Rabu, 05 Juni 2019

Pengaruh sebuah kisah dan dongeng terhadap perilaku anak-anak maupun dewasa

Saat mengajar kadang-kadang saya selingi dengan sebuah kisah atau dongeng. Anak anak biasanya sangat senang kalau belajar diselingi dengan dongeng, mereka terlihat lebih menikmati mendengarkan sebuah kisah atau dongeng dibanding mendengarkan pelajaran, kebetulan pelajarannya matematika :D .
Saya sih ngambil hipotesis bukan cara mendongengnya yang bagus tapi mungkin mereka menghindar dari belajar matematika yang ngejelimet, hehe. Tapi ada baiknya juga, setidaknya mereka mau mendengarkan, jadi kita bisa memasukkan nilai nilai moral disitu. 
Hampir setiap hari saya mendongeng untuk anak-anak, baik itu cerita yang singkat maupun panjang. bahkan saya pernah menceritakan kisah bersambung di kelas matematika. Bukan hanya di kelas, kebiasaan bercerita saya juga diterapkan di TK maupun majelis taklim, baik remaja, ibu-ibu maupun bapak-bapak. 


Nah, karena itulah saya perhatikan ternyata dalam menceritakan sebuah kisah ataupun dongeng, ternyata bercerita itu harus menggunakan trik berbeda. Untuk anak TK dan SD, kita medongeng harus dengan enerjik, banyak gerak, dan menggunakan alat peraga . Mereka pasti menyukainya, apalagi kalau suara kita disesuaikan dengan karakter si tokoh dan suasana cerita. Cerita fiksi yang heroik sangat mereka sukai.

Berbeda dengan anak TK, anak remaja (SMP-SMA) tidak terlalu suka dengan gaya yang terlalu enerjik, atau bahasa mereka "lebay.com. Adapun jenis cerita yang disukai anak remaja adalah kisah asmara yang realistis. Misalnya kisah asmara sang pendongeng  (silahkan ceritakan aja kisah cinta anda yang sedikit di dramatisir :D). Bercerita di depan anak smp atau sma rada susah. Diheboh-hebokan, lebay, datar saja tidak diperhatikan. Yang unik, mereka sangat suka dengan cerita hantu, meskipun setelahnya ketakutan.

Bercerita kepada orang tua kadang-kadang tidak perlu emosi berlebihan nilainya akan sampai. Pernah bercerita tentang sebuah kisah sedih dengan datar mereka terhanyut dengan ceritanya padahal saya sendiri yang bercerita datar. Kadangkala saya menceritakan sebuah kisah sedih merasa sedih sendiri, padahal mereka biasa2 saja. :D

Tips ini berlaku hanya untuk pendongeng amatiran, beda lagi kalau anda ingin menjadi pendongeng profesional.

Apa benar sebuah cerita itu sangat mempengaruhi moral anak?

Timun Mas
Dalam al Qur'an pun telah disebutkan bahwasannya dalam sebuah kisah ada pelajaran yang dapat dipetik bagi orang-orang yang berakal. Ternyata kalau kita teliti sekilas, sebuah bangsa mempunyai karakter mirip dengan tokoh masa kecilnya.
Contoh: Bangsa Indonesia dari kecil dicekoki dengan cerita si Kancil. Karakter si Kancil terkenal, pintar, punya banyak akal, tapi suka mencuri. Ingatkan lagunya?
Si kancil anak anak nakal,
suka mencuri mentimun...

Nah, ga aneh karakter si Kancil melekat pada sebagian besar orang besar kita. Jadilah mereka ORANG PINTAR yang SUKA MENCURI, contohnya ya Koruptor toh? :D.
Kisah timun mas pun itu mengajarkan ingkar janji. Ketika si nenek menerima biji timun yang akan tumbuh dan isinya bayi, dia berjanji kepada raksasa akan menyerahkan anaknya itu jika sudah berusia 17 tahun, eh malah disuruh kabur. Ya itu, melekat ke sebagian politikus kita, sebelum punya jabatan pada dekat sama rakyat dan umbar janji, udah dapat mah pada kabur entah kemana.

beauty and the beast
Bandingkan dengan kisah Amerika (eeeit, bukan belain amerika loh, hanya perbandinga aja :D), Mereka dicekoki dengan cerita Superman, Batman, Star Trek yang berbau tekhnologi. itu membekas pada karakter mereka yang berbau ilmiah dan tekhnologi, jadilah mereka negara AdiKuasa di bidang tekhnologi dan lain-lain. Coba bandingkan kisah Timun Mas dengan Beauty and the Beast. Si Timun Mas kabur dari raksasa, si Beauty malah menepati janjinya datang ke The Beast si Manusia Singa. Mungkin kalau Timun Mas ga kabur, bisa jadi itu raksasanya berubah jadi pangeran :D

Kesimpulannya, pilih2lah dalam menceritakan sebuah kisah pada anak, karena itu akan melekat kuat dalam ingatannya, bahkan bisa menjadi sebuah inspirasi baginya.
selamat mendongeng :)


Sumber image : justjared.com (beauty and the beast), indoanswer.com (Ka Rico), folktalesnusantara.blogspot.com (timun mas)



Dewi Bidasari Di Buang Ayahnya, Raja Kembayat (Syair Bidasari bag 3)

Setelah sudah mandi bersuci
disambut anakanda disusui
kasih dan sayang tidak terperi
Puteri nan hendak ditinggali

Laki isteri bercinta gundah
memandang anakanda paras yang indah
Baginda menangis seraya bermadah
hendak dibawa bukannya mudah

dialaskan kain berpekanakan emas
diselimutkan dengan cawal kemas
memandang anakanda hatinya lemas
rasanya harap terlalu cemas

setelah hampirkan siang
hatinya belas terlalu sayang
diselimutkan kain intan di karang
manikam merah kemala diselang

ditaruhkan kendi di sisi anakanda
berbagai pakaian isinya ada
dinar dan intan emas bertatah
kendi-kendi kemala ditinggalkan Baginda

Dipeluk dicium seraya berkata
berhamburan dengan airnya mata
ayuhai emas putera juita
dipelihara oleh Tuhan semesta

lalu menangis puteri bangsawan
diletakan anakanda pilu dan rawan
kur semangat anakku tuan
semoga didapat orang bangsawan

Baginda menyapu airnya mata
memandang isterinya seraya berkata
ayuhai Adinda marilah kita
fajar menyingsing terangkan nyata

Segera berjalan laki isteri
hendak lekas ke luar negeri
tidak memandang kanan dan kiri
ke dalam hutan membawa diri

bersambung ke Dewi Bidasari di Pungut Laela Jauhari

Syair Bidasari (Hikayat Melayu) bag. 2

Dua bulan dura dan masa
lemahlah badan letih dan lesah
berbagai Baginda melihat termasa
sampailah kepada suatu desa

Sesat kampung seorang saudagar
jalannya sulit terlalu sukar
berhenti Baginda di luar pagar
heran tercengang duduk bersandar

Negeri mana gerangan ini
kampung siapa pula begini
hendak masuk tidak berani
baiklah kita duduk di sini

Tuan Puteri menangis seraya berkata
Kakanda wai apa bicara kita
sakit perut rasanya beta
senyap berdebar di dalam cita

Baginda mendengar tidak terkira
hilang budi lenyap bicara
berkata dengan perlahan suara
jikalau Adinda hendak berputera

Marilah Tuan kita berjalan
gagahi sedikit perlahan
mencahari sungai tempat perhentian
supaya jangan jadi kepayahan

Berjalanlah Baginda laki isteri
seraya memimpin tangan isteri
tepi sungai juga dicahari
dua tiga langkah terhenti

Setelah sampai turun ke pantai
dilihatnya perahu terlalu bisai
lengkap dengan kajang di lantai
naik perahu duduk berjuntai

Bulan pun sedang empat belas hari
kepada kutika dini hari
Puteri beranak seorang diri
diriba Baginda kepada isteri

Sepoi sepoi angin bertiup
air tenang angkasa rawa
Kepodang Punguk berbunyi sayup
seperti di dalam Gaibul Guyub

Lemah lembut angin utara
berkokok hayam merdu suara
dewasa itu puteri berputera
seorang perempuan tidak bertara

Sudah berputera Tuan adinda
ditelatak Baginda seraya bersabda
nyawa kakanda bangunlah adinda
bersriam dengan paduka anakanda

Bersambung ke Dewi Bidasari dibuang ayahnya

Raden Suwangsa Gering Pikir mikiran Dewi Rengganis ( Kisah Rengganis bag. 5)

KINANTI (u-i-a-i-a-i)

Suwangsa teu suwung suwung, mikiran Retna Rengganis, jadi manah salawasna, sarehing ditilar mulih, teu- beunang di ulah ulah, diandeng mondok sapeuting.

Narpatmaja unggah turun ka panggung ka taneuh deui sarta henteu petot tanggah , ningalan Dewi Rengganis, suganna katon ngolebat di awang-awang Rengganis. Cat deui bae ka panggung, Suwangsa kanduhan kingkin, tegesna geus kaleleban, sarta sering ngahariring, nangis bari sisindiran sumungkem kana guguling. Guguling nu di gugulung dianggo tilam kaeling, kawas katingal hilang ku nu mulang mentas maling.

Maling kembang tunjung tutur, katuturkeun ku pangliring, lila lila henteu terang, wekasan Suwangsa gering, gering maneh karungrungan, kuru aking ngajangjawing. Bawaning manahna kusut, teu kaop pisan kaseuit sewot lamun kasuat. Kesesekan ku kasakit juwet ku Retna Juwita, tacan wareg silih ciwit. Kitu nu matak nguluwut ka Rengganis enggeus muhit, kagendam cara nu ngundam dendem demem diri, wekasan jadi sangsara geseh ti adat sasari.

Semua kalangkung alum tina kaleleban galih. Kacatur teu gugah gugah ngaguligah hoyong panggih, sakapeung sok turun unggah Reungganis sugan kapanggih. Lewang manah jadi liwung, awang awang nu dilingling sok sering katuralengan, lelembutan geus ngelewing, tegesna raosing manah, geus aya di Argapuri.

Kayungyun nu nandang wuyung alumna ngahudang wingit, teu aya nu kacipta ngan Rengganis buah ati, lali ka saliring barang teu aya nu katolih. Di jero panggung mangungkung, keneng rimang emeng galih, asa ningal kembang-kembang, katembong urutna ngeumbing, kembang nu dina jambangan, matak wuwuh bingbang galih.

Di handapeun tunjung tutur, Rengganis urutna calik, calik emok teu disamak, hadena keusikna resik, Suwangsa mendak nalangsa, lalangse geus lingkup deui. Narpatmaja dina bangku, henteu petot ngahariring, kersa ngalilipur manah, malar paler ka nu mulih, sisindiran, basa jawa, supaya nambahan rasmi. Puter putih wismeng panggung, Rengganis bendara mami, gelepung pilih wadana, sesulung kang medal enjing, sataun mangsa lipura, yen durung slilironsih.

Kembang biru mungging kubur, anging ulah pegat asih, Renganis ka diri engkang, bantal dawa mungging keri, mustika ning pagulingan, ngan Eneng Retna Rengganis. Sing emut saur kapungkur, kang siti petak kabasmi, sanggup maneh kumawula, buron galak saba kali, Rengganis pupujan engkang, kapan baya sumping deui.

Gedong kambang mungging laut, kapalang temen Rengganis, sosobatan sareng engkang, bet wani ninggalkeun mulih, gunung kembar mungging dada, susunanku Nyi Rengganis. Aduh Nyai patrem sawung, Kang manira puji puji, ing wengi kalayan siang, ngan Eneng Retna Rengganis, kakayon rineka jalma, mangsa wurung anggoleki.

Aduh yayi sering kalbu, seja engkang nu sayakti, andeg andeg ing ukara, pada temen ulah licik, ulah cidra ti subaya, Rengganis kapan geus jangji. Naha henteu geura jebul, ngajabel puspitasari, sarina kudu kabawa, ka patapan Argapuri, kidang desa mungging kandang, dening kang aminda sasih. Rengganis ratuning ayu, kang etung sanga lan kalih, mugi sing agung kawelas, gegelang munggin dariji, mun Eneng dek carogean, ka engkang ulah lali. Ulah dek lali sawaktu, Rengganis ka diri kami, wedus bang kang saba wana, sun kukudang Nyi Rengganis, kalong cilik saba gedang, sumedot rasaning ati.

Kebo bang kagok ing susu, ku hayang sapisan deui, engkang jeun Eneng patempang, engkang ngantos ngantos jangji, majah maneh moal lila, kuring meureun balik deui. Enggeus dek langkung saminggu, henteu acan bae sumping, sugan masih keneh welas, ka nu boga tamansari, sabarilen saba toya, wong ayu ambibisani.

Umpama eneng geus tangtu, henteu kersa mulih deui, angka ka Banjaransekar, engkangna nu kantun nyeri, wader bang mawa curiga, kurang tamba lila gering. Daek daek pondok umur, mun teu dilayad ku Nyai, meureun burung jadi raja, ngaganti jeneng bupati, ngagentosan jeneng rama, engkang moal awet hurip.

Duh aduh Rengganis Enung, Nyai teh ngawaadung pari, estu Nyai nganiaya, Rengganis ka diri kami, naha henteu geura datang, ka Banjaransari deui. Engkah teh ngajukut laut, mun Nyai ayeuna sumping, meureun seger diri engkang, hate moal ngentab teuing, bulan keur surem sabeulah, moal samagaha pikir.

Henteu aya dua tilu, kajaba ti Nyai Rengganis, anu jadi pikir engkang, sahingga nemahan pati, engkang sumeja bumela, ngabujang di Argapuri. Gumantung dina jajantung, bulat beulit kana peujit, sumarambah kana bayah, jadi kulit jadi daging, geus nyayang dina sungsuam, gandesna Retna Rengganis.

Panjang lamun dipicatur, anu keru kanduhan kingkin, nu matak Kusumah Rara, disebut Retna Rengganis, tayohna kitu hartina, karengga dening mamanis.

Senin, 03 Juni 2019

Dewi Rengganis (Nyimas Argapura) bag 4

Lajeung Nyimas Argapura, lambeyna imut saeutik, Raden Arya Narpatmaja diimutan ku  Rengganis manahna langkung manis, raos kagunturan madu teu aya papadana, yen diimutan nu geulis, Narpatmaja micara di jero manah, “Rasa kami saayeuna, lamun ditingkalkeun balik, ku ieu Nyi Argapura geus tangtu kami teh gering, jeung moal cageur deui, kadangkala pondok umur geus karasa ayeuna dibere imut saeutik, pikir kami  lumenyap kek kapaehan.”

Unjukan Kusumah Rara sarta bari melas melis, “Sim kuring kenging awisan asup ka Banjaransari panuhun jisim kuring ngan hampura anu agung, sareng sim kuring moal purun nyaba nyaba deui kana taman manawi teu jadi tuman. Amung timbangan gamparan, anu diajeng ku sim kuring da jamak bubuhan menak, ngahampura sareng adil ka sadayana abdi, anu kasiput ku luput, manawi di ahirna, menggah diri jisim kuring, werat males kasaean ka gamparan. Amung sim kuring cacadna rea margina katampik lamun ngabdi ka gamparan. Wantu kuring urang sisi sarta lain sasami, ngangken sobat ka nu agung. Ngan manawi gamparan aya kalunturan galih kersa ngangken sobat dalit ka pun bapa”.

Ku Suwangsa geus kamanah kabeh pihatur Rengganis. Suwangsa geus samar rasa sarta teu pegat ningali. Narpatmaja ngalahir, “Sukur sewu lamun enung aya niat ngawula ka nu nista papa miskin. Lamun enya kumaha bae nya rasa. Palangsiang sambewara omongan Nyai ka kami. Lawbang panyandet kuda, manawi eneng ngapusi.”

Matur Retna Rengganis, nyembah sarta bari imut ngawalon ku basa jawa jengkel dituding ngapusi, “Lahir batin Pangeran atur kaula.”

Ngalahir Raden Suwangsa, “Eh Nyai Retna Rengganis, ayeuna urang barempang pasini masing ngajadi manjing sudara wedi, tegesna asup kadulur, saha anu pantes raka, jeung saha nu pantes rai.”

Enggal matur sosocaning Argapura, “Manawi sapuk jeung kersa, dupi panuhun sim kuring gamparan nu kapiraka. Sim kuring nu kapirai.”

Kalangkung rena galih Raden Suwangsa ngarungu pihatur rai anyar, “Daun cau nu geus garing, kaleresan Nyai kalangkung peryoga. Eneng teh tos carogean?”

Ngawalon Ratna Rengganis, “Sim kuring masih parawan, teu acan gaduh salaki.”

Narpatmaja ngalahir, “Da engkang oge nya kitu, bujang tacan garwaan, lalaki taya kabeuki.”

Lajeung mesem Rengganis leleb kacida. Sarta ngucap jero manah Kusumah Rara Rengganis, “komo teuin ieu jalma, bohongna mun jadi istri.”

Narpatmaja ngalahir,  Rengganis diwujuk wujuk , “Mirah dunungan engkang, cik meuting bae sapetuing!”

Pok ngawalon Rengganis bari ngeletan, “Lah, engkang kuring kumaha?lain ku teu hayang meuting ngan kuring tacan haturan ka rama di Argapuri, manawi jajaga deui sakersa Engkang diturut, sim kuring ayeuna mah ngan seja nyuhunkeun widi jeung pangdunga mugi salamet di jalan. Dek mundur ka Argapura. Manawi widi sim kuring diantos antos ku rama.”

Raden Suwangsa pok deui, “Meuting bae sapeuting, wandoning rama di gunung, montong jadi karempan da moal enya tingali.” Bari maju Suwangsa dek newak tangan. Dewi Rengganis peryatna, caringcing teu ngeunah cicing, barang dek ditewak ngejat, sarta ngomong, “Sanggeuk teuing!” Barang dek ditewak deui, Nyi Rengganis ngapung. Raden Iman suwangsa lajeng rubuh henteu eling, Narpatmaja kalengerna lila pisan. 

Aya watara tilu jam, kakara usik ngalilir, ngahuleng barina tanggah geregetan ku Rengganis, angin Dewi Rengganis anu jadi buah kalbu. Raden teu kendat kendat ka awang awang ningali lajeng bae lumebet ka papanggungan. Katingal bae gandangna paningkah Retna Rengganis kelinga bae imutna, manis sarta kempot pipi. Suwangsa dina katil kana bantal ebog nyuuh jeung nyusutan cisoca, kemutan ka semah mulih. Narpatmaja manahan kanti kedanan.



Minggu, 02 Juni 2019

Kisah Siti Bidasari (Syair Bidasari), hikayat Melayu

Syair Bidasari

Oleh : Tuti Munawar (Ass Kurator Pernaskahan Museum Pusat Jakarta) 

Dep P &  K



Bismillah itu permulaan kalam
dengan nama Allah Khalikul Alam
melimpahkan rahmat siang dan malam
pada segala mukmin dan Islam

Dengarkan tuan suatu riwayat
Raja di desa negeri Kembayat
Dikarangkan fakir jadi hikayat
disajakkan dengan syair ibarat

Adalah raja sebuah negeri
Sultan Angkasa bijak bestari
asal Baginda raja yang bahari
limpah adil pada dagang santeri

Berapa lamanya di dalam kerajaan
Baginda pun duduk dalam kesukaran
adalh kepada suatu masa
melayanglah unggas dari angkasa

Unggas Garuda sangat perkasa
Baginda pun lari menanggung siksa
Garuda menyambar ke dalam desa
habislah negeri rusak binasa

Disambar Garuda burung angkasa
kelam kabut sabur termasa
Baginda di balai diadap menteri
mendengarkan gempar seisi negeri

Terkejut bertitah Baginda sendiri
mengapa kamu datang berlari lari
Daulat Tuanku duli seri pada
Patik sekalian dihambat Garuda

Setelah Baginda mendengarkan sembah
wajah yang manis pucat berubah
Baginda berangkat dada ditebah
hati susah susah gelabah

Hulubalang menteri larilah fana
Baginda pun masuk ke dalam istana
Tuan puteri pusparatna
htinya terkejut terlalu bena

Puteri itu hamil dualapan bulan
bertambah sangat kesukaran
dibawa Baginda turun berjalan
suatu pun tidak perbekalan

Setelah sampai ke dalam hutan
serta berat dengan ketakutan
Baginda tidak tahukan jalan
Puteri pun sakit dengan keberatan

adapun akan tuan puteri
oleh Baginda dipimpin jari
tidak terbawa badan sendiri
kasihan melihat laki isteri

terlalu belas di dalam hati
sepanjang jalan singgah berhenti
barang kehendak dituruti
bertemu sungai singgah mandi

Bersambung ke Raja Tembayat menemukan sebuah negeri

Si Pahit Lidah Alias Serunting Sakti Bag 2

Di Padang Langgar jauh di kota
Ke sini situ masyhurlah warta
Aur melingkar bagai melata
Batu yang besar kelihatan nyata

Jika ditapaki tempatnya itu
dengan tawakkal pada yang satu
Harimau putih datanglah tentu
begitu dikabarkan orang situ

Si macan putih disebut orang
hidup matinya tiada terang
suka berlaku hebat dan garang
kekal hidupnya sampai sekarang

Harimau itu konon kabarnya
darah si Pahit Lidah asalnya
dalam berkelahi luka badannya
sebab terbuka rahasia ilmunya

Darah mengalir lalu menjelma
jadi harimau binatang utama
harimau putih diberi nama
gagah berani bagai panglima

sampai di sini saya berhenti
untuk keterangannya sebagai bukti
sekarang cerita baik diganti
agar tercapai maksud di hati

MEMBUAT HUMA

Si Pahit Lidah jadi cerita
begini konon permulaan kata
Gunung Dompu indah jelita
sedap rupanya dipandang mata

Keliling gunung bukit berdiri
sebagai pagar kanan dan kiri
tampaknya hijau berseri seri
sedang dipandang sepanjang hari

Gunung di lingkar bukit barisan
rupanya tiada berkeputusan
Pagaralam tampak bagai lukisan
mata memandang tak bosan bosan

Pandang ke bukit padang menghalang
luas yujana ditumbuhi lalang
ditimpa sinar amat cemerlang
warna kuning mas gilang gemilang

Padangnya luas dilingkar hutan
hebat rupanya bukan buatan
Bukit Tajam nyata kellihatan
bagai tersembul dari daratan

di Pagaralam dekat disitu
jalan bersimpang banyak berbatu
adalah pula sungai suatu
Sungai Selangis namanya itu

Tidak jauh di sebelah kiri
sebuah kampung ada terdiri
Tangga Manik nama diberi
dikenali orang keliling negeri

Disana dulu menurut warta
adalah tempat seorang dewata
Rie Tabing namanya nyata
kuat dan kebal tubuh anggota

sebidang tanah tinggi letaknya
dilingkari aur sekelilingnya
situ Rie Tabing tempat tinggalnya
bersama sama dengan isterinya

Rie Tabing garang berani mati
gagah perkasa bukan seperti
bijak dan arip lagi pun sakti
mashur sebagai pahlawan sejati

Isteri Tabing seorang dara
Serunting Sakti punya saudara
dua beradik nyata ketar
tidak lain sanak saudara

Bersambung ke Rie Tabing Iri hati pada Serunting Sakti

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 Dongeng Sebelum Tidur is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger