Senin, 10 Juni 2019

Legenda Rakyat : Kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso (Asal Mula Candi Prambanan)

Roro Jonggrang
Alkisah, ada Sebuah kerajaan Pengging yang dipimpin oleh seorang raja yang sakti mandaraguna. Dia mempunyai seorang anak yang gagah perkasa melebihi keperkasaan ayahnya yang bernama Joko Bandung. Joko Bandung sangat gemar berguru kepada para pertapa sakti. tidak heran kedigjayaannya melebihi ayahnya. 

Kerajaan Pengging selalu berperang dengan kerajaan Prambanan yang dipimpin oleh Raja Boko. Raja ini berperawakan besar sehingga sering dianggap sebagai keturunan raksasa. Dia memiliki seorang puteri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang

Dalam sebuah pepeperangan, Kerajaan Pengging dapat dikalahkan oleh kerajaan Prambanan. tentaranya banyak yang tewas. mendengar kekalahannya ayahnya, Joko Bandung berangkat ke peperangan hendak membantu ayahnya. Dalam perjalanan, dia masuk ke dalam hutan yang dihuni oleh seorang raksasa bernama  Bandawasa. Mereka berdua berkelahi dengan sengitnya hingga Bandawasa hampir mati. Sebelum mati, Bandawasa masuk ke dalam diri Joko Bandung. dan dia berpesan kepada Joko Bandung agar namanya disatukan dengan nama Joko Bandung menjadi Joko Bandung Bandawasa. Joko Bandung pergi ke peperangan dan bertarung dengan dengan seru sampai berhari hari. Akhirnya Joko dapat mengalahkan raja Boko dan membunuhnya. 


Ketika Joko Bandung memasuk istana Kerajaan Prambanan, dia terkagum kagum melihat kecantikan Roro Jonggrang. Joko langsung mengutarakan cintanya dan ingin memperisiterinya. Roro Jonggrang kebingungan menjawabnya. Kalau menjawab tidak mau, Joko sangat sakti dan yang mengalahkan kerajaannya, pasti dia dihukum atau malah akan dibunuh. Dan jika menerimanya Roro sangat benci kepada Joko sebab tahu bahwa Joko lah yang telah membunuh ayahnya. 

Kemudian terpikir olehnya sebuah siasat. Dia berkata kepada Jaka Bandung bahwa dia mau diperisteri olehnya dengan syarat Joko Bandung dapat membuat 1000 arca dan 2 sumur yang dalam dalam waktu semalam. Pikirnya tak mungkin Joko Bandung dapat menyelesaikannya. Namun Joko Bandung memanggil Bandawasa yang telah menyatu dengan dirinya. Bandawasa menyanggupi syarat tersebut. Maka datanglah bala bantuan dari bangsa jin membuat 1000 arca. dengan jumlah yang banyak, para jin bekerja cepat membuat arca. Melihat kejadian itu, Roro Jonggrang sangat khawatir. Hanya satu arca lagi yang belum diselesaikan oleh para jin. Segera Roro Jonggrang pergi ke rumah-rumah  membangunkan para gadis agar segera menumbuk padi sambil memukul mukul alu. ke lisung. mendengar bunyi alu, ayam-ayam jantan terbangun dan ramai berkokok bersahut-sahutan.

mendengar suara kokokan ayam, para jin segera pergi meninggalkan pekerjaanya yang masih tersisa satu candi lagi. Joko Bandung sangat marah mengetahui perbuatan curang Roro Jonggrang. Joko segera mencari Roro Jonggrang dan berkata , " Hai Roro Jonggrang, kau hanya mencari-cari alasan saja. kalau kau memang tidak suka, berkatalah jangan berbuat curang seperti ini. Kau pantas menjadi arca yang keseribu."
Dengan kesaktian Joko Bandung, kata-katanya menjadi nyata. saat itu juga Roro Jonggrang berubah menjadi arca. Sedangkan kepada para gadis yang membantu Roro Jonggrang, Joko Bandung berkata, "Kalian telah membantu Roro Jonggrang mengelabui aku. Maka kalian tidak akan menikah sebelum tua!". 
Candi yang dibuat oleh Joko Bandung disebut juga dengan Candi Sewu yang berdekatan dengan Candi Roro Jonggrang yang dikenal juga dengan nama Candi Prambanan. Kebanyakan gadis-gadis di daerah tersebut tidak laku kawin sebelum tua atau sebelum mereka meninggalkan daerah itu. 

Legenda Rakyat : Asal Usul Kota Cianjur

Kota Cianjur
Jaman dahulu di daerah Jawa Barat ada seorang lelaki yang terkenal sangat kaya. hampir semua tanah  pertanian di daerah tersebut dikuasai oleh orang tersebut. Sehingga penduduk yang lain hanya menjadi buruh. Sayangnya, lelaki tersebut sangat kikir makanya dijuluki si Kikir.

Si Kikir punya seorang anak. Beda dengan bapaknya, si anak ini berwatak baik dan dermawan. Dia suka membantu penduduk desa dengan sembunyi sembunyi.

Suatu hari, si Kikir mau ngadain acara syukuran. Dia mengundang para penduduk desa. Menurut anggapan mereka, kalau ngadain syukuran pasti besar-besaran, jamuannya banyak beraneka ragam makanan, maklum orang kaya. Dasar orang kikir, ternyata si Kikir hanya nyiapin makanan yang sederhana aja, jumlahnya cuma sedikit. Banyak warga desa yang ga kebagian makanan. mereka hanya mengelus dada melihat kelakukan si Kikir yang benar-benar kikir.


"Dasar pelit! kalau ga sanggup nyiapin makanan ngapain juga ngadain syukuran. Buat apa tuh hartanya yang banyak ga ada artinya!"
"Ga bakalan berkah tuh hartanya,"
Penduduk desa pada ngedumel, kesel dengan sikap Pak Kikir yang bener bener kikir. Pada saat selametan, datanglah seorang nenek-nenek miskin minta sedekah. 
"Tuan, kasihani saya Tuan, beri saya sesuap nasi....". rintih si nenek
"Apa? kau minta sedekah? enaknya aja, aku cape cape ngumpulin harta kau tinggal minta," Hardik si Kikir. 
"Tuan, berilah saya meskipun sedikit, Harta tuan kan banyak tidak akan habis hanya gara-gara memberi saya sesuap nasi..."! 
"Pergi sana..berani-beraninya kau ceramahi aku." bentak Pak Kikir 
Si nenek akhirnya pergi juga sambil menitikkan air mata.
Anak pak kikir melihat kejadian itu dari dalam rumah. Dia merasa kasih melihat si nenek yang kelaparan. Dengan diam-diam dia datangi si nenek dengan membawa nasi dan lauk-pauknya.
"Nek...tunggu!" panggilnya. kemudian ia memberi makanan itu kepada si Nenek. 
Si nenek segera memakan makanan itu dengan lahapnya. Setelah memberikan makanan, Anak pak Kikir segera pamit pulang takut ketahuan ayahnya. si Nenek pun mengucapkan terima kasih berkali kali. Diapun melanjutkan perjalanannya keluar dari desa tersebut. sesampainya di daerah yang tinggi dia menengok ke arah desa. Dari situ dia bisa melihat keadaan desa tersebut. Sawah pak Kikir yang membentang luas, gedung tinggi milik pak kikir jomplang dengan keadaan penduduk desa lainnya yang masih terlihat kumuh. Muncul rasa marah si nenek melihat keserakahan pak Kikir.

"Hai pak Kikir, ingatlah kau. keserakahanmu pasti akan menenggelamkanmu,!" Sumpahnya sambil menancapkan tongkat di tanah kemudian keluarlah dari lobak bekas tongkatnya air yang sangat deras mengalir ke arah desa. 
Melihat air deras dari arah bukit yang tiba-tiba, penduduk desa berteriak," Banjir, banjir'!
mereka kalangkabut menyelamatkan diri. Anak si kikir segera keluar rumah, dan berteriak-teriak ke arah penduduk agar segera meninggalkan rumah..
"Ayo segera tinggalkan rumah, sebelum airnya tinggi!" perintahnya
"Bagaimana dengan harga kita?" tanya penduduk
"Kamu pilih nyawa apa harta? ayo segera naik ke bukit!"
Semua penduduk desa berlarian ke arah bukit tanpa menghiraukan lagi harta bendanya. Anak si kikir teringat ayahnya yang sedang di rumah. segera dia pergi ke rumahnya yang sudah mulai tergenang air. 
"Ayah, segera tinggalkan rumah, sebentar lagi tenggelam." panggilnya
"Aku akan ambil kotak perhiasan di bawah dulu. aku tak akan pergi tanpa harta jerih payahku," jawabnya
"Ayah, ga akan cukup waktu,! teriak anak pak petani
tapi terlambat, pak kikir sudah masuk ke ruang bawah tanah mengambil harta perhiasannya yang sudah dikumpulkannya.  karena tak ada waktu lagi, anak pak kikir segera menyelamatkan diri ke bukit yang tinggi berkumpul dengan penduduk desa lainnya yang telah duluan sampai. Sedangkan pak kikir tenggelam beserta harta kekayaan yang dia bangga banggakan.

Melihat desanya yang tenggelam, penduduk desa merasa sedih. Mereka akhirnya sepakat untuk mencari daerah lain untuk memulai kehidupan baru. setelah menemukan daerah baru, anak pak kikir yang dituakan oleh mereka membagi-bagi tanah secara merata dan mengajarkan mereka bagaimana menanam padi dengan baik. Penduduk desa sangat menghormati anak pak kikir dan mengangkatnya sebagai kepala desa. Mereka semua menerima setiap anjuran dari kepala desa. Lama kelamaan desa mereka semakin berkembang menjadi kota kecil yang dikenal dengan sebutan CIANJUR. Ci artinya cai, karena sisitu melimpah. ANJUR dari kata ANJURAN. yaitu nasehat dari pimpinan mereka yang dijadikan pedoman oleh penduduk dalam mengolah sawah. Sampai ini daerah tersebut terkenal dengan nama Cianjur dan terkenal dengan berasnya, Beras Cianjur yang wangi, enak dan gurih. 






Kamis, 06 Juni 2019

Dewi Rengganis ocon sareng Raden suwangsa, (Kisah Dewi Rengganis bag.6)


Dangdanggula (i-a-e-u-i-a-u-a-i-a)

Lajeng gugah bae Raden Mantri, tina bangku pangkulemanana, sarta hulang huleng bae, bari ningal ka luhur, ningalian Dewi Rengganis, duh enung gusti engkang, kuma peta nyusul, henteu bisa ngawang-ngawang, kaniaya Rengganis ka diri kami, wet wani-wani nilar.

Kacaturkeun polah Raden Mantri samar rasa teu puguh polahna, cara hayam arek ngendog, manahna kalangkung liwung cara jalma keun piranti, tegesna ku wisaya, cara nu kaduyung, tina sanget kaedanan, nu kacipta ngan Rengganis buah ati, raos teu pisah-pisah.

Kitu deu Nyai Rengganis henteu lali kana perjangjian, serja ngajugjug ka kebon ti gunungna geus ngapung ngawang-ngawang bareng jeung angin. Wangina geus tiheula ngajugjug pangambung Raden Iman Suwangsa; langkung kaget ningal kanan miwah keri, mesem Kusumah Rara., ningal tata polah Raden Mantri. Nyi Rengganis enggeus ngambah lemah, gandrung-gandrung angkat alon, lucu anu lumaku istu titih Retna Rengganis mun manggih jeung seuseukeutan nyimpang rada jauh, temahna bisi kacugak, kasarimped ngabeulit raheut ku hinis, Rengganis wiwahana.

Narpatmaja geus hoyong panggih, Nyi Rengganis henteu katangilan kahalangan ku kakayon, handapeun nagasantun rada nyumput Retna Rengganis. Ngan wangina nyambuang jero taman santun. Suwangsa wuwuh kaedanan, pok ngalahir, “Nya dimana Nyi Rengganis, henteu gera katingal?” Mesem leleb Nyi Retna Rengganis, ngarungukeun saur Narpatmaja, sasauran semu banyol , “Dimana si dadahut nu sok ngundeur di Tamansari, siga naon rupana, mana matak giung tayohna geulis rupana, ngan hanjakal salingkuh kacida teuing, bohong naon pedahna. Salingkuh teu nembongkeun diri.” Ku suwangsa haben di teangan, henteu lila geus katembong, bungah manahna kalangkung, Narpatmaja barang gok panggih, lir budak susumputan, neangan katimu, gumujeng langkung suka, kitu deui Kusumah Rara Rengganis, teu beda jeung Suwangsa.

Enggeus sami ngadukeun tingali, Nyi Rengganis lucu lelewana, serewel jeg nangtang toel. Raden Suwangsa maju pura-pura henteu ningali ka Nyimas  Argapura, Rengganis geus maphum, sarta Rengganis geus yatna, Narpatmaja bari maju mesem manis ngarah dek newak tangan. Ganjang ngejat Nyi Retna Rengganis. Teu katewak,

Saur Narpatmaja ,”heum naha Enung sok ogo, dideukeutan sok undur, matak naon mun jongjong cicing, calik mangka jatnika, montong dek timburu, salempang ku engkang, da engkah mah henteu pisan goreng pikir, maksud nu saenyana. Enggeus jamak mungguhing di jalmi mun papanggih jeung dulur geus lila, pasti kudu ruket bae, jamak sono jeung dulur, lamun make tataning santri seug tuluy sasalaman. Sunat geus mashur, hayu urang sasalaman, da engkang mah henteu boga dua pikir, taya pikir rangkepan.”

Pok ngawalon Nyi Ratna Rengganis, “Anu matak sungkan deukeut pisan adat ajengan sok ocon. Pasemon ngan dek nubruk kawas lain tedak bupati, ngan endek tuwak tewak. Kuring mah panuhun jadi ngaleungitkeun tata, lamun cara sareng saderek sayakti, mun geus pada gede mah. Awad awad henteu dua pikir, ngadeukeutan ngajak sasalaman, ku kuring dikinten bae, ajengan dek murugul. Lamun kuring teu geuwat nyingkir, dicandak sasalaman, rasa kuring tangtu moal lesot ku sakedap. Hantem bae tujuh poe tujuh peuting moal lesot panangan. Pasti haram mungguhin di santri, lamun linggih deukeut rerendengan lalaki sareng awewe, nya kudu rada jauh kira pantes mun ditingali, kudu heuleut satumbak, sedengna kitu meureun katingalna, jadi pantes teu kasebat hina teuing.” Raden kawon bicara.

Bari imut Rengganis pok deui, “jisim kuring jengkel ku ajengan, jauh-jauh keneh oge, ngan dek ngadu pangambung, ngadu tarang jeung jisim kuring, naon kersa ajengan, anu matak kitu? Jisim kuring mah teu werat, lamun acan akad nikah ka masigit, sungkan dicaluntangan.”

Narpatmaja pok ngalahir deui, “Eneng Ratna, engkang henteu terang kana omongan Nyai teh, wantuning rada jauh, reujeung kapalidkeun ku angin. Cing sing deukeut meueusan, supaya karungu, tetela nu bicara ku manehna supaya kami mangarti, coba sing deukeut pisan. Reujung deui maneh teh Rengganis, poma ulah arek salah tampa, engkang geus rada torek nu matak nyai kudu mun ngomong tompokeun sakali kana ceuli sing nyata.”
Rengganis ngawangsul, “ Palias teuing juragan kirang rungu.”

Gumujeng Raden Mantri akalna taya nu mental. Kacaturkeun geus satata linggih. Nyi Rengganis reujeung Narpatmaja duaan enggeus ngarendeng. Raden Suwangsa nyaur, “Saperkara cacadna Nyai kurang rumaket pisan. Boro ngangken dulur masih keneh asa-asa. Cek engkang mah Nyai kaapikan teuing, leuwih tina meujeuhna. Diri engkang ayeuna ku Nyai geus diangken dulur kapiraka, tapi tacan ngeunah keneh najan sapuluh ngaku ngaku dulur da teu sabibit reujeung  henteu sabapa. Teges dulur pulung, tatapi ulah kapalang, lamun rempug reujeung lelembutan Nyai, anggur geura rimbitan. Lamun Nyai rek boga salaki, kudu milih ka jalma nu utama, nu asal turunan hade, sukur mun sakaruhun, tungggal buyut nini jeung aki, tegesna ka baraya supayana runtut, nu matak kudu sabangsa, nu pambrih sakahayang, sabagja sacilaka. Reujeung ka nu netenpan agami, nya carogean ka nu rapekan, tegesna rea kanyaho, ambih meunang pituduh lahir batin marga salaki, ka salira enung ulah nyorang paribasa, carogean pipilih nyiar nu leuwih, koceplak ka nu naktak.”
“Ari indit kudu reujung arit, tugur tundan nanggung bebekelan, lengoh di titah ngagotong, ngan ulah ka nu kitu,  temah matak sangsara diri, mana kudu ihtiar, samemeh dipaju, tegesna di timbang timbang, ku pamilih ulah sok nyebut geus takdir memeh beak ihtiar. Upamana mungguh awak Nyai, carogean lain ka sasama, tangtu jadi omong bae, diomongkeun ku batur, jadi taya beunangna geulis, pantes mungguh enung mah meunang putra ratu, nu masih keneh jajaka. Coba pikir papatah engkang ku Nyai lebah mana salahna?. Sukur lamun ka Banjaransari, Eneng lanjang engkang masih bujang, lamun pareng jadi jodo, asa moal teu lulus, laluasa salami lami. Sarta hade repokna, padaringan pinuh, ku engkang geus diteang, repokna urang dina parimbon pal Nabi, watekna sugih dunya. Bakal rea putra rea putri , rea pare keur baris maraban, rea uang reu uwong, jeung teu suwung lumbung, lamun saban taun sasabin. Coba enung pikiran, henteu pantes embung, ka nu boga kebon kembang.”

Pok ngawalon Rengganis, kelepna manis, “Tacan niat rimbitan, saur anjeun jadi cara arit, henteu lempeng nyengkrong ka sorangan, ngeupeul ngahuapan maneh.”

Raden Suwangsa nyaur, “Bener pisan omongan nyai, anu matak makaya, hayang seubeuh nyatu, reujeung deui seja engkang, sugan pareng seja ngahuapan Nyai anut ka engkang.”

Nyi Rengganis wastuning surti, geus rumasa katempas bicara, isin alangah elengeh, tungkul barina imut, sarta muji di jero ati, ieu jalma berakal, rada bisa padu, kinca asin ditahangan, petis cina wantu manah menak lantip, bisa malikkeun kecap.

Narpatmaja pok ngalahir deui, “Anu sanget diteda ku engkang, ngan dapon disandig bae.”
Nyi Rengganis ngawangsul, “Lamun estu hoyong disanding, ku sim kuring sumangga, tapi ulah ganggu, sareng anjeun sumpah.”

Henteu lami Raden Suwangsa ngalahir, “Mun engkang ngagangguan, mugi engkang cabok ucing gering, ka nu bala disetakan kadal, diseureudan ku cocopet, disamberan kukupu!”

Nyaur deui Retna Rengganis, “Sumangga ulah cidra, sing sami saestu, poma ulah ngaheureuyan!” Geus nyampeurkeun Kusumah Rara Rengganis geus ngarendeng calikna.

Narpatmaja misil lauk cai, kasaatan tuluy kacaian, si lauk teh tangtu atoh, Narpatmaja nya kitu, sakalangkung manahna tiis, jeung henteu petot ningal ka Sang Ratna Ayu. Rengganis geus rerendengan jeung Suwangsa lir gambar anyar ditulis, semuna wuwuh endah. Narpatmaja sangsaya dumeling, rerendengan jeung Retna Juwita,  tegesna teh wuwuh kasep, lelembutan geus kumpul, pangacian geus tetep deui, raga gede tanaga, ku sabab digugu, dituturkeun kahoyongna kur Rengganis digendeng disanding sanding, sirna galih nu panas.

Narpatmaja jero manah sabil, ari ningal ka Retna Juwita, mehmehan bae kasupen, sok ras inggis kaduhung, lajeng Raden Suwangsa muji, rea maos istigpar, tapi keukeuh giung, geus teu puguh rarasaan, nanging isin ku nu ngawujudkeun diri, tatapina bisbisan.

Narpatmaja ngawujukan manis, “Eh Sang Retna cik engkang ningalan, eta cingcin nu dianggo!”
Lajeng Ali dicabut, dialungkeun ka Raden Mantri, lajeng ditingalian permatana jamrut.
Ngalahir Raden Suwangsa, “Coba Nyai ku engkang terapkeun dieu kana ramo maneh!”

Geus peryatna Nyi Retna Rengganis. Barang gek endek dicandak ramona, tina enggon emok ngeser, imut barina nyaur. Lajeng ngapung deui Rengganis. Raden kantun nyalira, rubuh henteu emut, ebog ngagoler di latar. Anu ngapung rundag randeg, alak ilik, melang ka nu ditilar.

Malik deui Nyi Retna Rengganis rada handap geus beuki ngungkulan Dewi rengganis ka Raden. Tuluy diceluk celuk nu ngagoler nu keur teu eling di hantem digentraan. Weleh teu ngawangsul Rahaden Iman Suwangsa, sapertinu hilang teu pisan eling tina sanget kantaka.

Langkung welas Nyi Retna Rengganis ningal raka geus kitu petana, micara di jero hate. Sugan mah enya pupus, dicalukan henteu ngalahir, ieu teh pupus enya, atawa si palsu. Rengganis geus ngambah lemah, Narpatmaja geuwat diboro sakali ku Nyi Argapura. Digugahkeun hentu daek lilir, narpatmaja jongjong kapidara. Rengganis manahna kaget. Kusumah Rara matur, “Gera gugah juragan kuring, kuring teh ieu dongkap, henteu tulus wangsul, juragan gera pariksa, jisim kuring naha teu cara sasari henteu enggal mariksa. Naha enya engkat teh geus mulih kana ajal? Mun upama enya engkang pupus kuring maot, seja tumut sakubur jisim kuring teu werat kari, taya nu dibelaan najan panjang umur, lamun engkang pupus enya, tapi ieu salirana mah walagri cara jalma nu waras.

Tuluy matur Nyi Dewi Rengganis,"Jisim kuring sumeja pamitan, ayeuna dek wangsul wae, jeung sungkan tunggu-tunggu, ngantos waras nu gering, kudu satengah bulan, anggur bade wangsul, kesel ngantos-ngantos damang, lawas teuing meureun pirang-pirang wengi."

Lahiran Raden Narpatmaja, "Banyol bae montong kerah kerih, ayeuna ge engkang teh geus damang, ngan ulah ditinggal bae," Raden Banjarsantun enggeus linggih sareng Rengganis, matur pokna teh, "Jamak banyol da jeung dulur, jeung sim kuring resep nganjang,  ka gamparan, ngan keuheul  sok ocon teuing, dek ngalubarkeun tata. Sae oge papahare linggih, pertandana ajengan ogoan hoyong deudeukeutan bae, panangan tara nganggur, mindeng pisan muntangan kuring, naon anu diarah, jeung udeng dikandung, gumati dek newak tangan, jadi naha mun kuring teu geuwat nyingkir, tangtu katitiwasan.

Nyi Rengganis estuing berbudi, hade basa sing sarua bisa, bisa ngalap-ngalap hate, tuhu matak kayungyun, wantu wantu paranakan jin, dina mangsa harita, samemehna wangsul ninggalkeun heula kawaas, tetembangan basa Jawa Sunda sindir kinanti  opat pada

KINANTI
Sim kuring amit dek ngidung
diajar lagu kinanti
minangka jadi landongna,
ka nu kapidara tadi
nyuhunkeun widi gamparan,
manawi temah baribin

Rao kagunturan madu
kaurugan menyan putih
dibanding ku putra raja
henteu werat males asih
reremkan panjang putra
kasepna kantun dumeling

Nu teu maparinkeun mundur
nu kagungan taman sari
sarta someah ka semah
hanjakalna saperkawis
awad awad kapidara
pambrih dipeuseul ku kuring

Kumaha rasa mun tulus
mun pareng jeug titis tulis
ngawulaan putra raja
sarta jadi eusi bumi
daun pulus di lulunan
kaso handapeun kaliki

DANGDANGGULA
Narpatmaja ngarungu kinanti, langkun regep pisan tina wawangslan, kana kalbu lebet kabeh, datang ka ngarumpuyuk, jeung miwarang Enung pek deui, Kinanti opat pada, engkang gantung rungu, bari engkang dek diajar, lagu tembang kinanti nu cara tadi, Enung nu mapatahan

Nyi Rengganis henteu tembang deui, lajeng bae harita pamitan, ngan nyuhunkeun widi bae, sim kuring seja wangsul, lima poe jangsi sim kuring, tinangtu deui datang, Narpatmaja nyaur, semuna alum kacida, sare bae sapeuting di deiu Nyai, Rengganis inditna maksa

Enggeus ngapung Nyi Retna Rengganis, ngawang ngawang henteu katingalan, geus mulang ka gunung gede, kacaturkeun nu dikantun, Narpatmaja kalangkung brangti, ti beurang tara tuang, ngahiul ngajentul, mun sore taya sarena, nu kacipta kajaba ti salianing, Kusumah Argapura

Geus makuwon di jero tamansari, Narpatmaja dina kebon kembang, kumambang bae cipanon, parekan para babu sami ngadep ka Raden Mantri, geus kumpul di payunan, sami heran kalbu, ningal panata juragan, jadi beda tinda adatna sasari, kawas jalma kasambang

Susur sasar sarta kumbang keumbing, kembang kembang ditingalan, Rengganus anu katembong, sida gek umbang ambung, sareng sering sok ngahariring, panyana para embang Raden owah kalbu, ku bawaning kaleleban, para emban henteu ningal ka Rengganis, anging Iman Suwangsa

Kacaturkeun Raden engeus lami, malah enggeus jangkep dua bulan, nyobatna jeung Rengganis teh, henteu kersaeun wangsul, narpatmaja di tamansari, lir kenging ku wisaya, kalebon parabun, engeus tara ngadeuheusan, ka kangrama jangkep dua bulan lali, mungkur henteu paseban.

bersambung Legenda Dewi Rengganis 7 : Bagenda Amir Hamzah





Rabu, 05 Juni 2019

Beauty and The Beast

Suatu masa, seorang pedagang berangkat ke pasar. Sebelum berangkat, ia bertanya kepada ketiga putrinya hadiah apa yang diinginkan mereka. Puteri pertama menginginkan daun brokat, puteri yang kedua meminta kalung mutiara, tetapi puteri yang ketiga yang bernama Beauty puteri yang termuda dan paling cantik di antara mereka  berkata kepada ayahnya, “Aku hanya ingin dibawakan bunga mawar yang ayah bawakan khusus buatku.”

Ketika pedagang itu selesai berbisnis, ia pulang ke rumah. Namun tiba-tiba badai menerjang, dan kudanya tidak bisa bergerak dengan cepat. Dalam keadaan dingin dan lelah, pedagang sudah kehilangan harapan dapat menemukan penginapan. Tiba-tiba dia melihat cahaya dari sela-sela pepohonan. Segera dia mendekat. Dia menemukan pintu  yang terbuka. Meskipun sudah berteriak berulang-ulang namun tidak ada jawaban. Dengan memberanikan diri dia berjalan-jalan berkeliling. Dia menemukan makananan di meja yang sudah tersajikan. Sebentar sebentar pedagang berteriak memanggil pemilik kastil, namun tetap tidak ada jawaban. Karena kelaparan dia memakan makanan  yang tersedia di meja, terasa masih hangat.


Dengan rasa penasaran, dia memberanikan diri naik ke lantai atas, di sana ada koridor menuju ke sebuah kamar yang megah. Api yang menyala di perapian dan tempat tidur yang empuk terlihat sangat mengundang. Karena dorongan rasa ngantuk dan capai, tanpa disadari pedagang merebahkan dirinya di kasur itu dan tertidur dengan pulas. Ketika ia terbangun keesokan harinya, dia melihat secangkir kopi dan buah-buahan di samping tempat tidurnya.

Setelah sarapan dan merapikan diri, pedagang turun ke aula dan mengucapkan terima kasih kepada sang dermawan. Namun seperti malam sebelumnya, tidak ada seorang pun yang terlihat atau mejawab panggilannya. Dia menggeleng-gelengkan  kepalanya dengan heran atas keanehan yang terjadi di tempat itu. Kemudian dia pergi ke taman tempat kuda ditinggalkannya. saat dia melewati semak bunga mawar, dia merasa tertarik, dan teringat akan janji kepada puterinya. Segera dia membungkuk untuk memetik setangkai mawar. Tiba-tiba dari arah kebun melompatlah seekor binatang buas yang mengerikan mengenakan pakaian indah. Matanya merah melotot penuh kemarahan, dia menggeram, “Orang tidak tahu terima kasih, aku berikan kau tempat berteduh, kau makan dari makananku, kau tidur di tempat tidurku, sekarang kau mencuri mawar kesukaanku, tak ada balasan untuk seorang pencuri, kau harus mati!”

Pedagang gemetar ketakutan, sambil berlutut dia memohon mohon kepada the Beast :”Maafkan aku!, maafkan aku! Jangan bunuh aku! Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan! Mawar itu bukan untukku, itu untuk puteriku, Beauty. Aku telah berjanji akan membawakannya bunga mawar setelah pulang dari perjalanan.”

The Beast menjatuhkan jepitan kakinya mendengar keluhan pedagang. “Aku akan mengampuni hidupmu, tapi dengan satu syarat, jiwamu harus digantikan oleh puterimu!” The Beast mengancam si Pedagang, dia akan membunuhnya jika tidak taat. Pedagang berjanji akan melakukkannya.
Sesampainya di rumah, Pedagang menangis saat di jemput oleh ketiga puterinya. Setelah dia menceritakan kisahnya yang mengerikan, Beauty menyampaikan pendapatnya saat istirahat.

“Ya ayah, aku akan melakukan apapun yang untukmu! Jangan khawatir, Ayah akan bisa memenuhi janji dan menyelamatkan hidup! Antarkan aku ke istana. Saya akan tinggal di sana menggantikan ayah!” pedagang memeluknya seraya berkata, “aku tidak pernah meragukan cintamu pada ayah. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih karena kau telah menyelamatkan hidup ayah.” Maka berangkatlah Beauty diantar oleh ayahnya.  Sesampainya di istana, ketika the Beast bertemu Beauty dia tidak bisa berkata apa-apa. Alih alih mengancam Beauty seperti yang ia lakukan pada ayahnya, dia menyambutnya dengan riang.

Pada mulanya, Beauty takut berhadap dengan Beast, dan gemetar saat melihatnya. Namun seiring waktu dia rasa takutnya semakin memudar. Beauty tinggal di salah satu kamar terbaik di kastil. Duduk berjam-jam sambil menyulam. Kadang-kadang Beast duduk pula di dekatnya dengan sesekali mencuri pandang, kemudian mulai berkata-kata. Sampai akhirnya Beauty merasa heran saat menemukan bahwa dia merasa senang ngobrol dengan Beast. Hari hari berlalu, Beatu dan Beast menjadi teman yang baik. Sampai pada suatu waktu, Beast memintanya untuk menjadi isterinya. Karena terkejut Beauty tidak bisa memberikan jawaban. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Menikah dengan raksasa jelek? Dia lebih baik mati. Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya karena tidak ingin menyakiti hati orang yang telah berbuat baik padanya. Dan ia pun teringat janji kepada ayahnya.
“saya benar-benar tidak bisa mengatakan ya, “ ia mulai gemetar, “Aku banyak sekali...... Beast menyela dengan cepat, “Aku mengerti! Dan aku tak tersinggung dengan penolakanmu!”
Kehidupanmu berjalan seperti biasa. Suatu hari Beast memberikan sebuah cermin ajaib yang bagus. Ketika Beauty bercermin, dia dapat melihat keluarganya yang jauh.
“Anda tidak akan merasa kesepian lagi,” Kata Beast saat memberikan hadiahnya. Beauty menatap keluarganya yang jauh selama sepanjang waktu. Lalu ia mulai khawatir. Suatu hari, Beast menemukan Beauty sedang menangis di samping cermin ajaib.

“Kenapa kau menangis?” ia bertanya dengan ramah seperti biasanya.
“Ayah saya sakit parah, hampir sekarat! Oh, betapa aku berharap dapat bertemu lagi sebelum terlambat!” Tapi Beast menggelengkan kepalanya.

“Tidak, kamu tidak akan pernah meninggalkan kastil ini!” sambil melihatnya dengan marah. Namun kemudian ia kembali berbicara dengan sungguh-sungguh kepada gadis itu.
“Jika kau bersumpah  akan kembali  lagi kesini dalam waktu 7 hari, aku akan membiarkannmu pulang mengunjungi ayahmu.”
Beauty bersujud memeluk kaki Beast dengan senang.
“Aku bersumpah! Aku bersumpah aku akan menepatinya! Bagaimana pun Anda! Anda telah membuat seorang puteri tercinta merasa bahagia!”

Sebenarnya, pedagang jatuh sakit karena hatinya sakit mengingat puterinya masih dalam tahanan. Setelah bertemu Beauty dan memeluknya, dia kembali ke pembaringan.  Beauty selalu menemaninya sepanjang waktu dan menceritakan  kisahnya selama dia tinggal di kastil dan menceritakan kalau Beast benar-benar baikl. Hari-hari berlalu, akhirnya pedagang sudah bisa meninggalkan tempat tidur. Dia benar-benar telah sembuh. Beauty merasa senang akhirnya. Namun dia lupa dengan janjinya, tujuh hari hampir berlalu. Suatu malam dia bangun dari mimpi yang buruk. Dalam mimpinya dia melihat Beast sedang sekarat dan memanggilnya sambil mengerang kesakitan.

“Kembalilah, kembalilah padaku!” dia memohon. Untuk menepati janjinya dia meninggalkan rumah dengan segera. “Cepat! Cepat, kuda bagus!” katanya sambil mencambuk kudanya, dia takut terlambat datang ke kastil. Dia bergegas menaiki tangga, memanggil, tapi tidak ada jawaban.  Beauty berlari ke taman dan melihat Beast yang tergeletak , matanya tertutup seolah-olah mati. Beauty melemparkan dirinya dan memeluknya erat-erat.

“Jangan mati! Jangan mati! Aku akan menikahimu....”Saat kata kata ini terucap, terjadi keajaiban. Moncong jelek Beast berubah menjadi seorang pemuda yang rupawan.

“Alangkah aku merindukan keadaan ini!” dia berkata’ “Aku menderita dalam diam, dan tak ada yang tahu rahasiaku yang menakutkan ini. Seorang penyihir jahat telah mengubahku menjadi monster dan hanya cinta seorang gadis yang mau menikah denganku dan mau menerimaku apa adanya, yang bisa mengubahku kembali. Cintaku, aku akan sangat senang jika kita menikah...

Tidak berselang lama, merekapun menikah. Sejak saat itu, Pangeran menguasai semuanya termasuk kebun mawarnya. Itu sebabnya sampai saat ini pun, bentengnya dikenal sebagai Kastil Mawar.

Sumber : terjemah bebas dari Beauty  and The Beast 




Pengaruh sebuah kisah dan dongeng terhadap perilaku anak-anak maupun dewasa

Saat mengajar kadang-kadang saya selingi dengan sebuah kisah atau dongeng. Anak anak biasanya sangat senang kalau belajar diselingi dengan dongeng, mereka terlihat lebih menikmati mendengarkan sebuah kisah atau dongeng dibanding mendengarkan pelajaran, kebetulan pelajarannya matematika :D .
Saya sih ngambil hipotesis bukan cara mendongengnya yang bagus tapi mungkin mereka menghindar dari belajar matematika yang ngejelimet, hehe. Tapi ada baiknya juga, setidaknya mereka mau mendengarkan, jadi kita bisa memasukkan nilai nilai moral disitu. 
Hampir setiap hari saya mendongeng untuk anak-anak, baik itu cerita yang singkat maupun panjang. bahkan saya pernah menceritakan kisah bersambung di kelas matematika. Bukan hanya di kelas, kebiasaan bercerita saya juga diterapkan di TK maupun majelis taklim, baik remaja, ibu-ibu maupun bapak-bapak. 


Nah, karena itulah saya perhatikan ternyata dalam menceritakan sebuah kisah ataupun dongeng, ternyata bercerita itu harus menggunakan trik berbeda. Untuk anak TK dan SD, kita medongeng harus dengan enerjik, banyak gerak, dan menggunakan alat peraga . Mereka pasti menyukainya, apalagi kalau suara kita disesuaikan dengan karakter si tokoh dan suasana cerita. Cerita fiksi yang heroik sangat mereka sukai.

Berbeda dengan anak TK, anak remaja (SMP-SMA) tidak terlalu suka dengan gaya yang terlalu enerjik, atau bahasa mereka "lebay.com. Adapun jenis cerita yang disukai anak remaja adalah kisah asmara yang realistis. Misalnya kisah asmara sang pendongeng  (silahkan ceritakan aja kisah cinta anda yang sedikit di dramatisir :D). Bercerita di depan anak smp atau sma rada susah. Diheboh-hebokan, lebay, datar saja tidak diperhatikan. Yang unik, mereka sangat suka dengan cerita hantu, meskipun setelahnya ketakutan.

Bercerita kepada orang tua kadang-kadang tidak perlu emosi berlebihan nilainya akan sampai. Pernah bercerita tentang sebuah kisah sedih dengan datar mereka terhanyut dengan ceritanya padahal saya sendiri yang bercerita datar. Kadangkala saya menceritakan sebuah kisah sedih merasa sedih sendiri, padahal mereka biasa2 saja. :D

Tips ini berlaku hanya untuk pendongeng amatiran, beda lagi kalau anda ingin menjadi pendongeng profesional.

Apa benar sebuah cerita itu sangat mempengaruhi moral anak?

Timun Mas
Dalam al Qur'an pun telah disebutkan bahwasannya dalam sebuah kisah ada pelajaran yang dapat dipetik bagi orang-orang yang berakal. Ternyata kalau kita teliti sekilas, sebuah bangsa mempunyai karakter mirip dengan tokoh masa kecilnya.
Contoh: Bangsa Indonesia dari kecil dicekoki dengan cerita si Kancil. Karakter si Kancil terkenal, pintar, punya banyak akal, tapi suka mencuri. Ingatkan lagunya?
Si kancil anak anak nakal,
suka mencuri mentimun...

Nah, ga aneh karakter si Kancil melekat pada sebagian besar orang besar kita. Jadilah mereka ORANG PINTAR yang SUKA MENCURI, contohnya ya Koruptor toh? :D.
Kisah timun mas pun itu mengajarkan ingkar janji. Ketika si nenek menerima biji timun yang akan tumbuh dan isinya bayi, dia berjanji kepada raksasa akan menyerahkan anaknya itu jika sudah berusia 17 tahun, eh malah disuruh kabur. Ya itu, melekat ke sebagian politikus kita, sebelum punya jabatan pada dekat sama rakyat dan umbar janji, udah dapat mah pada kabur entah kemana.

beauty and the beast
Bandingkan dengan kisah Amerika (eeeit, bukan belain amerika loh, hanya perbandinga aja :D), Mereka dicekoki dengan cerita Superman, Batman, Star Trek yang berbau tekhnologi. itu membekas pada karakter mereka yang berbau ilmiah dan tekhnologi, jadilah mereka negara AdiKuasa di bidang tekhnologi dan lain-lain. Coba bandingkan kisah Timun Mas dengan Beauty and the Beast. Si Timun Mas kabur dari raksasa, si Beauty malah menepati janjinya datang ke The Beast si Manusia Singa. Mungkin kalau Timun Mas ga kabur, bisa jadi itu raksasanya berubah jadi pangeran :D

Kesimpulannya, pilih2lah dalam menceritakan sebuah kisah pada anak, karena itu akan melekat kuat dalam ingatannya, bahkan bisa menjadi sebuah inspirasi baginya.
selamat mendongeng :)


Sumber image : justjared.com (beauty and the beast), indoanswer.com (Ka Rico), folktalesnusantara.blogspot.com (timun mas)



Dewi Bidasari Di Buang Ayahnya, Raja Kembayat (Syair Bidasari bag 3)

Setelah sudah mandi bersuci
disambut anakanda disusui
kasih dan sayang tidak terperi
Puteri nan hendak ditinggali

Laki isteri bercinta gundah
memandang anakanda paras yang indah
Baginda menangis seraya bermadah
hendak dibawa bukannya mudah

dialaskan kain berpekanakan emas
diselimutkan dengan cawal kemas
memandang anakanda hatinya lemas
rasanya harap terlalu cemas

setelah hampirkan siang
hatinya belas terlalu sayang
diselimutkan kain intan di karang
manikam merah kemala diselang

ditaruhkan kendi di sisi anakanda
berbagai pakaian isinya ada
dinar dan intan emas bertatah
kendi-kendi kemala ditinggalkan Baginda

Dipeluk dicium seraya berkata
berhamburan dengan airnya mata
ayuhai emas putera juita
dipelihara oleh Tuhan semesta

lalu menangis puteri bangsawan
diletakan anakanda pilu dan rawan
kur semangat anakku tuan
semoga didapat orang bangsawan

Baginda menyapu airnya mata
memandang isterinya seraya berkata
ayuhai Adinda marilah kita
fajar menyingsing terangkan nyata

Segera berjalan laki isteri
hendak lekas ke luar negeri
tidak memandang kanan dan kiri
ke dalam hutan membawa diri

bersambung ke Dewi Bidasari di Pungut Laela Jauhari

Syair Bidasari (Hikayat Melayu) bag. 2

Dua bulan dura dan masa
lemahlah badan letih dan lesah
berbagai Baginda melihat termasa
sampailah kepada suatu desa

Sesat kampung seorang saudagar
jalannya sulit terlalu sukar
berhenti Baginda di luar pagar
heran tercengang duduk bersandar

Negeri mana gerangan ini
kampung siapa pula begini
hendak masuk tidak berani
baiklah kita duduk di sini

Tuan Puteri menangis seraya berkata
Kakanda wai apa bicara kita
sakit perut rasanya beta
senyap berdebar di dalam cita

Baginda mendengar tidak terkira
hilang budi lenyap bicara
berkata dengan perlahan suara
jikalau Adinda hendak berputera

Marilah Tuan kita berjalan
gagahi sedikit perlahan
mencahari sungai tempat perhentian
supaya jangan jadi kepayahan

Berjalanlah Baginda laki isteri
seraya memimpin tangan isteri
tepi sungai juga dicahari
dua tiga langkah terhenti

Setelah sampai turun ke pantai
dilihatnya perahu terlalu bisai
lengkap dengan kajang di lantai
naik perahu duduk berjuntai

Bulan pun sedang empat belas hari
kepada kutika dini hari
Puteri beranak seorang diri
diriba Baginda kepada isteri

Sepoi sepoi angin bertiup
air tenang angkasa rawa
Kepodang Punguk berbunyi sayup
seperti di dalam Gaibul Guyub

Lemah lembut angin utara
berkokok hayam merdu suara
dewasa itu puteri berputera
seorang perempuan tidak bertara

Sudah berputera Tuan adinda
ditelatak Baginda seraya bersabda
nyawa kakanda bangunlah adinda
bersriam dengan paduka anakanda

Bersambung ke Dewi Bidasari dibuang ayahnya
◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger