Senin, 29 Juli 2019

Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir : Cerita Rakyat Sumatera Utara

Sumber gambar: danautoba.org
Seperti legenda-legenda lainnya, legenda Danau Toba pun mempunyai banyak versi. dapat dimaklumi karena legenda rakyat memang disampaikan dari mulut ke mulut. Bahkan kalau kita cermati, beberapa legenda rakyat ada beberapa bagian memiliki sedikit kemiripan. Seperti Keong Mas dengan Danau Toba; Pahit Lidah dengan Jaka Tarub, Sangkuriang dengan Oidipus  Namun dari semua perbedaan yang ada selalu ada hikmah yang dapat kita petik dari kisah tersebut. Selamat membaca.

Alkisah ada seorang pemuda pengembara. Setelah ia mengembara kemana-mana, tibalah di suatu tempat yang menarik hatinya. Tempatnya indah, di pinggir sungai yang masih jernih serta tanahnya yang subur. Merasa tertarik dengan keindahan tempat itu, ia berniat menetap. Maka lelaki itu membangun rumah di sekitar sungai tersebut. Setelah rumahnya jadi, ia berkeliling melihat-lihat daerah tersebut mencari tanah yang subur untuk di bercocok tanam. Setelah menemukan tanah yang subur, ia mulai bercocok tanam. 

Dengan keahliannya bercocok tanam, ia mendapatkan hasil yang banyak dari ladangnya. Setiap pulang dari ladang, ia selalu membawa kayu bakar yang ia simpan di kolong rumahnya.  Kayu bakar itu dipakai untuk memasak setiap harinya. 

Selain bercocok tanam, ia pun sangat senang memancing. Selain karena memang rumahnya dekat dengan sungai, ikannya pun gampang dipancing. Setiap ia memancing selalu mendapatkan hasil yang banyak. 

Suatu hari, ia pergi memancing. Tidak seperti biasanya, pada hari itu tak ada satupun ikan yang mau memakan umpannya.
"Kemana ikan-ikan ini pergi? Tak biasanya aku lihat. Biasanya mudah sekali kudapatkan,"gerutunya
Dengan masih berharap, ia pun memasang umpannya dan kembali memancing. Namun tetap tak ada satupun yang didapatkannya padahal umpannya sudah hampir habis. Mulai lah dirinya merasa kesal.

"Kenapa pula ini, masa tak ada seekorpun ikan ku tangkap. Umpanku hampir habis ini. Ini yang terakhir, kalau aku tak dapat pula, aku pulang," katanya dengan kesal.
Dilemparkanlah kailnya ke sungai dengan umpan yang terakhir. Ditunggu dan tunggu tak ada satupun ikanpun yang dapat.
"uh...sial benar aku hari ini. Aku pulang saja,"kata si pemuda.

 Ia pun menarik kailnya. Namun ketika kail itu ditarik terasa berat dan kailnya bergerak kesana kemari di bawa oleh ikan yang sangat besar. Si pemuda hatinya senang diapun menahan pancingannya.

Karena besarnya ikan yang nyangkut di kail, ia tidak langsung menariknya, namun dibiarkannya di bawa kesana kemari oleh ikan. Setelah beberapa jam, ikan mulai kelelahan. Dengan sigap, pancing ditarik oleh si pemuda. Maka terlihatlah ikan yang sangat besar. Segera dia tarik ke darat.
"Alamak, beruntung kali aku, akhirnya aku dapat, besar pula," si pemuda riang gembira.

Dibawalah ikan itu pulang ke rumah. Ikan disimpannya di dapur. Karena kayu bakar telah habis, si pemuda keluar rumah mengambil kayu bakar yang ada di kolong rumah. Setelah dia dapat cukup banyak kayu bakar, maka ia kembali ke dapur. Namun dia heran, ikan yang disimpan sudah tidak ada.
"Kemana ikan nih? Tak mungkin di makan kucing ikan sebesar itu." pikirnya
belum habis keheranannya, ia melihat beberapa keping emas tergeletak di tempat penyimpanan ikan.

"Uang siapa ini? apa ada yang mengambil ikanku dan ini bayarannya?" katanya penuh dengan keheranan.

Tak habis pikir dengan kejadian hari itu, si pemuda pun pergi ke kamar. Ketika membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya dia. Di dalam kamar ada seorang gadis cantik yang sedang duduk menghadap cermin sambil menyisir rambut.
"Hai, siapa kamu?" tanya si pemuda,"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Bukannya menjawab pertanyaannya, gadis cantik itu tersenyum dan berkata.
"Tuan, hari sudah mulai gelap. Dapatkah Tuan menyalakan lampu kamar ini?"

Meskipun dalam keadaan masih kebingungan, si pemuda menuruti permintaan si gadis. Ia pun menyalakan lampu rumahnya. Ia semakin terpesona melihat kecantikan si gadis saat terkena cahaya lampu. Setelah lampu dinyalakan, si gadis pun pergi ke dapur untuk memasak nasi. Seperti kerbau dicocok hidung, si pemuda mengikutinya sambil keheranan. Setelah beberapa lama, si pemuda dapat menguasai keadaan.

"Siapakah gerangan engkau, hai gadis yang cantik?" tanya si pemuda dengan nada yang sopan..
"Maafkan Tuan,"jawab si gadis," jika kehadiran saya mengagetkan Tuan. Saya sebenarnya adalah jelmaan dari ikan yang tuan tangkap di sungai. Adapun emas yang di wadah itu adalah jelmaan dari sisik saya." cerita si gadis
"Ooh, jadi kau jelmaan seekor ikan?" tanya si pemuda keheranan.
"Benar Tuan," jawab si gadis meyakinkan,"Tuan, bolehkan saya tinggal bersama Tuan di rumah ini?" tanya si gadis.
Mendengar permintaan sang gadis, si pemuda merasa senang. Sebab dari awal ia sudah terpesona dengan kecantikan gadis itu.
"Ya ya... Tinggallah di gubuk ini dengan senang hati. Anggaplah rumahmu sendiri," jawab si pemuda kegirangan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, kebersamaannya dengan sang gadis membuat si pemuda semakin mencintainya. Selain karena elok rupanya, ternyata gadis itu pandai memasak dan rajin. Karena rasa cintanya semakin besar, dengan memberanikan diri ia berkata kepada sang gadis.

"Wahai adeku yang elok, tak terasa kita telah bersama cukup lama. Perasaan abang terhadap Ade semakin lama semakin kuat. Abang merasa tak akan sanggup bila suatu saat berpisah. Maukah Ade menikah dengan Abang?" tanya si pemuda penuh harap.

"Duhai Abang, Ade senang bila Abang memang mencintai Ade, karena selama ini pun perasaan Ade tidak jauh berbeda dengan Abang. Namun, Ade mau menikah dengan Abang bila Abang dapat memenuhi permintaan Ade," jawab sang gadis.

"Apa permintaan Ade? coba katakan. Abang akan melaksanakannya dengan sepenuh hati." jawab si pemuda penuh tanda tanya.
"Setelah Abang menikahi Ade, Abang harus bersumpah tidak akan sekali-kali mengungkit asal usul Ade,"jawab si gadis.
"Oh, itu persyaratan yang mudah. Baiklah, Abang berjanji tidak akan mengungkit asal usul Ade," Jawab si pemuda dengan senang hati. Sebelumnya ia mengira akan ada syarat yang berat.Maka dilangsungkanlah pernikahan keduanya.

Singkat cerita, keduanya mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir. Karena selalu dimanjakan oleh ibunya, Samosir menjadi malas dan suka melawan. Seringkali ibunya meminta Samosir mengantarkan makanan untuk ayahnya di ladang. Namun tak sekalipun Samosir mau menurutinya. Akhirnya Ibunya sendiri yang mengantarkannya.

Suatu hari, karena kecapaian ibu Samosir sakit, ia tak bisa mengantarkan makanan ke ladang. Maka dipanggillah Samosir.
"Anakku, Ibu hari ini sakit, tak bisa mengantar makanan ke ayahmu. Tolong antarkan ya! Kasihan Ayah akan kelaparan kalau sampai tidak diantar makanan," pinta ibunya sambil menahan rasa sakit.
Meskipun Samosir seorang pemalas, namun melihat ibunya sedang sakit, timbul pula ibanya.
"Baik Ibu, aku akan antarkan makanannya ke ayah,"jawab Samosir
"Bagus anakku, ini bawalah kepada ayahmu!" kata ibunya sambil memberikan rantang berisi makan siang ayahnya.

Berangkatlah Samosir ke ladang. Namun karena perjalanannya cukup jauh bagi seorang anak, ia merasa lapar. Di tengah jalan, maka dibukalah bekal makan ayahnya.
"Jauh juga ladang ayah, lapar pula perut ini," gerutu Samosir,"lebih baik aku makan dulu sebagian,"
ujarnya sambil memakan makanan. Setelah cukup kenyang, ia pun melanjutkan perjalanannya,

Dikisahkan ayahnya sedang bercocok tanam di ladang, ia sudah sangat kelaparan.
"Kemana istriku? Aku sudah lapar ini," katanya
Setelah beberapa lama, muncullah Samosir menenteng rantang. Dengan senang hati bercampur marah, ayahnya memanggil Samosir.
"Ayo samosir, segera. Ayah sudah lapar ini,"perintahnya,"Kenapa kau lama sekali?"
Kemudian ayahnya membuka rantang berisi makan siangnya. Terkejut ia saat melihat rantangnya hanya tersisa sedikit. Marahlah  kepada Samosir.
"Hai Samosir, kenapa makanan ini tinggal sedikit?" tanya ayahnya
Melihat ayahnya marah, Samosir ketakutan."

"Maaf Ayah, tadi dijalan aku kelaparan, jadi sebagiannya aku makan," jawab anaknya ketakutan melihat kemarahan ayahnya.
Apa?kau makan sebagiannya? sudah pemalas,kau  tidak bisa dipercaya," kata ayahnya sambil memukul Samosir,"Dasar anak keturunan ikan, tak tahu diuntung,"
Samosir kaget mendengar kata-kata ayahnya,"Apa Ayah, kau bilang aku keturunan ikan?" tanyanya
"Ya, ibumu yang memanjakanmu sebenarnya adalah ikan!" jawab ayahnya dengan kemarahan yang sangat tinggi, lupa dengan sumpahnya dahulu.

Mendengar kata-kata ayahnya, Samosir menangis dengan keras sambil berlari pulang. Setibanya di rumah, ia langsung menuju ibunya yang sedang tergolek sakit di kamar.
"Ibuuu....hu..hu..hu," tangisnya Samosir sambil memeluk ibunya.
"Kenapa Nak? kenapa kau menangis begini,"ibunya kaget penuh kekhawatiran.
"Ibu, aku di pukul ayah. Dan ayah bilang kalau ibu jelmaan ikan,"kata Samosir terisak-isak.

Mendengar cerita Samosir, sang ibu terkejut, tak menyangka suaminya akan melanggar sumpahnya. Ia merasa sedih. Maka dipeluklah Samosir dan dinasehatinya .
"Samosir, ingatlah pesan Ibu. Pergilah segera ke atas bukit itu. Lihatlah di puncaknya ada pohon kayu yang tinggi segeralah naik ke pohon itu, dan diamlah disana,"kata ibunya dengan penuh kesedihan.
"Segeralah nak, pergilah ke bukit itu," perintah ibunya
Mendengar perintah ibunya, Samosir segera berlari, mendaki bukit yang ditunjukan oleh ibunya. Sedangkan sang Ibu memperhatikannya dengan penuh iba.

Setelah Samosir sampai di puncak bukit, ibunya berangkat ke sungai. Setibanya di sana, ia menceburkan diri ke sungai dan berubah menjadi ikan yang besar. Bersamaan dengan itu, turunlah hujan yang sangat deras. Semakin lama, sungai semakin meluap dan meluas menenggelamkan desa sekitar bukit yang dinaiki Samosir. Genangan air itu semakin luas membentuk sebuah danau yang dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau yang di daki oleh Samosir disebut Pulau Samosir.

T a m a t





Sabtu, 27 Juli 2019

American Folklore : The Fighting Cocks and The Eagle

Whsiperingbooks.com
That’s it!” Black Rooster crowed to himself when he spotted Red Cock flirting with the hens again.  “I’ve had it with that impudent Rooster.  I am the Master of the Farm Yard, not him!”

Black Rooster threw back his head and crowed loudly: “Cock-a-doodle-doo!  I will fight you.”

Red Rooster turned around slowly, fluffing out every feather on his body as he moved.  “Oh yeah?  Just try it,” he replied.

The hens squawked and gabbled as the two Roosters flew toward each other.  They huddled together as the Roosters pecked and kicked and pounded one another with outstretched wings.  Feathers flew everywhere.



Red Rooster aimed a mighty blow to Black Rooster’s head, but Black Rooster ducked and bit Red Rooster's leg.  Red Rooster screamed in rage and pummeled Black Rooster with his wings, but Black Rooster was older and wilier than Red Rooster and hustled out of reach.  Then Black Rooster bit Red Rooster from behind, right in the shoulder.  Red Rooster screamed in agony and flapped away to a private corner to bleed in misery. 
“I won!” Black Rooster crowed in delight.  “I won!”  He threw out his chest and flapped mightily.  Then he flew up to the top of a high wall and stretched his wings to their full length, calling exultantly at the top of his voice.  “I am the WINNER!”

High above the farm yard, Eagle floated lazily on an updraft.  His keen eye was searching for his next meal, when he spotted Black Rooster dancing atop the high wall.  His keen ear heard Black Rooster crowing in triumph.  “Ah ha! Dinner at last,” said Eagle, folding his wings and diving toward the ground.
“I won!  I won!  I, the mighty Black Rooster, have won!”  Black Rooster strutted and danced on the high wall above the farm yard.  Beneath him, the hens cackled wildly and flattened themselves on the ground as a shadow blotted out the sky.

“I wo….”  Black Rooster’s triumphant crow was cut off as Eagle snatched him off the wall and carried him away in his mighty talons.

Red Rooster peered anxiously from his corner and saw Black Rooster floating away in the Eagle’s grasp.  A few black feathers cascaded down onto the head of a broody hen sitting on a nest in the shade of the wall.

Red Rooster shook his feathers into place, gave his wounded shoulder a quick preen, and strutted out into the farmyard.  “You may have won, but Iam Master of the Farm Yard,” he called after the retreating black speck floating skyward in Eagle's talons.  And all the hens, strutting back into the yard to feed, happily agreed,

Sumber : http://americanfolklore.net/folklore/2012/07/the_fighting_cocks_and_the_eag.html

Cerita Rakyat Dari Bali : Asal Mula Selat Bali

Selat Bali
Ada seorang Begawan bernama Sidi Mantra. Ia adalah seorang Begawan yang dihormati di daerahnya. Ia memiliki akhlak dan budi yang luhur serta mempunyai pengetahuan agama yang luas. 

Begawan Sidi Marta memiliki seorang anak laki-laki bernama Manik Angkeran. Ibunya telah meninggal dunia. Berbeda dengan ayahnya, Manik Angkeran memiliki akhlak yang kurang baik. Dia sering berjudi dan menyabung ayam. Sering kali di nasehati oleh Begawan namun sama sekali tidak di dengarnya. Dalam permainan judinya, Manik Angkeran sering kalah. Akhirnya harta kekayaan orang tuanya ludes dipakai untuk membayar utang. Namun karena tidak pernah berhenti berjudi, utangnya terus menumpuk sedangkan hartanya sudah habis. Karena banyak yang menagih, dia menghadap Begawan.


"Ayah! Tolonglah aku. Orang-orang mengejarku menagih utang," katanya dengan nada sedih.
"Aku sudah katakan agar engkau tidak bermain judi, itu tidak baik," jawab Begawan
"Ya Ayah saya menyesal, tapi bagaimana dengan utang mereka? Mereka akan terus mengejar saya." ujarnya dengan nada yang memelas.
Karena Manik adalah anak satu-satunya dan sangat ia sayangi, Begawan Sidi Mantra merasa kasihan.
"Baiklah anakku, aku akan membantumu," Jawabnya
"Terima kasih Ayah," ujar  Manik Angkeran dengan rasa senang.

Dengan kekuatannya, Begawan mendapat petunjuk agar pergi ke sebuah gunung yang bernama Gunung Agung yang terletak di sebelah timur. Berangkatlah Begawan Sidi Mantra ke arah timur menuju Gunung Agung sambil membawa genta pusaka. Setelah tiba di puncak Gunung Agung, Begawan membunyikan gentanya dan membaca sebuah mantra.

Tak lama kemudian muncullah seekor naga yang bernama Naga Besukih.
"Hai Begawan, apa maksudmu memanggilku?" tanya Naga Besukih
"Sang Besukih, aku memanggilmu untuk memohon pertolongan kepadamu. Harta kekayaanku habis terkuras oleh anakku untuk berjudi. Sekarang utangnya bertumpuk. Aku mohon engkau membantuku agar aku bisa membayar utang anakku," Begawan Sidi Mantra menjelaskan.
"Hmmm....Aku akan membantumu. Tapi Kau harus menasehati anakmu agar tidak berjudi lagi. Kau pun tahu, berjudi dilarang dalam agama," jawab sang Naga. setelah berkata demikian, Naga Besukih menggoyangkan badannya yang penuh dengan emas dan permata, sehingga berjatuhan ke tanah.
"Ambillah harta itu, dan bayarkanlah utang anakmu, nasehatilah agar tidak berjudi lagi," kata Naga Besukih
Begawan Sidi Mantra berjanji akan menasehati puteranya kemudian ia  memunguti emas dan permata yang diberikan Naga Besukih. Lalu pulanglah ia ke Jawa Timur. Setelah sampai, ia lunasi semua utang-utang anaknya seraya menasehati agar tidak berjudi lagi. 
Namun apa mau dikata, kebiasaan berjudi Manik Angkeran sudah mendarah daging. Meskipun telah dinasehati ayahnya, ia tetap berjudi lagi. Lama kelamaan utangnya menumpuk kembali. Akhirnya Manik kembali mendatangi ayahnya untuk minta bantuan.
"Ayah, mohon maaf, saya bantulah aku sekali lagi. Utangku banyak menumpuk, orang orang mengejarku. Kalau aku tidak bisa membayar, bisa-bisa mereka membunuhku,"kata Manik Angkeran merengek kepada Begawan dengan nada sedih.
"Aku sudah katakan, jangan berjudi, kenapa kau masih juga berjudi. Ingat, Judi itu dilarang dalam agama. Juga bisa membuat mu sengsara seperti sekarang ini," jawab Begawan dengan nada kesal.
"Maafkan aku Ayah, aku berjanji tidak akan berjudi lagi," kata Manik Angkeran penuh rasa sesal

Begawanpun berangkat lagi ke Gunung Agung sambil membawa gentanya. Setelah menabuh genta dan membaca mantra, muncullah Naga Besukih.
"Hai Begawan, apa maksudmu memanggilku?"tanya Naga Besukih
"Maaf beribu maaf Besukih, aku mohon sekali lagi engkau menolongku. Anakku berutang lagi. Telah aku nasehati sebelumnya agar tidak berjudi, namun ia tak menggubrisnya," jawab Begawan Sidi Mantra.
"Oooh, anakmu menentangmu? dia tidak punya rasa hormat padamu. Aku akan membantu, tapi ini yang terakhir. Aku tak akan membantumu lagi." jawab Naga Besukih

Setelah menggerakkan badannya, maka berjatuhanlah emas dan intan yang menempel di badannya. Begawan segera mengumpulkannya dan membawanya pulang. setelah bertemu dengan anaknya, ia menyerahkan emas dan intan tersebut dan seperti sebelumnya anaknya dinasehatinya.
"Anakku, ini bayarkanlah untuk utang-utangmu. Tapi ingatlah, ini adalah bantuan terakhirku. Berhentilah berjudi. Engkau telah merasakan buruknya akibat dari judi ini,"kata Begawan
melihat harta yang begitu banyak, Manik Angkerang merasa takjub.
"Ayah, dari mana harta sebanyak ini?" katanya ingin tahu.
"Tak usah kau tanyakan darimana asalnya harta ini. Yang terpenting bagimu adalah berhentilah berjudi karena itu akan menyengsarakanmu. Jika kau masih melakukannya dan berutang kembali, aku tidak akan bisa membantumu lagi," jawab Begawan.

Setelah menerima harta dari ayahnya, Manik Angkeran membayar semua utang-utangnya. Seperti dalam sebuah pepatah, "Bagai air di daun keladi", nasehat ayahnya agar tidak berjudi lagi sama sekali tidak dihiraukan. Manik Angkeran kembali berjudi, sehingga utangnya kembali menumpuk. Namun kali ini ia tak berani meminta bantuan ayahnya. Ia memikirkan jalan lain agar dapat membayar utangnya. Ia berniat mencari tahu darimana ayahnya mendapatkan harta begitu banyak. Setelah bertanya kesana kemari, tahulah ia bahwa ayahnya medapatkan harta dari Gunung Agung dengan membawa genta kebesarannya. Tanpa diketahui ayahnya, dia mengambil genta dan segera pergi ke Gunung Agung. Setibanya di puncak, ia memukul genta dengan keras.

Mendengar bunyi genta, Naga Besukih merasa terpanggil. Namun ia heran suara gentanya tidak diiringi dengan sebuah mantra. Segera Naga Besukih muncul. Dilihatnya Manik Angkeran sedang memegang genta milik Begawan Sidi Mantra.
"Hai Manik Angkeran, ada apa kamu memanggilku dengan genta ayahmu?" tanya Naga Besukih dengan sangat marah.
"Wahai Sang Naga, Aku mohon bantuan padamu. Orang-orang mengejarku menagih utang. Jika aku tak bisa membayarnya aku akan dibunuhnya, tolonglah aku,"jawab Manik Angkeran dengan nada yang sedih dan memelas.

Melihat Manik Angkeran bersedih, Naga Besukih merasa kasihan.
"Baiklah aku akan membantumu," jawab Naga Besukih. Kemudian dinasehatinya Manik Angkeran dengan panjang lebar. Setelah selesai menasehati, Naga Besukih masuk ke dalam tanah  untuk mengambil harta yang akan diberikan kepada Manik Angkeran. Saat kepala Naga Besukih sudah di dalam dan ekornya masih dipermukaan, terlihat oleh Manik Angkeran tubuh Naga yang penuh dengan emas dan intan yang besar-besar, timbullah kelicikan dan keserakahan Manik. Dihunuslah kerisnya kemudian ekor Naga dipotong kemudian ia berlari dengan cepat.

Naga Besukih merasa kesakitan, ia membalikan tubuhnya dan segera keluar dari dalam tanah. Namun ia tidak menemukan Manik Angkeran yang telah pergi. Naga Besukih marah, segera mengejar Manik Angkeran, namun tidak dijumpainya hanya bekas tapak kakinya saja yang terlihat. Dengan kesaktiannya, Naga Angkeran membakar bekas tapak tapak kakinya. Manik Angkeran yang telah jauh meninggalkan tempat Naga badanya merasa panas, kemudian terbakar menjadi abu.

Dikisahkan Begawan Sidi Mantra yang kehilangan genta kebesarannya. Ia mencari kemana-mana, namun tidak juga ditemukannya. Ia pun tidak melihat Manik Angkeran. Sang Begawanpun memastikan bahwa anaknya mengambil gentanya dan pergi ke Gunung Agung. Segeralah ia berangkah ke Gunung Agung. Setibanya di puncak gunung ia bertemu dengan Naga Besukih. Begawan merasa heran melihat Naga Besukih tidak berada di istananya.
"Hai Besukih, Apakah engkau bertemu dengan anakku? kenapa pula kau ada di luar istanamu?" tanya Begawan.
"Ya, dia telah datang kemari dan membunyikan genta milikmu. Dia meminta bantuanku membayar utang-utangnya. Saat aku berbalik, dia memotong ekorku. Aku telah membakarnya sampai musnah, karena anakmu tak tahu membalas budi. Sekarang apa maskudmu datang kemari, Begawan?" Naga Besukih menjelaska.
"Maafkan aku dan anakku Besukih. Anakku hanya  satu, aku mohon hidupkanlah kembali anakku," pinta Begawan.
"Baiklah, demi persahabatan kita, tapi aku minta kau kembalikan ekorku seperti semula,"jawab Naga Besukih.

Merekapun sepakat untuk memenuhi permintaan masing-masing. Dengan kekuatan Naga Besukih, Manik Angkeranpun hidup kembali. Demikian pula ekor Naga Besukih kembali sediakala atas kekuatan Begawan.

Setelah memberi nasehat panjang lebar kepada anaknya, Begawan Sidi Mantra kembali ke Jawa Timur. Sedangkan Manik Angkeran tidak diperbolehkan ikut dengannya. Ia diperintahkan untuk tinggal di Gunung Agung untuk menebus kesalahannya. Karena telah sadar, Manik Angkeran tunduk dan patuh pada perintah ayahnya.

dalam perjalan pulang, di sebuah tanah genting, ia menancapkan tongkatnya. Dari bekas tongkatnya itu, menyemburlah air dari dalam tanah yang makin lama makin banyak dan meluas sampai bersambung dengan air laut yang kemudian menjadi sebuah selat yang memisahkan Pulau Jawa Timur dengan Pulau Bali. Selat tersebut sampai sekarang disebut dengan SELAT BALI








Jumat, 26 Juli 2019

Syair Bidasari bagian 7 : Dayang menjual Kipas Emas ke Siti Bidasari

Dayang berkata sama sendiri
orang ini kaya tidak terperi
terlebih kaya dari pada menteri
riuh permainan tepuk dan tari

Dayang keempat seraya berkata
ayuhai encik di dalam kota
maukah tuan membeli harta
jualan puteri indah semata


Demi didengar seorang muda
di luar pagar suaranya ada
ia berseru suaranya mengada
kakak wai apa dijual itu ada

Dayang menyahut seraya berdiri
pakaian indah tidak berperi
dayang berkata sama sendiri
disinilah sukar kita mencahari

Pakaian baik kita keluari
jikalau ada dimaksudkan puteri
keempatnya dayang menghampiri
lakunya pingit manis berseri

Dayang berkata suka tertawa
inilah pakaian yang beta bawa
perbuatannya elok tidak berdua
tempahan orang di benua Jawa

Setelah dilihat Dang Pestari
dayang itu sahaya Bidasari
dayang berkata sambil berdiri
kalau Encik Siti hendak membeli

Kakak wai boleh sahaya bawa
pakaian orang di benua Jawa
dilihat Encik Siti utama jiwa
dibelinya gerangan suatu ada

Keempat dayang tertawa berkata
bukannya beta empunya harta
jikalau hilang suatu permata
beta beroleh nista kata

Karena jualan Tuan Puteri
bawalah beta pergi sendiri
barang yang hendak menawari
barang yang patut beta memberi

Mendengar kata dayang usali
Dang Pestari lalu kembali
berkata dengan suka dan radhi
nantilah dahulu saya kembali

memberi tau pada tuan beta
jikalau berkenan di dalam cita
datanglah dayang sukacita
didapatinya Siti duduk di geta

Diadap inang pengasuh semata
dayang pun duduk seraya berkata
maukah Tuan membeli harta
pakaian emas ditatah permata

dibawanya dayang datang kemari
disuruh jual oleh peuteri
jikalau berkenan Encik Bidasari
Dayang datang membawa sendiri

Siti tersenyum sukacita
mendengarkan dayang membawa harta
katanya pergilah ambilkan beta
pakaian hendak dipandang  mata

Disahut dayang Ratna Baiduri
sudahlah sahaya berkata sendiri
dayang tidak berani memberi
ia takut terlalulah ngeri

Kepada sahaya dayang berkata
pakaian puteri raja mahkota
siapa yang hendak membeli harta
bawalah dayang pergi serta

Lalu berkata Bidasari
ayuhai dayang pergilah diri
panggilkan dayang serta kemari
beta hendak melihat sendiri

Dang PEstari pergi berlari
didapatnya dayang ada berdiri
katanya Kakak bersegeralah mari
dipanggilah Encik Siti Bidasari

Didengar dayang empat sekawan
berjalanlah ia perlahan lahan
lemah lembut barang kelakuan
seperti orang malu-maluan

Segera ditegur oleh inanganda
marilah duduk ayuhai anakanda
kita pun sama diperhamba Baginda
di sini duduk hampir Encik Bida

Keempatnya duduk serta memandang
melihat Encik Bida heran tercengang
berdebar lenyap arwah melayang
karena menentang paras gemilang

Dayang berkata sama sendiri
eloknya paras Bidasari
Terlebih daripada rupa puteri
melainkan paras anakkan peri

Parasnya seperti Bidasari
tika sebanding seisi negeri
jikalau Baginda memandang sendiri
sahaya diambil jadi isteri

Inanganda berkata suka tertawa
ayuhai anakanda utama jiwa
keluarkan dagangan yang dibawa
tampahan tukang di benua  Jawa

Dayang terkejut kemalu-maluan
tersenyum berkata pilu dan rawan
inilah pakaian sahaya bawa Tuan
jualan puteri raja bangsawan

Dayang berkata sambil tertawa
ayuhai Encik Siti utama jiwa
menentang paras Tuanku  nyawa
demikianlah kalah di benua Jawa

Setelah dilihat oleh Bidasari
pakaian indah tidak terperi
kipas ditatah manikam kasturi
berumbaikan intan ya'kut kesturi

Disorongkan puan makanlah pinang
diambilnya kipas lalu dipegang
ia berkata Mak Inang
indahnya kipas bukan kepalang

Bersambung


Selasa, 23 Juli 2019

Raden Purnama Alam nikah sareng Dewi Kania : Purnama Alam bag. 7

Urang bujengkeun perkawis ieu hal Pangeran Putra anu keur nandang prihatos. Entong panjang ditataan enggen enggening brangta, bilih bosen nu ngadangu. kocapkeun wae enggalna putra putri geus ngahiji, rendengan sami sukana, maklum anom pada anom. Tandingan sami geugeutna, siang wengi teu pisah runtut rukun matak lucu, wuwuh resep nu ningal. 

Kacatur geus rada lami, Sang Dewi jeung Rajaputra, kira geus sapuluh poe tina waktuna nikahna. Harita nuju lenggah di payun damel ngawuruk ka rayi Dewi Kania. Elmuning haliah lahir, aksara etang-etangan jeung sagala basa bae, sipat elmuning sakola, ku sang Raja Pinutra hanteu kaliwat kaliru, panemu saaya aya. Katurug turug Sang Dewi kacida pisan maksadna kana naros soson soson, ngalap pangartos Sang Putra. Bangsa kasasmitaan, junun sarta gampang nyurup. wantu ninggang ka nu padang. 

Panjang lamunna ditulis, pertata panganten anyar, harita Pangeran anom terus nyaur ka hiji rencang, pangkatna juru seka nu kamashur ngaran Jamus, rencang candak ti nagara. Sang Raja Putra ngalahir
"Eh Jamus, maneh ayeuna wayahna sorangan bae kudu leumpang ka nagara. Nyanggakeun ieu surat ka keresa Kangjeng Ratu, sambian maneh balanja barang beuli di nagari. Sakur nu taya di urang, bangsa barang-barang toko."

Ki Jamus nampi dawuhan sarta ngawangsulan nyumanggakeun ka pangdawuh. Gancangna nu dicarita, isukna Ki Jamus indit ti pasantren Gurangsarak ngemban dawuhan sang Anom. Sikep dangdanan utusan ka nagara Riskomar. Sorangan teu mawa batur. ludeung wantu jalma dugal.

Tunda anu keur di jalan. Kacatur Sang Sri Narpati di karaton nuju lenggah dideuheusan ku  papatih, jeung sadaya para mantri sami sami gunem saur. Ari anu diwarta ku Jeng Gusti Sri Narpati amung putra Pangeran Purnama Alam. 
"Geus tujuh bulan lilana ayana di Paramanik, pikiran kakang ayeuna Ki Purnama Alam leuwih leuwih keur aya di nagari. Ku matak salempang bingung sieun kumaha onam Ki Purnama ngadung ati boga rasa dibuang dikaniaya. Aringgis kabaluasan bawaning nyeri. Brek gering, atawa tina teu betak ngaleos ka sejen nagri, kana tempat balai. Uprak apruk hanteu puguh da balik ka dieu mah sieuneun ku kakang pasti, tah sakitu kakang teh nya salempang. Jeung kadua perkarana, kamari geus tampa deui surat ti Ratu Ambarak ka kakang ngagasik-gasik, bulan ayeuna misti. Tina sabab beunang ngitung, nyalametkeun barudak, Ki Purnama Alam ka Kaswati tina sabab geus liwat ti perjangjian. Kakang tacan ngawalonan, ku sabab susah teh teuing baris ngawalonanana. Ari arek tempo deui era geus mindeng teuing. Ari rek hanteu tulus, siga naon rupana, lain pakeun di Narpati aya tata nyocoo hanteu perenah. Tina sabab beunang kakang, ngareremo ti leuleutik, sarta geus aya panyangcang pertana kana  ngajadi. Sabab doa teh teuing, rujuk sepuh pada sepuh. Ayeuna geus ngangkeran tina enggeus liwat jangji, tah kumaha Ki patih petana?"

Raden Arya ngawangsulan, "Kaulanun dawuh Gusti, manawina karempangan dinten enjing Gusti sumeja ka Pramanik manawi kenging diwujuk Sang Pinutra Purnama, sareng bade merih pati ka pandita manawi mental wulangna."
Saur Ratu, "Sukur pisan. Sugan-suganan ku Resi beunangna Purnama Alam dipituah diweweling. Sugan ngingetkeun wajib, doraka teu nurut ka guru. Kitu anu dipalar. Hade, isuk Patih indit ka pasantren Paramanik Gurangsarak."

Gancangna nu dicarita, barang Ratu keur wawarti, Ki Jamus rongheap dongkap ngadeuheus ka Gusti. Barang geus katingali ki Jamus ku Kangjeng Ratu, langkung bingah manahna. Ngadeg sartana ngalahir
"Eh, si Jamus jeung saha maneh teh datang?"
Jamus nyembah ngawangsulan, "mung pribados abdi Gusti, kalayan margina dongkap, wireh abdi gusti nampi dawuhan putra Gusti, Pinutra Sunu, ngabantun ieu serta, bade ka dampal paling Gusti. Duka Gusti hanteu aya badaratna."

Surat diaos ku Raja, ugelna nu kagalih nyaeta Sang Rajaputra piunjuk kagungan rayi ka putra Maha Resi. Kadua nu dipiunjuk marga kawilujengan linggihna di Paramanik jeung nyuhunkeun hibar dua kangjeng Raja. 
Saparantos ngaos serat, Kangjeng Gusti Sri Narpati sakalangkung harenegna, sajongjongan teu ngalahir dugi ka medal citangis. Nyaur salebeting kalbu.
"Purnama tampolana tumuluy murkana ati. Adat bedang bet mawa karep sorangan. Ari ka putri narpatya, awewe pinter tur geulis, jembar sarta kawasa, wani-wani nampik nepi ka menta pati. Ari ka anak wiku, cacah taya kaboga, make purun kana kawin. Abong tacan meunang pangawarah nu nista."

Hanteu lami Sang Sri Nata ngadawuh ka Arya Patih, "Purnama kieu buktika. Bebeja geus boga rabi ka anakna kiai turunan dusun meledug, ngaranna si Kania. Naha bangkawarah teuing si Purnama teu nurut kadoa bapa. Coba ku Patih pikiran. Tinangtu jadi balai, wirang ku Ratu Ambarak ku tina balukar jalir, subaya teu ngajadi. Terkadang manahna giruk, boga rasa dihina. Malah boa-boa teung aya tungtung tunggara hujan sanjata."

Arya Patih ngawangsulan, "Yaktos pisan dawuh Gusti, tangtos aya balukarna. Ahirna nyesahkeun galih, menggah ka dampal Gusti. Mung abdi gusti panuhun perkawis Sang Pinutra, kedah enggal saur deui, ulah aya di Pasantren Gurangsarak. Supados dina dongkapna pamugi ku kersa Gusti, putra kedah pisan paksa sina enggal pasah deui."
Maha Ratu ngalahir,"Nya atuh kitu ge rempug. Purnama urang ala, poe isuk ku Ki Patih jeung bojona si Kania kudu bawa. Jeung sia Jamus ayeuna ulah arek balik deui ka pasantren Gurangsarak. Sabab aing hanteu sudi boga minantu miskin. Sia anu boga laku ngadukeun Ki Purnama, ngawuwujuk sina kawin ka awewe anu lain perenahna."

Jamus hanteu ngawangsulan, ngadegdeg ngeluk ku isin sarta bawaning reuwas. Jamus nenjo Kangjeng Gusti teu karasa wer kiih, ari indit jemblog bujur. Ngalahir deui Raja ka Raden Arya patih sarta wera bawaning pusing ku putra.
"Kitu bae ayeuna mah, si Purnama ku Ki Patih reujung eta si Kania di bawana ti Pramanik. Kudu rante ku Patih, sabab tutur hanteu nurut niwaskeun ngawiwirang. Lir lain anak Bopati, nyieun tata curang ati kasetanan."
Patih nyembah ngawangsulan,"rebu rebuning pamugi, perkawis eta dawuhan, sakalintang abdi Gusti menggah ka putra Gusti. teu sanggem dugi ka kitu. Midamel parantean, bilih kasurak kawarti, kirang titi hukuman sanes perenah. Najan Dampal Gusti hakna nu kagungan sipat adil sadaya daya hukuman, mung Gusti lintang tingali ku margi putra Gusti kasebat ipuan ratu. Jadi balukar sangar menggah nu jadi Bopati hanteu sae bekasan ti parantean."

Barang ngadangu Sri Nata kana piunjukna Patih, jumengok hanteu ngandika. Tina lebet kana galih, raos bener teh teuing sapiunjuk Patih kitu, jeng hantem dimanahan tina taya putra deui anu baris ngaraton nagri Riskomar. Teu lami lajeng ngandik
"Enya bener kitu Ptih. Ngan ayeuna tekad kakang hanteu ngaborongkeun Patih supayana lastari. Malar teu tuluy  tumuluy, bojoan ka Kania. Sabab kakang leuwih risi sarta era ku Ratu Nagri Ambarak."



Minggu, 21 Juli 2019

Kisah Siti Bidasari 6 : Puteri Lela Sari Mencari Wanita Paling Cantik untuk dibunuh

Jikalau Baginda beristeri pula
disanalah kasih mabuk dan gila
kepada orang muda lena
hancur hatiku tidak berkala

Tidaklah tidur tuan puteri
keluh kesah seorang diri
fajar menyingsing seorang diri
bangun baginda dua laki isteri



Sudah bersiram Baginda memakai
cantik menjelis tidak berbagai
bertajuk bunga manikam setangkai
sudah santap berangkat ke balai

Di hadap raja-raja hulubalang menteri
penuh sesak dagang santri
adapun puteri Laela Sari
tukang emas disuruhnya cahari

Puteri memanggil dayang keempat
segeralah datang bertimpuh rapat
khidmat menyembah tangan diangkat
Tuanku patik apakah hajat

Tersenyum bertitah Tuan Puteri
Ayuhai dayang pergilah diri
emas perbuat kipas bestari
bertatah intan cahaya berseri

Dayang wai demikian diri berkata
bawalah emas intan serta
perbuat seperti maksud beta
kipas emas bertatah permata

Rumaikan manikam intan mutiara
selengkapnya pakaian anak dara-dara
hubaya hubaya jangan berhuru hara
beta kehendakkan dengan bersegera

Dayang bestari yang sangat petah
emas disambut khidmat menyembah
pada tukang emas dijunjungkan titah
suruh kerjakan segera sudah

Tukang emas pulang ke rumahnya
titah puteri dikerjakannya
tiga hari keempatnya
sudahlah pakaian dengan selengkapnya

Tuan puteri tidaklah tetap
gundah gulana hati tak sedap
tukan emas masuk menghadap
kipas pakaian dipersembahkan lengkap

disambut puteri suka dan ria
dipanggilnya dayang empat sebaya
dayang wai pergi apalah diri
masuk ke kampung hulubalang menteri

Diri berniaga berjual beli
pakaian ini tunjukan diri
pakaian ini diri jualkan
harganya jangan diri putuskan

Siapa berkehendak diri dapatkan
pakaian jangan diri berikan
dayang wai pandang diri selidiki
jikalau ada orang yang molek cantik

Dari rupaku terlebih molek
hendaklah mika segera berbalik
jikalau dayang dapat demikian
barang kehendak kami melayan

Aku lebihkan dari dayang sekalian
dipersalin dengan segala pakaian
dayang keempat kami lebihkan
penghulu istana kami jadikan

jikalau sampai kami maksudkan
isi istana beta serahkan
dayang tu sahaja orang andalan
keempatnya menyembah mohon berjalan

Sekalian bertemu diambilkan taulan
bersahabat handai berkenal kenalan

Dayang tu menjelah pitah masyak
segenap kedai singgah duduk
sebilang kampung dayang tu mabuk
lakunya seperti orang yang mabuk

Hamba sahaya perdana menteri
mudan dan tua datang berlari
apa dijual dayang kemari
dagangan tidak dikeluari

Dayang keempat tertawa suka
tersenyum bermadah bermeka-meka
apa faedah hendak dibuka
bukannya patut sepadannya mika

Bermadah pula orang disitu
kakak wai apa dijual itu
khabarkan jua supaya tentu
hendak dilihat barang suatu

Sahaya tak layak membeli harta
mari dibawa pada tuan beta
dayang tertawa seraya berkata
bawalah sahaya pergi serta

Ditunjukkan dayang suatu gelang
heran tercenganng segala memandang
perbuatannya indah bukan kepalang
segeralah ia berlari pulang

Duduk menyembah seraya berkata
maukah tuan membeli harta
dayang ke luar dalam kota
berjual pakaian indah permata


Setelah didengar anak menteri
sukacita tidak terperi
serta berkata pergilah diri
dayang tu segera bawa kemari

Seketika dayang pergi keluar
dibawanya dayang empat sebanjar
dipandangnya orang duduk berbicara
serta membeli hendak ditawar

Berkata dayang molek kelakuan
tidaklah boleh ditawari tuan
pakaian Puteri Lela Bangsawan
harganya tidak berketahuan

jikalai dihargakan ke bawah duli
harganya putus beli sekali

Sungguhpun dayang berkata-kata
sekaliannya habis dipandangnya rata
seorang tak manis kepada mata
tidak berkenan di dalam cita

Dayang bermohon minta diri
masuk ke kampung hulubalang menteri
segenap kampung dayang mencahari
tidak dapat maksud puteri

Berjalan dayang segenap tempat
ratalah kampung tidak dapat
penat berjalan dayang keempat
seorangpun tidak sempurna sifat

dayang berkata sama-sama sendiri
coba ke kampung dagang  santeri
lelah berjalan kesana ke mari
baik disitu kita mencahari

Berjalanlah dayang sekaliannya rata
membawa pakaian lengkap semata
orang memandang sekaliannya berkata
pakaian bukan sepadan kita

Masuk kampung dagang santeri
seorang pun tidak menawari
setengah berkata herankan diri
apa kekurangan raja yang bahari

Maka berjual pakaian yang ghani
kami melihat pun tidak berani
bukannya layak membeli begini
emas ditatah intan yang seni

Dayang pun masuk kampung saudagar
berlapis-lapis sasak dan pagar
jalannya sulit terlalullah sukar
didalamnya bermain sorak bertagar

Bersambung ke Syair Bidasari 7 : Dayang menjual Kipas Emas ke Bidasari

Sabtu, 20 Juli 2019

Sangaji Ali bag 3: Kisah Dari Bima

Ketika Ulama itu melihat kepala Maharaja Ali yang diombang ambingkan ombak, ia pun berdiam diri sejenak. Kemudian menitiklah air mata ulama itu karena haru melihat kepala yang demikian. 
"Ya Allah! Hidupkanlah orang yang mempunyai kepala ini," Ulama berdoa
Lama-lama nampaklah kehidupan pada kepala Maharaja Ali. Matanya mulai terbuka. Karena itu Ulama meneruskan lagi doanya. Maka nampak pula tubuh yang semakin sempurna bentuknya melengkapi tanda-tanda kehidupan pada diri Maharaja Ali
"Terima kasih Tuanku Ulma atas doamu itu. Tak lupa terlebih dahulu kuucapkan syukur kepada Allah atas segala kekuasaannya menghidupkan kembali diriku yang hina ini,"Kata Maharaja Ali

Ulama bertanya mengapa sampai terjadi musibah yang menimpa diri Maharaja Ali. Maharaja Ali pun menceritakan segala hal sejak awal hingga akhir.
"Segala yang telah terjadi semata-mata atas kehendak Allah sesuai dengan sikap dan tingkah laku selama hidupmu. Maka kini hendaklah banyak bersabar dan jangan lupa pada Allah. Perbanyaklah amal terhadap sesama manusia untuk memperoleh safaat dari Allah, dalam kehidupan kita di dunia ini. Sekiranya kau bisa menerima nasihatku, aku akan berdoa lagi kepada Allah semoga kau dikembalikan sebagai raja lagi," kata Ulama.

"Terima kasih Tuanku! Segala nasihat yang engkau berikan akan saya terima dan kujadikan pelita hidupku. Saya akan menjadi raja yang selalu memperhatikan nasib rakyatku. Lebih baik menderita  daripada rakyatku yang menderita. Maka ilmu pengetahuan semata-mata untuk kepentingan orang banyak, negara dan bangsa, "pinta Maharaja Ali

"Bagus sekali permintaanmu. Itulah tandanya hamba Allah yang bertakwa. Baiklah!" Jawab Ulama
maka diberikanlah sejumlah ilmu pengetahuan kepada Maharaja Ali. Sampai-sampai pada ilmu pengobatan orang-orang sakit.
Maharaja Ali menerima segala ilmu pengetahuan yang diberikan ulama itu.
Kemudian ulama itu menyuruh Maharaja Ali ke luar dari laut. Disuruhnya agar pergi ke sebuah negeri di seberang lautan.

Segala suruhan Ulama itu diikui oleh Maharaja Ali. dan ketika tiba di negeri yang dimaksudkan Maharaja Ali pun disambut gembira oleh para penduduknya.

"Inilah keberkatan ulama tadi, "kata Maharaja Ali dalam hatinya.
Seminggu kemudian, orang-orang meramaikan perayaan penobatan Maharaja Ali sebagai raja di negeri itu. Segala raja seantero negeri diundang untuk menghadiri perayaan tersebut.
Selesai perayaan, dimulailah pemerintahan Maharaja Ali,. Dilaksanakan segala apa yang dinasihatkan oleh Ulama dulu. Selain itu, pertanian menjadi pusat perhatiannya agar masyarakat dapat hidup berkecukupan. Orang-orang miskin dan jompo menjadi tanggungan negara. Sehingga Maharaja Ali sangat dicintai oleh rakyatnya. Disamping itu, Maharaja Ali pun terkenal dalam hal kemampuannya mengobati orang-orang sakit.

Di dalam hal itu, tersebut kembali kisah isterinya yang disekap oleh raja dinegeri yang pernah dikunjunginya dulu. Setelah sekian lama isteri Maharaja Ali disekap, ia pun dibujuk oleh raja agar mau menjadi istri raja di negeri itu. Namun ia sama sekali tidak mau dan menolak tawaran itu. sampai-sampai raja hendak memaksanya.
Karena itu, siang malam isteri Maharaja Ali bersembahyang dan berdoa semoga Allah meluruskan jalan pikiran raja yang menyekapnya.

Tiba pada suatu hari, raja itupun jatuh sakit dan menjadi lumpuh. Kedua belah kakinya tak bisa digerakan sama sekali. Entah sudah berapa banyak dukun yang mengobatinya, tetapi tak ada yang berhasil menyembuhkannya. Hampir-hampir semua orang berputus asa, kalau saja tidak mendengar berita bahwa ada seorang raja yang sangat pandai menyembuhkan berbagai penyakit di negeri yang jauh.

bersedialah orang-orang mengantarkan rajanya ke negeri yang dimaksud yaitu negeri yang diperintahi oleh Maharaja Ali.

Setelah rampung semuanya, maka berlayarlah orang-orang bersama-sama dengan rajanya serta isteri Maharaja Ali. Pada suatu waktu tibalah mereka di negeri yang dimaksudkan. Mereka tiba di negeri itu ketika matahari persis di atas kepala. Terdengarlah bunyi ledakan meriam yang berada di atas kapal raja yang menderita lumpuh.

"Apa gerangan maksud letusan meriam itu?" Tanya Maharaja Ali kepada para penjaga istana dan orang banyak/
"Sembah Tuanku. Tak seorangpun dari kami mengetahui maksud kedatangan kapal itu," Jawab orang-orang.
"Cobalah tengok kapal itu! Tanyakan maksudnya," perintah Maharaja Ali
Ramai orang datang ke kapal. setiba mereka di pelabuhan nampaklah nahkoda kapal sedang duduk bersama-sama dengan para pengikutnya.,
"Apakah kehendak kalian datang kemari?" tanya pesuruh raja kepada orang-orang itu.
"Kami datang dengan maksud baik. Kami mendengar kabar bahwa raja anda pandai mengobati orang-orang sakit. Raja kami sedang mengidap penyakit yang tak tersembuhkan di negeri kami sendiri," jawab nahkoda kapal.
"Apakah nama penyakitnya itu?" tanya utusan Maharaja Ali
"Lumpuh kedua kakinya>" jawab orang-orang itu
"Akan kami sampaikan itu kepada raja kami." kata utusan raja.
Orang-orang yang menjadi utusan Maharaja Ali kembali ke istana. Disampaikannya kepada Maharaja Ali segala apa yang dengarnya dari tamu-tamu tadi.
"sebaiknya raja itu dibawa ke mari," perintah Maharaja Ali
Orang-orang menjemput raja yang lumpuh itu. Selain itu Maharaja Ali memerintahkan penjaga istana agar menjaga kapal tamu di pelabuhan. Para penjaga un pergilah menjalankan tugasnya.
Raja itu diusung ke istana Maharaja Ali, tetap isteri yang dibawanya tidak ikut serta. tetap tinggal di kapalnya. Ia tak mau mengikuti raja.
Kedua penjaga istana mengawasi kapal, agar aman dari gangguan. Pada saat itu kelihatan oleh mereka beberapa ekor burung elang yang sedang menyambar ikan di laut. Melihat itu salah seorang tertawa terbahak-bahak.

"Mengapa kalian segirang itu?" tiba-tiba isteri raja bertanya kepada kedua penjaga.
"Bagaimana kami tidak tertawa, kalau melihat tinggah burung-burung elang itu,"Jawab penjaga
"Bagaimana sikap burung-burung itu?" tanya isteri raja.
Seekor yang menyambar ikan, tetapi yang lain yang akan memakannya," jawab salah seorang penjaga.
"Sudahlah, kau jangan mentertawakan sikap burung burung elang tiu,"kata yang seorang lagi.
"Mengapa kau berkata begitu?" tanya yang seorang
"Tingkah burung-burung itu tak beda dengan perilaku manusia. Lupakah kau tentang nasib keluarga kita?" jawab yang seorang
"Aku tidak lupa. Aku ingat ibu kita yang disekap raja dzalim di negeri yang jauh dulu itu. Hingga kita kita tak dapat menemui ibu  yang tercinta. Belum lagi tentang ayah kita berdua, Maharaja ALi yang diterkam buaya. Beruntunglah kita berdua, yang maasih hidup tertolong oleh para pemilik perahu tambangan,"jawab salah seorang
"Memang demikian kisah keluarga kita. Dan aku sedikit merasa curiga dengan raja kita sekarang. Jika kulihat wajahnya, teras seperti wajah ayah kita dahulu. Tetapi apa hendak dikata, karena kita tak bisa berbicara secara bebas dengan raja kita itu," kata yang seorang.

Karena mendengar kata-kata penjaga yang demikian, maka keluarlah istri raja dari dalam kamar kapalnya. Setibanya di luar, serta  merta dipeluknya kedua penjaga itu penuh mesra. Kedua penjaga itu merasa ketakutan. Mereka menyadari bahwa tidak pantas untuk berbuat begitu. Disamping itu keduanya sangat takut kalau-kalau ketahuan raja. Bukankah selain mereka berdua masih ada pula orang lain disitu? Dan raja mereka adalah raja yang paling tidak suka dengan hal-hal serupa itu.

Kedua penjaga itu meronta-ronta melepaskan diri dari pelukan isteri raja. Malu mereka terhadap orang-orang yang ikut menyaksikan.
"Jangan begitu, Anakku! Kalian jangan takut dan malu karena aku memelukmu. Adapun aku ini tak lain dari ibumu. Akulah yang disekap oleh raja yang lumpuh itu. Kalian menunggu aku di pintu gerbang istana karena tak diperbolehkan masuk ke istana oleh para penjaga bukan?"kata isteri raja.

"Oh, Ibuku! Maha Kuasa Allah yang mempertemukan kita bertiga ini. Inilah bukti kekuasaan Allah  terhadap para hambanya," kata yang tertua dari penjaga itu.
Salah seorang dari penjaga kapal, tidak senang melihat tingkah kedua penjaga dengan isteri raja di kapal. Ia segera ke istana melaporkan kejadian yang dilihatnya.
"Apa maksud kedatanganmu?"tanya Maharaja Ali kepadanya
"Ampun Tuanku! Hamba datang melaporkan apa yang telah terjadi di dalam kapal. Kedua penjaga istana telah berbuat sesuatu yang memalukan. Tidak sesuai dengan hukum agama," jawab pelapor.

"Apakah yang terjadi?"tanya Maharaja Ali
"Mereka berpelukan dengan isteri raja di dalam kapal. Mereka telah melanggar peraturan kerajaan yang Tuan perintahkan. Mohon agar kepada mereka di berikan hukuman yang setimpal dengan kesalahannya," jawab pelapor
"Memang begitu seharusya. Aku benar-benar benci kepada perbuatan serupa itu karena akan membawa dosa  kepada negara dan bangsa. Panggilah mereka itu. Suruh kemari," perintah Maharaja Ali.
Maka pergilah orang banyak untuk memanggil kedua penjaga kapal seperti apa yang diperintahkan rajanya.

Sebelum kita lanjutkan kisah kedua penjaga itu, kita kembali kepada hal ihwal raja yang lumpuh. Sebelum diobati oleh Maharaja Ali, ia ditempakan di sebuah kamar, di serambi depan. Ia berbaring di atas kasur yang disediakan oleh Maharaja Ali.
Sebelum dilakukan pengobatan, Maharaja Ali melakukan salat hajat. Memohon kepada Allah pertolongan kepada raja yang lumpuh agar diberikan kesehatan yang baik. Mudah-mudahan ia bisa sembuh dari penyakitnya itu.
Selesai salat hajat, Maharaja Ali mendatangi raja yang lumpuh di serambi depan. Maharaja Ali memegang kening raja itu.
"Kenapa Anda sampai menderita begitu berat?" tanya Maharaja Ali.
"Sungguh saya tidak mengetahuinya. Tahu-tahu saya tidak bisa berjalan sama sekali," jawab raja itu.
"Barangkali ada perbuatanmu yang tidak sesuai dengan hukum agama,"kata Maharaja Ali.
"Memang ada."
"Apakah perbuatan itu?"
"Ada seorang wanita pernah datang meminta sedekah ke istana. Wanita itu sangat cantik. Entah dari mana datangnya saya tidak tahu," jawab raja yang lumpuh.
"Sesudah itu apa yang terjadi?" tanya Maharaja Ali
"Saya sekap wanita itu dalam kamar istana. Aku larang dia pulang ke tempat asalnya. Anak-anaknya yang menunggu di pintu gerbang istana tidak aku suruh masuk," cerita raja.
"Dimana anak-anak itu sekarang?"
"Saya tidak tahu lagi ke mana mereka pergi. Barangkali mereka telah menemui ajalnya."
Maharaja Ali berdiam diri. Bercucuran air matanya membasahi belah pipinya. Ia menangis tersedu-sedu karena terharu mendengar cerita itu.
Setelah selesai menangis, Maharaja Ali kembali bertanya kepada raja yang lumpuh.
"Apalagi sesudah itu?" tanya Maharaja Ali lagi
"Aku membujuknya agar dia mau menjadi isteriku, namun sia-sia saja. Ia tetap bertahan hingga hari ini. Ia menjawab hanya dengan tangis dan linangan air mata."
"Sesudah itu?"
"Tidak ada pekerjaan lain selain sembahyang dan berdoa. Apa yang didoakannya aku tak tahu," jawab raja yang lumpuh
Kembali Maharaja Ali berdiam diri. Ia termenung mendengar tutur raja itu.

Tengah ia berbuat demikian, tiba-tiba datanglah kedua penjaga kapal diantar oleh orang banyak. Tak ketinggalan isteri raja.
Ketika tiba diserambi istana, isteri raja dipisahkan dari kedua penjaga agar mudah diusut perkaranya.
"Apakah gerangan perbuatan anda berdua terhadap wanita yang tidak sesuai dengan hukum agama Islam?" tanya Maharaja Ali.
"Sembah Tuanku! Tidak ada perbuatan kami yang tidak patut," jawab salah seorang penjaga.
"Kaatakanlah dengan sebenarnya kepadaku," kata Maharaja Ali dengan agak marah
"Sebenar-benarnya kami berkata."
"Kalau memang tak terjadi apa-apa, mengapa orang datang  melapor kepadaku?" tanya Maharaja Ali
"Sebenarnya kami hanya saling berpelukan dan menangis haru bercampur gembira bersama ibu yang berada dalam kamar kapal," jawab mereka berdua.
"Itulah yang tidak sesuai dengan hukum Agama, Sekarang akan kuhukum kalian sesuai dengan kesalahanmu," kata Maharaja Ali.
"Tak salah apa yang dikatakan Tuanku. Tetapi barang kali hal itu tidak tepat untuk diri kami," jawab salah seorang penjaga.
"Hei mengapa kau berani berkata begitu?" tanya Maharaja Ali, heran.
"Ada pun wanita yang berada di kamar kapal tak lain dan tak bukan, melainkan ibu kandung kami berdua. Kami berdua  adalah anaknya. Kami telah lama berpisah dan baru kali ini dapat berjumpa,"jawab seorang penjaga.
"Benarkah kata-katamu itu?" tanya Maharaja Ali.
"Sembah Tuanku! Kami tak berani berbohong di hadapan Tuanku," jawab mereka berdua.
"Bagaimana kalian bisa berpisah dengan Ibumu?" tanya Maharaja Ali.
"Waktu itu ibu kami pergi meminta sedekah ke istana. Tetapi raja tidak mengizinkannya untuk pulang lagi. Ia disekap di istana."
"Sesudah itu apa yang kalian lakukan?" tanya Maharaja Ali.
"Kami kembali kepada ayah, yaitu Maharaja Ali yang telah lama menunggu. Ayah kami mengajak untuk meninggalkan negeri itu karena benci sekali terhadap tingkah laku raja, yang menyekap ibu kami itu. Dalam perjalanan itu, ketika kami menyeberangi sebuah sungai tiba-tib ayah kami disambar buaya hingga tewas. Ditinggalkannya kami berdua. Untunglah pemilik perahu tambangan yang menolong diri kami berdua," tutur salah seorang penjaga.
"Sesudah itu?" tanya Maharaja Ali lagi.
"Kami diperiksa oelh pemilik perahu tambangan itu. Kemudian pada suatu hari kami diantarkannya kemari, sehingga kami diangkat menjadi penjaga istana oleh Tuanku!" tutur penjaga.
Maharaja Ali berdiri. Ia meloncat ke arah penjaga itu. Kemudian ia menangis sejadi-jadinya.
"Kalian adalah anak kandungku sendiri. Akulah Maharaja Ali ayahmu yang diterkam buaya. Di manakah ibumu sekarang?" Tanya Maharaja Ali tersedu-sedu.
"Ada di serambi belakang," jawab kedua penjaga serentak.
Maka dijemputlah wanita itu. Ketika keduanya bertemu pandang menangislah mereka sejadi-jadinya. Rasa haru dan gembira menyertai mereka karena di luar dugaan bisa berjumpa kembali dengan satu keluarga.

Mereka bersujud syukur atas kekuasaan Allah semata-mata hingga hal yang demikian terjadi atas mereka. Bertambahlah kuat iman mereka kepada Allah yang Maha Kuasa.
Setelah itu mereka saling bercerita tentang kejadian-kejadian yang telah menimpa diri mereka masing-masing.
selesai kejadian itu semuanya, raja yang menderita lumpuh meminta maaf atas segala kesalahannya kepada Maharaja Ali sekeluarga.
"Sebaik-baiknya orang, adalah yang mau memaafkan kesalahan sesama manusia," kata Maharaja Ali.
Kemudian sesudah itu raja itupun mulailah diobati oleh Maharaja Ali. Dan beberapa hari kemudian ia pun telah sembuh. Kedua kakinya sudah bisa digerakan sedikit-sedikit. Hal itu membuat Maharaja Ali bersemangat untuk terus mengobatinya. Akhirnya raja itu sembuh sama sekali dari penyakitnya. I sudah bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Ketika raja itu merasa dirinya sudah sembuh benar, ia pun bercerita tentang Badarsyah. Rupanya Badarsyah telah diangkat menjadi pembantu raja di negeri raja itu.
Maka mereka sekeluarga pun pergilah menjenguk Badarsyah sambil mengantarkan pulang raja yang sembuh itu. Mereka akhirnya bertemu dengan penuh rasa gemira.
Mereka akhirnya hidup dengan tenteram di tempat masing-masing di mana mereka menjadi raja.

Ndededu ntikana mpararo nuntu ndai Sangaji Ali. Edempara cumpuna

TAMAT



◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger