Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2021

Raja Begal yang rajin puasa, diterimakah?

Ketika asy Syibli berada dalam rombongan khalifah dari Syam, di tengah jalan rombongan tersebut dicegat oleh gerombolan perampok. Barang-barang mereka dirampas dan kemudian diserahkan kepada kepala gerombolan perampok itu.
Dari kantung barang rampasan, salah seorang perampok menemukan gula kenari. Mereka kemudian beramai-ramai memakannya. Namun kepala perampok itu tidak mau makan.
“Mengapa kamu tidak ikut makan gula kenari bersama anak buahmu?” Tanya Asy Syibli keheranan.
“Aku sedang berpuasa” Jawab kepala perampok
“Anda berpuasa, dan Anda merampok?” Asy Syibli semakin keheranan, “Seharusnya Anda tidak melakukan pekerjaan yang tidak terpuji.”
“Entahlah, mudah-mudahan nanti aku akan meninggalkan pekerjaan ini,” Jawab kepala perampok enteng.  Kemudian ia meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika Asy Syibli tengah menunaikan ibadah haji, ia melihat kepala perampok yang dulu pernah merampas barang-barangnya tengah mengenakan pakaian ihram dan duduk di dekat ka’bah. Asy Syibli pun mendekatinya dan duduk di sampingnya.


“Apakah Anda adalah orang yang pernah aku jumpai beberapa tahun lalu?” tanya Asy Syibli penuh keraguan.
“Benarkah? Tapi aku lupa, entah dimana Anda bertemu denganku.” Jawab kepala perampok sambil mengamati asy Syibli berpikir keras mengingat-ingat. Namun tetap dia tidak mengingatnya.
“Maaf, bukankah Anda orang yang pernah menjadi pemimpin perampok?” Tanya Asy Syibli.
“Oh! Ya baru ingat sekarang. Benar, aku bersama anak buahku yang dulu pernah merampas barang-barang Anda. Dan puasa yang selalu kulakukan itu telah menuntun dan menarik diriku ke jalan yang benar dan damai.”



Nah, pemirsah….
Jangan nunggu sempurna diri kita untuk menjadi baik.
Jangan pernah berfikir:
“Kalau udah baik aku baru mau naik haji”
“Kelakuanku masih urakan, belum siap untuk pakai jilbab.
“Buat apa ibadah kalau masih berbuat maksiat?”
“Mau jilbabin hati dulu baru kepala”.
Beribadahlah meskipun kita belum sanggup menahan diri dari maksiat.
Berjilbablah meskipun kelakuan kita masih nyeleneh
Naik hajilah meskipun  shalat kita masih belang bentong.
Bisa jadi, Ibadahmu menjadi wasilah dirimu ke jalan yang benar




Sabtu, 22 Juni 2019

Kisah Hihkmah : Sahkah puasa orang yang berjunub?

Di kala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di rumah siti Aisyah, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Beliaupun  keluar untuk menemui orang tersebut. Sedangkan Siti Aisyah tetap tinggal di dalam rumah, tetapi Siti Aisyah masih mampu mendengar percakapan mereka berdua meskipun dengan suara yang pelan.
"Wahai Rasulullah, Aku punya permasalahan yang membuatku resah dan gelisah. masalah itu terjadi pada bulan Ramadhan yang belum lama berlalu. Kala itu waktu shalat shubuh telah masuk aku masih dalam keadaan junub. Bagaimana dengan puasaku kala itu? Bolehkan aku puasa dalam keadaan yang junub."

"Wahai sahabatku,"jawab Rasulullah seraya tersenyum mendengar pertanyaan yang demikian, "engkau tak perlu gelisah. aku pun pernah mengalami kejadian serupa yang engkau alami itu. Engkau tak usah ragu, puasamu tidak batal. Aku saat itu tetap berpuasa meski dalam keadaan junub."

"Tapi, engkau tidak sama dengan kami, Wahai Rasulullah. Allah mengampuni dosa-dosamu, baik yang lalu, yang kini maupun yang akan datang,"ucap orang itu belum puas dengan jawaban Rasulullah.

"Sahabatku ! Sungguh, aku selalu berharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan menjadi orang yang paling mengetahui cara-cara bertakwa."

Kisah Hikmah : Amalan yang lebih baik dari 10 tahun beri'tikaf

Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) sedang beri'tikaf di Masjid Nabawi. Tiba-tiba datanglah  seorang pria menemuinya dan mengucapkan salam padanya.
"Wahai Saudaraku,"ucap Ibnu Abbas setelah membalas salamnya, "Kulihat engkau resah dan gelisah, ada apa gerangan?"
"Benar wahai Ibnu Abbas, aku memiliki utang kepada seseorang. Demi penghuni makam itu (Rasulullah saw), aku tak mampu melunasi utang itu," jawab pria itu dengan perasaan sedih dan malu.
"Saudaraku!Bolehkah aku berbicara dengan orang itu?" ucap Ibnu Abbas.
"Tentu, silahkan, jika hal itu membuatmu pantas,"Jawab pria itu seraya berterima kasih
Ibnu Abbas pun keluar dari Masjid Nabawi dan mengenakan sandalnya. Melihat hal itu, seseorang menegurnya, "Wahai Ibnu abbas! kenapa engkau keluar dari Masjid? lupakah engkau bahwa engkau sedang beri'tikaf?

"Tidak, Saudaraku,"Jawab Ibnu Abbas, "Tetapi aku pernah mendengar penghuni makam itu (Rasulullah saw) bersabda, "Barang siapa yang berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya dan berupaya  sungguh sungguh untuk memenuhi keperluan itu, maka hal itu lebih utama baginya ketimbang sepuluh tahun beri'tikaf. Dan barang siapa yang beri'tikaf satu hari karena mengharapkan ridha Allah, maka Allah swt akan menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tiga parit, yang jarak antara satu parit dan parit lainnya lebih jauh ketimbang jarak antara langit dan bumi."
Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger