam sumur. Dia tidak memperdulikan nasihat ketiga binatang itu. Setelah tukang emas berhasil naik, ia pun mengucapkan terima kasih .
“Tuan, aku tidak akan pernah melupakan pertolongan ini. Aku tukang emas yang cukup terkenal di kota Nawadiract. Jika engkau datang ke kota itu,  berkunjunglah ke rumahku, semoga aku bias membalas budi baikmu ini.” Tukang emas pun pulang dengan senang hati.

Suatu hari, sampailah musafir ke kota Nawadiract. Waktu kera melihat musafir, datanglah ia dan bersujud menjilat kaki musafir dan berkata: “Adapun bangsa kera tidak mempunyai suatu apapun juga. Sungguhpun demikian, sudilah tuan hamba menanti sebentar di sini.” Maka pergilah kera dan sesaat kemudian ia sudah membawa buah-buahan  yang lezat rasanya. Diberikannya kepada musafir. Musafir yang memang kelaparan karena jauhnya perjalanan sangat senang. Ia pun makan dengan lahapnya.

Setelah kenyang, musafir pun melanjutkan perjalanannya menuju kota Nawadiract. Di  tengah perjalanan ia bertemu dengan singa yang telah ditolongnya. Singa pun sujud dan berkata: “Hamba berutang budi pada Tuan. Oleh sebab itu tunggulah sebentar, hamba akan memberikan sebuah hadiah.” Lalu singapun pergi menuju taman istana tempat putra raja bermain. Maka dibunuhlah ia dan kalungnya diambil kemudian diserahkan kepada musafir. Ketika musafir melihat kalung emas, teringatlah ia kepada tukang emas.

“Singa itu telah memberiku perhiasan. Aku akan pergi ke tukang emas. Dia pasti tahu berapa harga kalung ini. Kalua dia miskin aku akan bagi dua dengan dia.” Pikirnya dalam hati.
Maka pergilah ia ke tukang mas. Tatkala keduanya bertemu, tukang emas merasa senang. Kemudian musafir memperlihatkan emas yang dia dapatkan dari singa. Tukang mas terkejut, karena dia tahu bahwa itu adalah kalung putera raja yang telah tewas terbunuh. Ia pun berkata kepada musafir.
“Tuan, istirahatlah dulu. Aku akan keluar mencari makanan. Hari ini perbekalan kami habis.”katanya seraya pergi ke luar rumah.

Dia berkata dalam hati, “Beruntungnya aku. Sebentar lagi aku akan menjadi pembesar di negeri ini. Akan aku beritahukan kepada raja siapa yang membunuh puteranya.”
Sesampainya di Istana, ia pun menyerahkan kalung emas kepada raja dan menceritakan dari mana kalung itu di dapat. Raja pun murka dan memerintahkan tentaranya untuk menangkap musafir itu, memenjarakannya, menyiksa dan menghukum mati.

Mendengar titah sang raja, musafirpun menangis seraya berkata :”Andaisaja aku mengikuti nasihat ketiga binatang itu, aku tidak akan mengalami kejadian ini.” Ia pun meratap sampai kedengaran oleh ular. Ularpun datang menemuinya di penjara untuk membebaskannya. Maka dipatuklah putera mahkota, kemudia ia pergi ke jin sahabatnya. Ia meminta padanya agar mengganggu tidur putera mahkota supaya bermimpi, bahwa ia bisa sembuh kalua di tolong oleh musafir.

Kemudian Ia kembali menemui musafir. “Dahulu sudah kami katakakan tuan jangan menolong orang itu, “katanya. “Tetapi tuan tidak mau mendengar nasihat kami. Sekarang jika datang pesuruh dari raja untuk mengobati puteranya, beri minumlah ia dengan air daun kayu ini. Mudah-mudahan ia sembuh. Kemudian kalau ditanya tentang kejadian sebelumnya, ceritakanlah semuanya dengan sebenar-benarnya. Mudah-mudahan tuan dibebaskan.”
Ketika raja tahu puteranya dipatuk ular, ia panggil semua tabib ke istana untuk menyembuhkannya. Namun tidak ada satupun tabib yang mampu. Hingga suatu malam, putera mahkota bermimpi bahwa yang bisa menyembuhkannya adalah seorang musafir yang di penjara ayahnya. Ketika mimpi itu diceritakan, maka raja memanggil musafir.
“Hamba tidak pandai bermantra, Tuanku,”jawab musafir itu.
“Tetapi cobalah putra itu diberi minuman air daun ini mudah-mudahan sembuh dia.”

Setelah putera raja diberi minum air daun itu,  dengan izin Tuhan sembuhlah ia. Sang Raja sangat bersuka cita  dan musafirpun diberi anugrah yang sangat banyak. Kemudian baginda bertanya tentang hal ihwal kalung itu. Maka musafir pun menceritakan kisahnya dengan sebenar-benarnya. Mendengar cerita musafir, murkalah raja kepada tukang emas, lalu raja menyuruh pengawalnya menangkap tukang emas dan memenjarakannya.

Itulah akhir kisah dari air susu dibalas dengan air tuba. Dia menerima balasan dari apa yang telah dia lakukan. Ketika kita tidak membalas kejahatan orang lain kepada kita, maka akan ada orang lain yang akan membalasnya.




Jumat, 19 November 2021

Wa Lancar : Kisah Dari Sumatera Utara

Wa Lancar adalah seorang anak yatim yang miskin. Tetapi semangat belajarnya sangat tinggi terutama belajar ilmu agama. Sayangnya Ibunya tak sanggup membiayai sekolahnya seperti orang-orang mampu lainnya. Namun tanpa putus asa, Wa Lancar pergi mencari guru yang mau menampung dia belajar tanpa dibayar. Akhirnya Wa Lancar menemukan seorang guru yang rela tidak dibayar, asalkan Wa Lancar mau mengerjakan apa yang diperintah gurunya. Dengan senang hati, Wa Lancar menyetujuinya. 


Setelah sekian lama belajar pada guru tersebut, Wa Lancar hanya diajarkan satu ilmu, "Kalau sudah lapar, jangan makan". Karena ilmu yang diterima tak bertambah, Wa Lancar merasa tidak puas. Lalu dia mencari guru yang lain. 

Setelah mencari kemana-mana, akhirnya Wa Lancar bertemu dengan guru yang kedua. Guru yang kedua pun memberi syarat yang sama dengan guru yang pertama. Dan setelah sekian lama, ilmu yang diberikanpun hanya satu "Kalau lelah berjalan, berhenti!". Karena tidak puas, Wa Lancar pun meninggalkan gurunya dan berniat mencari guru yang lain. 

Setelah menemukan guru yang ketiga, ternyata sama saja. Guru ini pun hanya memberikan satu ilmu yaitu "Ambil Batu, Ambil Pisau, Asah Tajam-tajam". Karena tidak puas dan kecewa, Wa Lancarpun berhenti belajar. Tetapi dia tetap mengingat ilmu yang diajarkan ketiga gurunya. 

Keinginan belajar Wa Lancar tetap besar. Sekarang dia mencari guru lagi, tapi belajar kepada teman-temannya yang sudah selesai belajar agama. Setelah belajar berbagai ilmu, Wa Lancar pergi merantau. 

Setelah sampai di suatu kerajaan, Wa Lancar mohon izin agar dia dapat tinggal di sebuah mesjid kerajaan untuk mengajar ilmu agama. Keinginannya dikabulkan, diapun mulai mengajar anak-anak ilmu  agama. Wa Lancar mengajar anak-anak membaca al Qur'an dan ilmu agama lainnya. Makin lama muridnya makin banyak dan Wa Lancarpun semakin terkenal sebagai guru yang pintar dan baik hati. 

Selalu ada yang jahat di suatu tempat. Demikian pula di kerajaan itu, ada guru lain yang merasa cemburu dengan keadaan Wa Lancar. Karena hatinya iri, ia pun mengadukan Wa Lancar ke raja bahwa Wa Lancar sudah menyebarkan ajaran sesat kepada murid-muridnya. Maka Raja memanggil Wa Lancar Ke Istana.

Raja : "Wa Lancar, tidak sepantasnya kamu berbuat seperti itu. Air susu dibalas dengan air tuba. Aku izinkan kau mengajar di mesjid itu mengapa kau ajarkan aliran sesat kepada murid-muridmu?"
Wa Lancar : "Ampun Baginda, mana berani hamba bertindak seperti itu. Fitnah terhadap hamba, Baginda".
Raja :"Telah datang khabar yang kuat kepadaku. Kamu tidak bisa mengelak lagi. Untuk itu kamu akan dihukum dengan mengawini puteriku."

Wa Lancar heran dan bingung dengan hukuman yang diberikan oleh raja. Alih-alih dapat hukuman yang berat, malah dia akan dikawinkan dengan puteri raja. Namun setelah diberi tahu teman-temannya tahulah ia mengapa dihukumannya dikawinkan dengan puteri raja. Karena setiap puteri raja dikawinkan, tak lama kemudian suaminya mati dengan tiba-tiba. Makanya sampai sekarang sang putri masih sendiri.

Setelah Wa lancar menikah dengan puteri raja, dia dijamu makan bersama dengan beberap orang. Di antara mereka ada guru yang cemburu dan iri yang telah mengadukan dia kepada raja. Mereka makan-makan dengan suka cita. Wa Lancar pun karena lapar, ia hendak makan. Tetapi ingat dengan ajaran gurunya “Kalau sudah  lapar jangan makan”. Wak Lancar tidak jadi makan. Bagiannya diberikan kepada orang lain.

Ternyata, setelah orang yang mendapat bagian makanan dari Wak Lancar tiba-tiba sakit perut. Tak lama kemudian mati. Rupa-rupanya orang yang memfitnah Wak Lancar kepada raja telah membubuhkan racun di makanan Wak Lancar agar dia mati. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau dia membubuhkan racun di makanan Wak Lancar. Dan merekapun tak tahu bahwa dia yang memfitnah Wak Lancar kepada raja.

Setelah kejadian itu, orang yang memfitnah Wak Lancar makin kesal hatinya. Dia pun membawa pengawal raja,dan berkata kepada Wak Lancar.
“Wak Lancar, kamu harus pergi ke sungai sekarang juga. Raja memerintahkanmu mencarikan batu hitam di sana.” Kata orang itu.
“Baiklah, aku akan pergi.” Jawab Wak Lancar tanpa curiga.

Maka berangkatlah Wak Lancar bersama pengawal raja ke sungai. Setelah menemukan batu hitam di sungai, mereka berdua pulang. Di tengah perjalanan, Wak Lancar merasa lelah. Ia teringat pesan gurunya “Kalau Lelah Berjalan, Berhenti”. Maka ia berhenti dan berkata kepada pengawal raja.
“Pengawal, aku lelah. Mari kita istirahat sebentar”. Kata Wak Lancar
“Saya masih kuat, Tuan,” Jawab pengawal raja
“Baiklah, kalau kamu ga mau istirahat, silahkan jalan duluan. Nanti aku menyusul,” kata Wak Lancar sambil duduk menyandar di pohon.

Setelah agak jauh berjalan, tiba-tiba si pengawal menjerit kesakitan dan jatuh ke tanah dengan berlumuran darah. Wak Lancar segera berlari ke arah pengawal raja. Namun sebelum sempat di tolong, pengawal raja telah meninggal. Ternyata dia terkena ranjau yang dipasang oleh orang yang memfitnah Wak Lancar. Akhirnya Wak Lancar bergegas pulang ke istana.

Sesampainya di Istana, hari sudah gelap. Dia berfikir akan menyerahkan batu hitam keesokan harinya kepada raja. Kemudian Wak Lancar masuk ke kamar puteri raja yang telah menjadi isterinya. Sambil duduk, ia memperhatikan isterinya. Karena batu hitamnya disimpan di kantong celana terasa mengganjal, dia keluarkan. Teringatlah nasihat gurunya “Ambil batu, ambil pisau, asah tajam-tajam”. Dia pun mengambil pisau dan mengasahnya di batu hitam. Malam pun semakin larut, pisau Wak Lancar sudah sangat tajam. Tiba-tiba dari sela-sela kaki sang puteri keluarlah seekor lipan putih beracun mendekati Wak Lancar hendak menggigit. Dengan cepat, ia membunuhnya dengan menggunakan pisau yang dipegangnya. Rupa-rupanya lipan itu adalah penunggu sang puteri yang selalu membunuh suami sang puteri terdahulu.


Keesokan harinya, Wak Lancar menyerahkan batu hitam yang di dapatnya di sungai. Dan ia pun menceritakan kejadian semalam waktu ia membunuh lipan putih. Mendengar kabar tersebut, raja sangat senang karena makhluk penunggu telah mati. Maka raja pun mengadakan pesta pernikahan Wak Lancar dengan puterinya dengan besar-besaran. Akhirnya Wak Lancar hidup bahagia dengan puteri raja. 

Kamis, 18 November 2021

Hakim dan 40 Saksi


sumber image: SOCIO-POLITICA.COM
Suatu hari, seorang kaya bermasalah dengan tetangganya. Permasalahan mereka dibawa ke pengadilan. Karena ingin menang, ia memberikan hadiah kepada hakim sebanyak 40 kue bakpaw yang di bawahnya disimpan masing-masing 1 koin emas. Kue itu pun dititipkan ke pegawai sang Hakim. Ketika membawa baki tempat kue bakpaw, terbit selera pegawai itu, karena lapar juga akhirnya dia mengambil kue dan memakannya. Tentu saja dia menemukan koin emas. Karena masih lapar dia mengambil lagi bakpaw sampai empat kali dan mengantongi koin emasnya.
Keesokan harinya, sidang pun digelar. Ketika menghadirkan saksi, dari pihak orang kaya tidak ada yang datang. Hakimnya bertanya: “Dimana saksi-saksimu?”

Orang kaya menjawab: “Tuan Hakim, bukankah kemaren saya kirimkan 40 saksi ke hadapan Tuan?”
Hakim berkata: “Oh ya !!! saya ingat sekarang. Tapi mengenai jumlahnya Anda tidak tepat. Saksi yang datang hanya 36 enam saja.”
Pegawai hakim yang mendengarkan pembicaraan itu kaget dan sadar kalau yang dibicarakan adalah kue bakpaw ia pun berkata: “Maaf tuan Hakim, saksi yang empat sudah lemah dan tidak sanggup bersaksi. Tapi, saya sudah mendengar keterangan mereka. Nanti saya laporkan kepada Pak Hakim.”


Rabu, 17 November 2021

Kisah Orang Tua Menipu anak-anaknya yang jahat

Konon hiduplah seorang laki-laki yang memiliki tiga orang putera. Ketiganya sangat malas dan tidak mau bekerja. Suatu hari laki-laki tua itu sakit keras. Karena merasa ajalnya sudah dekat, ia membagikan hartanya kepada tiga anak-anaknya. 

Akan tetapi, tidak lama kemudian lelaki tua itu sembuh dari sakitnya. Dia bermaksud mengambil kembali harta yang telah dibagikan kepada putera-puteranya. Tetapi mereka tidak mau mengembalikannya. Mereka menggunakan harta itu untuk berjudi, minum-minuman keras dan berpesta pora. Berkali-kali lelaki tua itu memberikan nasehat, tapi malah mereka mencelanya.

Akhirnya, sang ayah sudah tidak tahan lagi. Ia pergi ke rumah temannya dan menceritakan semua hal yang terjadi dengan dirinya. Temannya sangat sedih  melihat kondisi lelaki tua tersebut karena ia tahu bagaimana ayah tiga putera itu telah bekerja keras untuk mengumpulkan harta kekayaannya. Ia berpikir selama beberapa waktu dan berkata, "Aku punya sebuah rencana. Beritahu anak-anakmu bahwa beberapa  tahun yang lalu aku sempat meminjam sejumlah uang darimu tetapi sampai hari ini belum bisa mengembalikan uang tersebut. sekarang, setelah bisnisku membaik, aku ingin sekali membayar utangku kepadamu. Aku akan datang ke rumahmu dengan membawa beberap kantung yang berat. katakan kepada putra-putramu bahwa mereka boleh memiliki kantung-kantung itu setelah kau meninggal dunia. kita akan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Beberapa hari kemudian, teman sang ayah datang berkunjung dengan tiga orang pelayan yang masing-masingnya membawa kantung yang sangat berat. 
"Temanku, katanya kepada lelaki tua itu. "Maafkan aku karena tidak mengembalikan uangmu sedemikian lama. Di dalam kantung ini terdapat seribu koin perak. Aku mengembalikan utangku sebesar lima ratus koin perak  dan lima ratus koin lainnya adalah hadiah atas kebaikan hati dan pertolonganmu."

Ketiga putra lelaki tua itu sangat senang mendengar hal ini. Mereka sangat yakin ayah mereka akan membagi rata uang tersebut untuk mereka seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Ketiga putra tersebut menjadi sangat gelisah karena ingin menyenangkan hati ayahnya, sehingga mereka bersaing.

"Bagaimana kalau aku mengambilkan sebuah syal untuk ayah?" kata salah seorang putranya. "Sepertinya angin dingin akan datang."
Bagaimana kalau aku menemani ayah malan ini?" tanya putranya yang kedua. "Ayah terlalu sering sendirian."
Apa ayah ingin aku mengambilkan makanan untuk ayah?" Pinta putra ketiganya. 
Lelaki tua itu tersenyum. "Anak-anakku, kalian memang putra yang baik. Sebagai imbalan atas kebaikan kalian, aku akan mewariskan semua uang ini untuk kalian. Setelah kematianku kalian boleh menggunakannya sesuai keinginan kalian."

Satu tahun kemudian, lelaki tua itu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ketiga putranya itu bergegas mendekati kantung-kantung itu dan membukanya dengan penuh semangat. Ternyata ketiga kantung tersebut tidak berisi uang  tetapi dipenuhi dengan batu-batuan. 

Awalnya mereka merasa sangat marah. Namun, ketika ketiganya memikirkan perkara tersebut, anak-anak itu mengakui kalau telah menerima apa yang patut mereka dapatkan.




◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger