Kamis, 17 September 2020

Legenda Bawang Merah dan Bawang Putih

Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih sangat populer, setiap anak pasti pernah mendengar cerita ini. Yuk kita simak dongeng berikut ini.

Cerita Bawang Merah Bawang Putih


Pada zaman dulu di sebuah kampung, hiduplah seorang janda yang memiliki dua orang anak gadis yang cantik, Bawang Merah dan Bawang Putih. Ayah kandung Bawang Putih telah lama meninggal dunia. Bawang Merah dan Bawang Putih memiliki sifat dan perangai yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati. Sementara Bawang Merah adalah seorang gadis yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki. Sifat buruk Bawang Merah kian menjadi-jadi akibat ibunya selalu memanjakannya. 

Sang janda selalu memenuhi semua permintaan dan tuntutan Bawang Merah. Selain itu semua pekerjaan di rumah selalu dilimpahkan kepada Bawang Putih. Mulai dari mencuci pakaian, memasak, membersihkan rumah, hampir semua pekerjaan rumah selalu dikerjakan oleh Bawang Putih seorang diri, sementara Bawang Merah dan Ibu Tiri selalu berdandan dan bermalas-malasan. Jika mereka memerlukan sesuatu, tinggal menyuruh-nyuruh Bawang Putih.

Bawang Putih tak pernah sekalipun mengeluhkan nasib buruknya. Ia selalu siap sedia melayani sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya dengan senang hati. Pada suatu hari Bawang Putih tengah mengerjakan pekerjaan rumah mencuci pakaian milik Ibu Tiri dan Saudari Tirinya. Akan tetapi Bawang Putih tak menyadari bahwa sehelai kain milik Ibu Tirinya telah hanyut terbawa arus sungai. Ketika Bawang Putih menyadarinya, ia sangat sedih dan takut bila diketahui hilangnya kain itu, maka ia akan dimarahi dan disalahkan oleh Ibu Tirinya. Bukan mustahil bahwa Bawang Putih akan dihukum bahkan diusir dari rumahnya.

Khawatir kehilangan kain tersebut, Bawang Putih dengan gigih dan tekun tetap mencarinya sambil berjalan menyusuri sepanjang sungai yang berarus deras itu. Tiap kali bertemu seseorang di sungai ia selalu menanyakan apakah mereka melihat kain tersebut. Sayang sekali tak seorangpun yang melihat dimana kain hanyut itu berada. Hingga pada akhirnya Bawang Putih tiba di bagian sungai yang mengalir ke dalam gua. Ia sangat terkejut ketika mengetahui ada seorang nenek tua yang tinggal di dalam gua tersebut. Bawang Putih menanyai nenek tua itu mengenai keberadaan kain Ibu Tirinya. 

Nenek tua itu mengetahui dimana kain itu berada, akan tetapi ia mengajukan syarat bahwa Bawang Putih harus membantu pekerjaan sang nenek tua. Karena telah terbiasa bekerja keras, dengan senang hati Bawang Putih menyanggupi untuk membantu sang nenek merapikan dan membersihkan gua tersebut. Nenek tua itu sangat puas dengan hasil pekerjaan Bawang Putih. Pada sore harinya Bawang Putih berpamitan kepada sang nenek. Sang nenek itu kemudian mengembalikan kain milik Ibu Tiri Bawang Putih yang hanyut di sungai, seraya menawarkan kepada Bawang Putih dua buah labu sebagai hadiah atas pekerjaannya. Dua buah labu itu berbeda ukuran, satu besar dan yang lainnya kecil. Karena Bawang Putih tidak serakah dan tamak, ia memilih labu yang lebih kecil.

Ketika kembali ke rumah, sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya amat marah karena Bawang Putih terlambat pulang. Bawang Putih pun menceritakan apa yang telah terjadi. Ibu Tiri yang tetap marah karena Bawang Putih hanya membawa sebutir labu kecil, ia kemudian merebutnya dan membanting buah itu ke tanah. "Prak..." pecahlah labu itu, akan tetapi terjadi suatu keajaiban, di dalam labu itu terdapat perhiasan emas, intan, dan permata. Mereka semua terkejut dibuatnya. Akan tetapi karena Ibu Tiri dan Bawang Merah adalah orang yang tamak, mereka tetap memarahi Bawang Putih karena membawa labu yang lebih kecil. Jika saja Bawang Putih memilih buah yang lebih besar, tentu akan lebih banyak lagi emas, intan, dan permata yang mereka dapatkan.

Karena sifat serakah dan tamak, Bawang Merah berusaha mengikuti apa yang dilakukan Bawang Putih. Dengan sengaja ia menghanyutkan kain milik ibunya, kemudian berjalan mengikuti arus sungai dan menanyai orang-orang yang ia temui. Akhirnya Bawang Merah tiba di gua tempat nenek itu tinggal. Tidak seperti Bawang Putih, Bawang Merah yang malas menolak membantu nenek itu. Ia bahkan dengan sombongnya memerintahkan nenek tua itu untuk menyerahkan labu besar itu. Maka nenek tua itu pun memberikan labu besar itu kepada Bawang Merah. 

Dengan riang dan gembira Bawang Merah membawa pulang labu besar pemberian nenek tua itu. Telah terbayang dalam benaknya betapa banyak perhiasan, intan, dan permata yang akan ia miliki. Sang Ibu Tiri pun dengan gembira menyambut kepulangan putri kesayangannya itu. Tak sabar lagi mereka berdua memecahkan labu besar itu. Akan tetapi apakah yang terjadi? Bukannya perhiasan yang didapat, dari dalam labu itu keluar berbagai macam ular dan hewan berbisa. Mereka berdua lari ketakutan. Baik Ibu Tiri maupun Bawang Merah akhirnya menyadari sifat buruk dan ketamakan mereka. Mereka menyesali bahwa selama ini telah berbuat buruk kepada Bawang Putih dan memohon maaf pada Bawang Putih. Bawang Putih yang baik hati pun memaafkan mereka berdua.

Rabu, 26 Agustus 2020

Asal Usul Telaga Warna Jawa Barat



Asal Usul Telaga Warna - Jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat yg bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan artinya sebuah kerajaan yg makmur dan  damai. Kerajaan itu dipimpin oleh seseorang raja bijaksana bernama prabu Swartalaya. Meski negeri itu hayati makmur, tetapi warga  negeri itu merasa gelisah. Hal tersebut dikarenakan oleh raja belum jua dikaruniai momongan sampai ketika ini. Sehingga duduk perkara tersebut menghasilkan raja serta ratu sangat duka, rakyatpun ikut galau. Mereka risi Jika kerajaan nantinya tidak mempunyai penerus.

Akhirnya buat mampu menerima keturunan, sang raja menyepi dan  bersemedi pada sebuah goa. Sesudah beberapa ketika lamanya, ahirnya harapan sang raja terkabul. Timbul sebuah suara tanpa wujud yang berkata bahwa harapanya akan segera terwujud. Oleh raja merasa sangat suka , kemudian dia menyudahi semedinya serta balik  ke istana.

Selang beberapa minggu lalu, permaisuri akhirnya mengandung. Lalu sembilan bulan lalu lahirlah seorang puteri yang sangat rupawan. Puteri tadi dinamakan Gilang Rukmini. Kelahiran oleh puteri disambut riang gembira oleh segenap warga , terutama oleh raja serta ratu yang telah usang mengharapkan keturunan. Pesta diadakan relatif meriah di istana.

Beberapa tahun berlalu, puteri Gilang Rukmini tumbuh sebagai puteri yg sangat cantik. Namun sebab sejak kecil tak jarang dimanjakan oleh ayah ibunya, puteri gilang rukmini mempunyai perangai yg cukup jelek. Beliau tumbuh menjadi gadis yg sangat manja. Bila keinginanya tidak dituruti, beliau akan cepat murka  serta berlaku cukup kasar di siapapun.

Namun oleh raja dan  segenap rakyat permanen menyayanginya. Mereka berharap perangai sang puteri kelak akan berubah seiring ketika. Sampai pada suatu ketika, tibalah umur oleh puteri genap menginjak 17 tahun. Buat merayakanya, suluruh rakyat sepakat buat menyampaikan pemberian  khas menjadi wujud rasa cinta mereka pada sang puteri.

Akhirnya, masyarakat seluruh negeri menyisihkan perhiasan terbaik mereka. Seluruh perhiasan itu nantinya akan dilebur buat membentuk kalung yang relatif bagus. Pintar emas terbaik diseluruh negeri, diserahi tugas buat menghasilkan kalung tadi. Hingga terciptalah sebuah kalung yang sangat mengagumkan, bertahtakan batu permata warna-warni yang berkilau.

Program ulang tahun diadakan pada istana dengan persiapan yang relatif megah. Panggung besar  dirancang di depan istana dengan dekorasi yg meriah. Rakyat berbondong-bondong berkumpul buat mengucapkan selamat pada oleh puteri yg mereka cintai.

Akhirnya, oleh raja, ratu, serta puteri datang dan  naik ke atas mimbar, disambut sorak sorai para masyarakat yang berbahagia. Sampai tibalah dimana kalung permata yang dipersembahkan sang warga  seluruh negeri diserahkan. Mereka berharap oleh puteri akan merasa suka .

Tetapi ketika sang raja membuka kotak serta menyerahkan kalung itu, oleh puteri hanya mengerutkan dahi. Tidak sedikitpun tampak raut senang di wajahnya. Melihat tingkah laris puterinya, sang raja sebagai malu. Lalu raja berkata..'' Terimalah serta pakailah kalung itu. Itu wujud cinta semua masyarakat di mu. Hargailah jerih payah mereka''. Tetapi jawaban oleh puteri justru mengejutkan. Menggunakan terperinci-terangan dia menolak, bahkan mengejek kalung itu. ''Ah.. Kalung apa itu? Buruk  sekali. Warnanya sangat kampungan''.

Melihat tingkah laris puterinya yang sudah di luar batas, sang raja menjadi sangat sedih serta malu. Ahirnya oleh raja mulai menangis. Melihat rajanya menangis, warga  yg melihatnya ikut bersedih, dan  ahirnya ikut menangis. Konon katanya, mereka semua menangis terus menerus sampai istana tergenang oleh air mata mereka. Dan  datang-tiba, asal dalam tanah juga ikut memancar air yang sangat deras, hingga istana dan  semua negeri tenggelam di dasarnya. Dan  kini  , tempat itu berubah menjadi Telaga warna. Sebab pada saat-waktu tertentu, air di telaga itu mampu berubah warnanya. Dan  berdasarkan legenda, itu adalah pancaran rona berasal kalung Puteri Gilang Rukmini yg berada di dasar telaga.

Senin, 24 Agustus 2020

Dongeng Legenda Timun Mas

Selamat Datang di Cerita Rakyat Singkat, pada dongeng kali ini berjudul Dongeng Legenda Timun Mas. Selamat mendongeng..!!


Cerita Timun Mas


Di zaman dahulu kala hidup sepasang suami isteri yg hidup sehari-harinya sebagai petani. Sangat disayangkan mereka tidak memiliki seorang anak.

Tidak pernah bosan mereka memanjatkan doa agar bisa mempunyai seorang anak. Pada suatu saat, seseorang super besar akbar melewati rumah sepasang petani itu serta tanpa tak sengaja mendengar doa-doa mereka. Karena iba, raksasa besar  pun memberikan sebutir biji timun pada mereka untuk menanam serta merawatnya. Namun biji timun yang diberikannya pada sepasang suami isteri itu tidaklah cuma-cuma, ia mengatakan, "kalian wajib  menyampaikan anak kalian kepada ku bila telah dewasa."

Ditanamlah biji ketimun itu oleh sepasang suami isteri dan  kemudian dirawat dengan penuh asa. Dan  akhirnya biji ketimun yg ditanam mengakibatkan yang akan terjadi yg baik menggunakan tumbuhnya sebuah ketimun yg beda berasal pohon-pohon ketimun lainnya. Akibat buah ketimun tersebut tumbuh menjadi besar  serta mempunyai rona keemasan. Terlihat telah sangat matang, kemudian dipetiklah buah tersebut serta dibukanya sang mereka. Saat buah ketimun yg berwarna keemasan dibuka, terlihatlah seorang bayi wanita yg sangat cantik.

Bayi perempuan   tadi diberi nama Timun Emas. Menggunakan tumbuh sebagai seorang anak wanita yang sangat indah serta pintar. Namun orang tuanya sangat risi menggunakan bertumbuhnya menjadi anak gadis, takut suatu ketika si super besar besar  itu menghampirinya serta meminta anak tersebut untuknya.

15 tahun telah umur Timun Emas serta beliau tumbuh menjadi gadis remaja yg cantik jelita. Tiba-tiba di lalu harinya raksasa itu datang buat menemui sepasang petani dan  mengatakan " heii petani, aku  tiba kesini untuk meminta anakmu buat ku"

Jawab pak tani, "Anakku Timun Emas sedang tak ada dirumah dan  isteri ku sedang memanggilya di kebun, kau tunggulah sampai beliau datang."

Timun Emas pun keluar lewat pintu belakang sesudah ibunya menyampaikan kantung kain mungil dan  mengatakan, " pergilah nak, serta kamu bawa kantung ini. Terdapat benda-benda di dalamnya, yang bisa menyelamatkanmu asal sang super besar itu."

sudah sangat lama   raksasa menunggunya, tapi Timun Emas belum juga pulang kerumahnya. Serta akhirnya si raksasa pun menyadari jikalau dirinya sedang dibohongi oleh sepasang petani.

Super besar memperhatikan disekitarnya. Pertama-tama dia tidak melihat apapun, namu terlihatlah berasal semak-semak yg berkiprah-gerak mencurigakan. Dari kejauhan terlihatlah Timun Emas sedang berlari, lalu super besar itu pribadi lari dang mengejarnya.

Semakin mendekat kejaran si raksasa itu ke Timun Emas, namun dia sembari berlari memasukan tangannya kedalam kantung kain mungil serta menemukan segenggam garam. Kemudian menggunakan cepatpun Timun Emas melempari garam itu ke super besar, ada bahari yang luas di dean super besar. Berusaha super besar melewati laut itu dan  pulang mengejar Timun Emas lagi.

Dilakukannya pulang Timun Emas memasukan tangannya serta mencari yang ada didalam kantung itu. Ditemukannya segenggam cabe, lalu cabe itu dilempar lagi ke hadapan raksasa serta cabe itu berubah menjadi hutan yang lebat. Ranting-ranting tanaman menarik tangan dan  kaki raksasa itu tetapi beliau mampu memotong serta kembali berlari mengejar Timun Emas.

Pulang lagi Timun Emas mencari isi yg ada pada dalam kantungnya, ditemukannya segenggam biji ketimun. Dilemparinya biji-biji itu ke raksasa serta tumbuhlah sebagai hutan ketimun yg berbuah ketimun dengan poly dan  lebat. Dimakanlah ketimun-timun itu sampai habis serta akhirnya super besar itu merasa kekenyangan serta ngantuk, raksasa pun tertidur sangat pulas. Timun Emas berlari lagi untuk mampu menyelamatkan dirinya.

Beberapa lama   kemudian, terbangunlah raksasa itu dan  kembali mengejar Timun Emas. Menggunakan asa cemas Timun Emas menggoyang-goyangkan kantung pemberian  dari ibunya dan  hanya tinggal satu benda yg tersisa adalah segumpal terasi. Dengan tangan yang gemetar, dikeluarkannya segumpa terasi itu dan  melemparkannya ke hadapan raksasa. Dengan penuh harap semoga terasi itu mampu menyelamatkan dirinya asal cengkeraman super besar. Berubahlah terasi itu menjadi rawa-rawa berlumpur sesudah dilemparnya. Dan  akhirnya raksasa itu jatuh ke pada lumpur tersebut, pertama-tama ia karam hanya sampi lutut. Makin lama   dia karam lagi serta berusaha untuk berkiprah dan  berontak namun apa dayanya lumpur itu malah menenggelamkannya ke dalam lumpur.

Lalu Timun Emas istirahat dan  menenangkan diriny, akan tetapi ia tetaap waspada takut tiba-datang super besar itu balik  mengejarnya. Usang telah Timun Emas menunggunya, tetapi tak terlihat batang hidung si raksasa itu asal pada lumpur. Timun Emas pun langsung berjalan pulang kerumah untuk menemui orang tuanya. Akhirnya Timun Emas serta ke 2 Orang Tuanya terlepas dari ancaman raksasa itu.

Selasa, 11 Agustus 2020

Kisah Cindelaras

Kisah Cindelaras - Suatu hari hiduplah seseorang raja yg bernama Raden Putra beserta ke 2 istrinya. Raden Putra memimpin kerajaan Jenggala. Istri belia Raden Putra merasa iri kepada istri tua sebab ia merasa bahwa beliau lebih layak menjadi permaisuri. Istri belia menerima ilham buat mengambil posisi permaisuri asal istri tua Raden Putra. Beliau bekerja sama menggunakan dukun buat mejatuhkan istri tua asal posisi permaisuri. Istri belia berpura-pura jatuh sakit.

Mengetahui istri muda jatuh sakit, Raden Putra mencari dukun yg dapat menyembuhkan penyakit istri muda. Dukun yg dicari pun tiba pada istana. Dukun itu rupanya dukun yang disuruh sang istri muda buat membuat pernyataan palsu perihal penyebab dari pernyakit yang diderita istri muda. Dukun itu mengatakan bahwa istri muda sakit sebab tidak disukai sang seseorang serta orang itu meracuni kuliner istri muda. Orang itu merupakan istri tua Raden Putra. Raden Putra murka  dan  menyuruh patih buat membawa permaisuri ke hutan dan  membunugnya di sana. Tetapi, patih percaya bahwa permaisuri tidak melakukan hal itu dan  ia jua tahu kelicikan berasal istri muda.

Patih tak membunuh istri tua melainkan melepaskannya di hutan. Patih berkata kepada permaisuri buat bisa bertahan hayati di hutan. Permaisuri pun berterima kasih atas kebaikan hati patih dan  beliau pun bertahan hidup pada hutan. Suatu hari istri tua Raden Putra melahrikan seorang putra yang diberi nama Cindelaras. Dia merupakan anak pria yg cerdas dan  pandai  bergaul. Ia berteman dengan para penghuni hutan. Suatu hari Cindelaras sedang bermain pada hutan, datang-datang seekor elang menjatuhkan telur. Telur itu pecah dan  keluarlah seekor ayam menggunakan bunyi yang aneh. Anak ayam mengatakan bahwa Cindelaras ialah anak Raden Putra. Cindelaras menceritakan kejadian tadi pada ibunya. Tetapi, ibunya berkata bahwa Cindelaras artinya orang biasa serta bukan keturunan raja.

Ia berusaha mencegah supaya Cindelaras tidak mengetahui hal itu. Tetapi, akhirnya mak   memberitahu kebenaran tadi pada Cindelaras. Cinderalas pun berniat buat berangkat ke kerajaan Jenggala. Di tengah perjalanan, Cindelaras bertemu menggunakan orang-orang yang sedang menyaksikan sabung ayam. Cindelaras menantang para pemilik ayam yang sedang bertaruh di sana serta mereka menerima tantang Cindelaras. Rupanya tidak satu pun ayam yang bisa mengalahkan ayam Cindelaras. Ayam Cindelaras pun populer menjadi ayam yang tidak terkalahkan. Gosip ini terdengar sampai ke istana Raden Putra. Raden Putra mengundang Cinderlaras untuk tiba ke istana dan  menantang ayam Cindelaras. Raden Putra bertaruh bahwa Jika ayamnya kalah maka dia akan menyerahkan semua kekayaannya. Tapi, Bila ayam Cindelaras yg kalah maka Cindelaras harus rela kepalanya dipenggal.

Cindelaras pun menyetujui hal itu. Permasalahan antara ayam Cindelaras dan  ayam Raden Putra pun berlangsung. Ayam Cindelaras pun memenangkan pertandingan tadi. Ayam itu kemudian mengeluarkan suara aneh yang mengatakan bahwa Cindelaras merupakan anak asal Raden Putra. Raden Putra pun kaget mendengar hal itu. Dia bertanya kepada Cindelaras membenarkan hal itu. Tidak usang kemudian, istri tua Raden Putra tiba dan  menyebutkan bahwa cindelaras adalah anak Raden Putra. Raden Putra pun menyesal atas keputusan yg sudah ia buat. Ia pun menghukum istri belia serta dukun yang memfitnah istri tua Raden Putra.

Selasa, 27 Agustus 2019

The Terrible Leak

Retold
By Yoshiko Uchida

One rainy night, long, long ago, a small boy sat with his grandmother and grandfather around a chaacoal brazier. Warming their hand over the glowing coals, they told stories and talked of many things. Outside, the wind blew and the rain splattered on the thatched roof of the cottage.

The old man looked up at the ceiling saying,"I surely hope we dont have a leak. Nothing would be so terrible as to have to put up a new thatched roof now when we are so busy in the fields."
The little boy listened to the lonely wail of the wind as it whipped through the bamboo grove. He shivered and turned to look at his grandfather's face. It was calm and smiling and unafraid.


"Ojii-san," the little boy said suddenly. "is there anything you're afraid of?"
The old man laughed,"why, of course, lad,"he said
"There are many things a man fears in life."
"Whell then,"said the little boy,"what are you most afraid of in all the world?'
The old man rubbed his bald head, and thought for a moment as he puffed on his pipe.
"Let me see," he said."Among human beings, I think I fear a thief the most."
Now, at the very moment the old man was saying this, a thief had climbed onto the roof of the coshed, hoping to steal one of the cow. He happened to hear what theold man said, and he thrust out his chest proudly.

"So!" he thought to him self," I am the very thing the old man fears most in all the world!" And he laughed to think how frightened the old man and woman would be if they only knew a thief was in their yard this very minute

"Ojii-san," the little boy went on,"Of all the animals in the world, which one are you most afraid of?"
Again, the old man thougt for a moment, and then he said, "of all the animals, i think I fear the wolf the most."

Just as the old man said this, a wolf was prowling around the cowshed, for he had come to see if there were some chickens he might steal. Whe he heard what the old man said, he laughed on himself. "Ah-ha!" he said. "So I am the animal the old man fears the most," and wiggling his nose, he sniffed haughtily


But inside the house, the little boy went on.
"Ojii-san," he said, "even more than a thief or a wolf, what are you the most, most, most afraid of?"
The old man sat thinking for a long while, and thoughts of ogres and demons and terrible dragons filled  the little boy's head. But the old man was listening to the rain as it splashed and trickled in rivulets of water around the house. He thougt again how terrible it would be to have a leak in his roof. He turned to the boy and said,"Well, the one thing I fear most of all right now is a leak! And I afraid one may come along any minute!"
Now when the thief and the wolf heard this, they didn't know the old man was talking about a leak in the roof. 
"A leak, "thougt the thief, "What kind of terrible animal could that be? if the old man fears it more than a thief or a wolf, it must be a fearsome thing!"
Down below, the wolf thougt the same thing."A leak must be a dreadful creature if the old man fears it more than me or a thief," he thought. And he peered into the darkness, wondering if a leak might not spring out of the forest, for the old man had said one might come at any moment.

Up on the roof of the cowshed, the thief got so excited he slipped and tumbled down into the darkness. But instead of falling to the ground, he fell right on the back of the wolf.

The wolf gave a frightened yelp. From somewhere above him in the dark night, something had leaped on his back and was clutching his neck. "This must be the terrible leak the old man talked about," thought the wold, and with his tail between his legs, he ran pell mell into the woods.

to be continue................

Senin, 26 Agustus 2019

Why the Sun and the Moon Live in The Sky

www.missadventures.us
Many years ago the sun and water were great friends, and both lived on the earth together. The sun very often used to visit the water, but the water never returned his visits. At last the sun asked the water why it was that he never came to see him in his house, the water replied that the sun's house was not big enough, and that if he came with his people he would drive the sun out.
He then said, "If you wish me to visit you, you must build a very large compound; but I warn you that it will have to be a tremendous place, as my people are very numerous, and take up a lot of room."
The sun promised to build a very big compound, and soon afterwards he returned home to his wife, the moon, who greeted him with a broad smile when he opened the door. The sun told the moon what he had promised the water, and the next day commenced building a huge compound in which to entertain his friend.
When it was completed, he asked the water to come and visit him the next day.
When the water arrived, he called out to the sun, and asked him whether it would be safe for him to enter, and the sun answered, "Yes, come in, my friend."
The water then began to flow in, accompanied by the fish and all the water animals.
Very soon the water was knee-deep, so he asked the sun if it was still safe, and the sun again said, "Yes," so more water came in.
When the water was level with the top of a man's head, the water said to the sun, "Do you want more of my people to come?" and the sun and moon both answered, "Yes," not knowing any better, so the water flowed on, until the sun and moon had to perch themselves on the top of the roof.
Again the water addressed the sun, but receiving the same answer, and more of his people rushing in, the water very soon overflowed the top of the roof, and the sun and moon were forced to go up into the sky, where they have remained ever since.

Sumber : http://www.worldoftales.com/African_folktales/Nigerian_folktale_16.html

Teki-teki Abu Nawas : Ayam dulu atau telur dulu????

www.ripleynurseries.co.uk
Teka-teki ini dari jaman baheula sudah sering kita dengar. Tapi tak pernah ada yang memuaskan jawabannya. Ayam dulu laaah...kan telor dari ayam" terus ayam dari apa? dari telor kan??? bulak balik dekok. coba kita tanya Abu Nawas apa jawabannya ???

Suatu hari Baginda Raja melihat induk ayam dan anak-anaknya bermain di halaman istana. Timbul pertanyaan dalam dirinya, manakah yang lebih dulu, ayam atau telornya. Semakin lama dipikirkan semakin Baginda pusing sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat sayembara ke seluruh negeri yang isinya 
"Barang siapa yang bisa menjawab mana yang lebih dulu ayam atau telor maka akan mendapat hadiah sekantung emas"
Ada dua syarat yang dalam menjawabnya. Pertama jawaban harus logis, masuk akal. yang kedua peserta harus dapat menjawab sanggahan dari Baginda.
Barang siapa yang tidak bisa menjawab pertanyaan Baginda maka akan mendapatkan hukuman penjara.

Meskipun hadiahnya menggiurkan, namun karena hukumannya juga berat, tidak banyak peserta yang ikut. Tercatat hanya empat orang termasuk di antaranya Abu Nawas. 

Pada waktu yang ditentukan, peserta pun berkumpul untuk memulai sayembaranya. 
Peserta pertama dipanggil ke depan Baginda. Dia datang dengan gemetar gugup dan ketakutan.
"Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?" tanya Baginda.
"Telur" Jawab peserta pertama dengan penuh keyakinan.
"Apa alasannya?" tanya Baginda
"Bila ayam lebih dahulu, itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur." kata peserta pertama menjelaskan.
"Kalau begitu siapa yang mengerami  itu?"tanya Baginda.
Peserta pertama terdiam, pucat pasi, tidak bisa menjawab pertanyaan Baginda. Penjaga pun menggiring dia ke penjara.

Kemudian peserta kedua maju. Ia berkata:
"Baginda, sebenarnya ayam dan telur tercipta dalam waktu bersamaan."
"Bagaimana bisa?"tanya Baginda
"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Kalau telur lebih dahulu juga mungkin karena telur berasal dari ayam dan tak mungkin bisa menetas kecuali dierami." peserta kedua menjelaskan dengan mantap
"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?"tanya Baginda memojokkan. Peserta kedua diam membisu tidak dapat menjawab pertanyaan Baginda. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Peserta ketiga pun maju. Ia berkata
"Tuanku, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu dari telur,"
"Sebutkan alasanmu?"kata Baginda
"Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina."kata peserta ketiga meyakinkan
"Lalu bagaimana ayam tersebut beranak pinak seperti sekarang. sedangkan ayam jantan tidak ada?" tanya Baginda.
"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. lalu menetas menjadi ayam jantan. Kemudian ayam jantan itu mengawini induknya sendiri,"Peserta ketiga menjelaskan
"Bagaimana kalau ayam betinanya mati sebelum kawin dengan ayam jantan?" tanya Baginda
Peserta ketiga tidak dapat menjawab sanggahan Baginda. Dia pun dimasukan ke penjara.

Tiba giliran Abu Nawas, ia berkata," Yang pasti adalah telur dulu baru ayam,"
"Coba terangkan dengan logis,"kata Baginda ingin tahu "Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam," kata Abu Nawas singkat.

Setelah berpikir lama. Baginda tidak bisa memberikan sanggahan dari jawaban Abu Nawas. Maka Abu Nawas dinyatakan sebagai pemenangnya.





◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger